Cara mengatasi konflik dengan orang tua

Cara mengatasi konflik dengan orang tua

Assalamualaikum,

Saya wanita 29 tahun, menikah. Saat ini saya sedang kalut karena baru saja mengalami pertengkaran dengan orangtua saya sehingga membuat saya cukup malu dikantor, karena “insiden”nya terjadi di kantor saya. Tapi sebelumnya saya ingin menjelaskan dulu awal mula permasalahan

Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Selama ini sayalah yang paling sering dilibatkan oleh orangtua saya untuk membantu segala urusan. Sedangkan kakak saya atau adik saya sama sekali jarang terlibat.

Akan tetapi, saya merasa orangtua saya tidak menganggap hal itu. Bagi saya, saya sama sekali tidak merasa keberatan untuk menjadi anak yang berguna bagi orangtua saya, akan tetapi dari sikap mereka yang menganggap saya sama saja dengan kedua saudara saya yang acuh tak acuh, kadang membuat saya kesal. Selama ini saya lah juga yang harus senantiasa mengalah dengan kedua saudara saya, padahal saya ini kan juga posisinya sebagai adik, tapi saya harus mengalah dengan kakak saya disaat dia bersikap egois.

Menurut saya, orangtua saya selalu memaklumi keegoisan saudara-saudara saya, akan tetapi kalau dengan saya, tidak ada pemakluman sama sekali. Sekali saja saya bersikap egois, orangtua saya langsung membuat saya merasa jadi anak yang paling jahat dikeluarga. Sementara kalau kakak atau adik saya yang bersikap egois, mereka selalu ada pembelaan. Dari dulu saya merasakan seperti itu.

Selama ini saya juga yang sedikit-sedikit membantu keuangan keluarga dan yang sudah mandiri. Sementara kakak saya gajinya saja hampir tidak cukup memenuhi kebutuhannya sendiri, apalagi membantu orangtua. Adik saya juga masih kuliah, masih bergantung 100% pada orangtua. Akan tetapi tetap saja orangtua saya menganggap suatu saat kakak atau adik saya lah yang akan membantu mereka.

Meskipun pada kenyataannya hingga detik ini masih juga mereka tidak membantu apa-apa untuk kedua orangtua saya. Lagi-lagi saya merasa mereka sama sekali tidak menghargai apa yang sudah saya usahakan. Mereka bisa senantiasa berkhusnudzon dengan saudara saya, tapi dengan saya seringnya hanyalah suudzon, tidak peduli seberapa sering mereka mengandalkan saya untuk ini dan itu.

Dan untuk masalah yang sekarang saya hadapi, saya baru saja membeli sebuah mobil baru,. sementara orangtua saya baru saja jual mobil dan berencana untuk membeli mobil baru juga. Akan tetapi, karena prosedur pembelian mobil cukup ribet sehingga mobil baru orangtua

saya perlu waktu seminggu lebih untuk bisa diserahkan ke pembeli. Jadilah mereka mengandalkan saya lagi untuk meminjami mobil baru saya selama mereka masih belum punya kendaraan. Saya sama sekali tidak masalah dengan itu. Karena saya juga sadar diri, selama saya belum punya kendaraan, saya ya juga sangat sering pinjam kendaraan orangtua. Kakak dan adik sudah punya kendaraan masing-masing dibelikan oleh oangtua saya. Tinggal saya yang waktu masih belum punya kendaraan dan masih harus pinjam orangtua.

Singkat cerita, saya memancing reaksi mereka dengan bilang “alhamdulillah ya saya udah punya kendaraan, disaat sekarang jadinya bisa membantu kalian. Gimana coba kalau saya belum punya kendaraan”
Tapi seperti biasa, jawaban mereka adalah “yah, kita juga bisa kok naik angkot, dan lain-lain”

Disitu saya merasa sangat kesal. Lagi-lagi mereka tidak menganggap kemudahan mereka dari saya untuk meminjami mobil. Seolah-olah tanpa saya juga mereka bisa naik angkot dan lain-lain.

Akan tetapi keesokan harinya ayah saya lagi-lagi bilang mau pinjam mobil untuk urusan ini dan itu seharian. Nah, intinya mereka kan membutuhkan bantuan saya tapi kenapa sih harus sombong dan gengsi untuk mengakui kalau saya ini membantu mereka.

Tapi suasana hati saya sama mereka sudah terlanjur rusak. Keesokan harinya, disaat saya sudah diantar sampai ke kantor oleh orangtua saya dengan menggunakan mobil saya, saya bersikap acuh tak acuh ke mereka dan langsung masuk ke kantor. Rencananya saya diantar ke kantor, setelah itu mereka bawa mobil saya untuk urusan-urusan.
Tapi karena sikap saya, mereka jadi tersinggung dan sakit hati. Sehingga mereka akhirnya jadi naik angkot dan tidak pakai mobil saya. Jadilah saya merasa bersalah lagi. Dan saya cukup malu dikantor karena kejadian tersebut dilihat beberapa orang.

Saya sering mengevaluasi diri saya juga. Apakah saya ini memang anak yang terjahat di keluarga, karena itulah predikat yang saya dapatkan dari orangtua saya. Akan tetapi saya yang paling sering dilibatkan untuk urusan keluarga. Permasalahannya adalah orangtua saya seperti selalu melupakan hal itu. Kalau memang saya dianggap yang paling jahat, ya jangan dong melibatkan saya terus, tapi pada kenyataannya saya yang paling sering membantu mereka sementara saudara saya yang lain bebas untuk tidak berbuat apa-apa.

1. Apa yang harus saya lakukan?
2. Apakah memang saya ini anak yang jahat?

3. Apakah memang hati saya ini tidak tulus. Jujur, saya selalu ingin berguna bagi orangtua saya , akan tetapi terkadang mereka membuat saya kesal dengan sikap mereka yang seperti tidak menghargai keterlibatan saya. Sepertinya lebih baik menjadi egois saja seperti saudara-saudara saya karena toh mereka tetap berkhusnudzon dengan yang egois.

4. Apakah saya salah untuk merasa kesal seperti ini?

Mohon bantuannya untuk menjawab permasalahan yang sekarang saya hadapi ini…
Terima kasih

Wassalamualaikum WR WB

JAWABAN

1. Yang harus anda lakukan adalah meningkatkan rasa ikhlas dan rasa keinginan berbakti anda saat anda membantu orang tua atau saat diperlukan bantuannya oleh mereka. Baik berupa bantuan tenaga atau bantuan pinjam mobil, dll. Salah satu bentuk peningkatan keikhlasan itu adalah sbb:

a) dengan tidak menonjolkan diri saat anda berhasil membantu mereka. Ucapan “alhamdulillah ya saya udah punya kendaraan ….” termasuk bentuk penonjolan diri. Setidaknya itu yang dirasakan ortu anda. Cara terbaik adalah dengan tidak mengucapkan kalimat apapun (mengingat orang tua yang sensitif).

b) dengan menawarkan jasa bantuan sebelum dimintai bantuan oleh mereka. Apapun bentuk bantuannya. Dan tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih mereka. Biarkan Allah yg membalas pahala atas kebaikan dan bakti Anda.

c) dengan tidak mengingat-ngingat apa yang anda berikan pada mereka. Sebaliknya, selalu mengingat apa yang mereka berikan pada Anda. Mulai dari dalam kandungan sampai anda bisa sekolah dan bekerja.

2. Anda anak yang baik dan menjadi andalan keluarga. Ekspektasi orang tua pada anda sangat tinggi jauh melebihi dua saudara yang lain. Oleh karena itu, anda harus mempersiapkan mental akan hal ini. Termasuk siap mental untuk tidak iri pada kedua saudara anda yang dibiarkan saja segala perilakunya.

3. Anda sudah tulus. Hanya saja, perlu peningkatan level ketulusan itu seperti disebut dalam poin 1. Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

4. Kesal itu manusiawi asalkan jangan ditampakkan di depan orang tua atau di depan siapapun.

Tanya Islam pada ahlinya, klik di sini.

Tinggalkan Balasan