Apakah Keturunan Pezina akan jadi pendosa betulkah ada ada karma dari perbuatan zina

Assalamualaikum wr wb

Semoga ustadz dan semua staf alkhoirot selalu diberi keberkahan dan kesehatan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Izin lanjut curhat ustadz, semoga ustadz berkenan memberikan jawaban atas persoalan saya yang kedua ini.

Saya akan menceritakan keadaan yang tidak baik yang pernah dialami istri saya dan keluarganya, dan ini menjadi persoalan bagi saya. Sebelumnya saya tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, dan baru pertama kali saya bercerita di sini, niat saya hanya ingin mengadukan permasalahan saya pada ulama.

Jadi dulu ketika saya berkenalan via hape dengan istri saya (yang pada saat itu masih masa perkenalan), istri saya bercerita bahwa dia punya masa lalu yang sangat kelam. Dia pernah berzina selama 3 tahun dengan mantan pacarnya secara rutin. Hidup bersama pacar dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Bahkan dengan mantan pacar yang lainnya pun pernah berzina.
Saya pun menikahinya, menerima keadaan dia yg seperti itu karena ia punya niat untuk berhijrah dan siap dibimbing menjadi lebih baik…

Setelah menikah, saya sering berkumpul dengan keluarga istri saya, sering juga ikut menyimak obrolan2 santai mereka. Dan suatu ketika dalam obrolan santai keluarga istri, tidak sengaja saya mendengar berita negatif tentang keluarga istri saya, yang membuat saya shock, tertegun, dan sungguh tidak menyangka. Ternyata bukan hanya istri saya saja yang pernah berzina, keluarga istri sayapun banyak yang pernah berzina.

Mulai dari kakak istri saya, (kakak istri saya perempuan), mengakui dan bercerita pada istri saya, waktu sekolah SMP pernah berzina dengan pacarnya, dan setelah lulus sekolah pun pernah bekerja di tempat pijat plus plus.

Sepupunya, seumuran dengan kakak istri saya, pernah berzina dengan pelanggan pijat plus plusnya hingga hamil dan mempunyai anak. Sempat dinikahi oleh pelanggannyaa itu tapi kemudian bercerai.

Lalu paman bungsunya (anak terakhir kakek mertua), berzina di rumah kakak istri saya, dan diketahui oleh istri saya waktu sebelum menikah dnegan saya. Kala itu paman bungsu sering tinggal di rumah kakak istri saya untuk bantu2 pekerjaan rumah, tapi dia sering mengajak pacarnya ke dalam rumah. Lalu paman bungsu menikahi pacarnya itu setelah 3 bulan kehamilan pacarnya, menikah MBA (married by accident), anaknya pun sekarang ada.

Ada lagi dua paman lainnya, (dua duanya adik ibu mertua saya), yang satu MBA juga, yang satunya pernah menikah tapi bercerai, dan sering “jajan” di luar.

Suatu ketika keluarga ibu mertua sedang menyindir paman bungsu, yang menikah MBA itu, disindir dikatakan bodoh karena ia zina sampai kebobolan, dan tidak memakai pengaman. (dari obrolan ini saya menangkap berarti kalo zina dengan pengaman dan tidak sampai kebobolan, dianggap tidak apa2 dong oleh keluarga ini, wah keterlaluan nih, gumam saya). Lalu mama mertua pun mengatakan bahwa dulu bapak (kakek mertua saya) suka main perempuan. Jadi mungkin wajar turun ke anak2nya, termasuk mama sendiri. Dan mama mertua berpesan, “kalian (istri saya dan kakak istri saya) jangan sampe kayak mama! Cukup mama saja. Kalian jangan! (Jangan sampai pernah berzina)”
Mama mertua tidak tau bahwa anak2nya pun pernah berzina dua2nya.

Dari obrolan2 mereka itu, yang saya tangkap, keluarga istri saya seperti tidak asing dengan hal perzinahan, seperti tidak menganggap zina sebagai dosa besar yang seharusnya dianggap sangat tabu bagi keluarga muslim.
Karena dalam keluarga saya dan lingkungan saya sedari kecil, zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat tabu, yang sangat dijauhi dan dianggap hina orang yang melakukannya. Sekedar informasi, saya ini perantauan di salah satu kota besar, berasal dari kampung, dari kecil sampai remaja berada dalam didikan yang agamis.

Dari semua kejadian yang menimpa istri saya dan keluarganya, yang menurut saya itu saling berkaitan, saya ingin bertanya kepada ustadz,

1. Apakah karma zina dapat turun temurun? Dapat berimbas pula pada anak keturunan?

Saya pernah melihat meme/gambar tulisan yang disandarkan pada Imam Syafii yang isinya karma/akibat dosa zina bisa turun ke anak keturunan. Saya lampirkan juga meme/tulisan bergambar tsb.
Melihat dari keadaan keluarga istri saya yang begitu, jika disangkutkan dengan meme yg saya baca, ada benarnya juga. Mulai dari kakek mertua, anak2 kakek mertua, hingga cucu2 kakek mertua, pernah berzina, seolah ini adalah karma yang turun temurun (walau tidak semua anak dan cucu kakek pernah berzina, tapi sangat banyak yang pernah berzina ini).

2. Dari kejadian ini pula saya mempunyai keraguan untuk melanjutkan pernikahan dengan istri saya, selain karena persoalan pertama yang saya ceritakan sebelumnya, juga karena khawatir apabila suatu saat saya punya anak dari istri saya ini, anak sayapun dapat terkena imbas ibunya (bisa terperosok zina pula), mengingat masa lalu istri saya yang sangat kelam, orang tua istri saya, dan kakek istri saya, juga keluarga istri saya yang lainnya.
Jadi bila dikatakan pada persoalan pertama sebaiknya saya tetap bertahan dengan istri saya ini, saya tetap ragu untuk melanjutkan karena persoalan yang kedua ini. Khawatir keturunan saya kelak terkena imbas zina ibunya yang pernah berzina 3 tahun lebih, dan keluarga lainnya dari dari ibunya.
Jadi bagaimana ustadz, sebaiknya saya tetap berlanjut atau tidak dengan istri saya atas persoalan yang kedua ini…..?
Mohon pencerahan, nasihat dan arahannya ustadz…

3. Apakah tobat dari zina cukup dengan berhenti dari melakukan perbuatan zina itu sendiri, atau harus bagaimana? Bagaimana cara benar2 bertobat dari perbuatan zina agar terhindar dari keburukan/malapetaka/karma zina?
Saya lihat istri saya memang telah berhenti berzina, diapun menyesalinya dan tidak ingin lagi berzina. Tapi dia bermalas2an ibadah dan tidak mengerjakan sholat, banyak sholat yang tertinggal, puasa banyak tertinggal. Apakah istri saya sudah termasuk benar2 tobat dari zina? Atau karena masih malas2an ibadah dia belum termasuk benar2 tobat dari zina?

4. Setelah mengalami beberapa persoalan rumah tangga, saya jadi berpikir,
Apa sebenarnya esensi dalam berumah tangga ketika menghadapi persoalan rumah tangga?
a. Bertahan dalam ketaatan syariat,
Sehingga pernikahan harus dipertahankan selama pasangan berada dalam ketaatan syariat (minimal menjaga rukun Islam) dan boleh berpisah dengan pasangan apabila ketaatan pada syariat ia tinggalkan,
Atau,
b. Bertahan apapun yang terjadi,
Sehingga pernikahan harus dipertahankan apapun yang terjadi, (tidak mengapa pasangan jarang sholat/puasa) selama tidak selingkuh dan tidak ada KDRT. Rumah tangga begini yang saya dapatkan dari orang pada umumnya.

Sekian curhatan saya ustadz,
Mohon maaf panjang lebar ustadz,
Semoga ustadz berkenan memberikan jawaban dan pencerahan atas semua persoalan saya.

Terimakasih banyak.

Wassalamu’alaikum wr wb

JAWABAN

Dosa ditanggung masing-masing individu

1. Dari perspektif agama, sebenarnya tidak ada karma dalam arti yang anda maksudkan. Al-Quran tegas menyatakan dalam QS. An-Najm 53:39

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Artinya: “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Lebih spesifik lagi dalam QS. An-Najm 53:38 Allah berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

Artinya: “Yaitu bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain).”

Dalam nada serupa juga disebut dalam QS Fatir 35:3 di mana Allah berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ

Artinya: “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.”

Adapun hadis yang menyatakan:

{بُرُّوا آبَاءَكُمْ تَبُرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ وَعِفّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ}

Maka arti yang sebenarnya dari hadis tersebut adalah demikian: “berbaktilah kepada orang tua kalian niscaya anak-anakmu kelak akan berbakti padamu, dan jagalah harga diri dan kehormatan kalian niscaya istrimu akan begitu pula”

Pernyataan Imam Syafi’i bahwa Zina adalah hutang yang akan dibayar keturunannya

Sedangkan ucapan Imam Syafi’i seperti yang ada pada image yang anda sertakan itu memang berasal dari pernyataan Imam Syafi’i dalam sebuah syair yang lengkapnya sbb:

عُفّوا تَعُفُّ نِساؤُكُم في المَحرَمِ *** وَتَجَنَّبوا ما لا يَليقُ بِمُسلِمِ A

إِنَّ الزِنا دَينٌ فَإِن أَقرَضتَهُ *** كانَ الوَفا مِن أَهلِ بَيتِكَ فَاِعلَمِ B

Artinya:

A. Jagalah harga diri dan kehormatan kalian niscaya istrimu akan menjaga kehormatanmu. Jauhilah perbuatan yang tidak pantas bagi seorang muslim.

B. Zina adalah hutang. Apabila engkau menghutangkannya, maka pelunasannya dari keluargamu.

Pada bait kedua syair tersebut memang Imam Syafi’i membuat pernyataan seakan seorang pezina akan mendapat balasan terjadinya perzinahan pada keluarganya. Namun pernyataan Imam Syafi’i itu dalam konteks fenomena sosial: “bahwa orang tua pendosa biasanya akan menurunkan anak keturunan yang pendosa juga.”

Jadi, ini sama sekali bukan karma. Karena, anak seorang pendosa bisa saja menjadi orang baik bahkan menjadi ulama kalau dia tinggalnya di lingkungan baru yang baik. Begitu juga sebaliknya, anak seorang ulama bisa jadi pendosa kelak apabila dia hidup di lingkungan yang buruk. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

2. Berpisah adalah pilihan terbaik bagi anda karena dua alasan: a) lingkungan buruk yang akan dihadapi oleh anak-anak anda; b) ketentraman dan kebahagiaan anda sendiri yang sulit tercapai apabila tetap bersama dia.

3. Bertaubat dari zina adalah berhenti dari zina dan menambalnya dengan banyak amal perbuatan yang baik. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

4. Pilih yang a. Baca detail: Esensi Rumah Tangga

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *