Cara Menyucikan Najis Di Kemaluan

Cara Menyucikan Najis Di Kemaluan

Assalamu’alaikum

Izin bertanya permasalahan najis pak ustadz.

Sehabis kencing lalu saya cebok dengan mencuci ujung kemaluan saya, kebetulan wc di rumah saya menggunakan wc duduk dan ceboknya menggunakan air selang yang biasanya disediakan buat cebok. Saat mencebok ujung kemaluan, saya mengangkat kemaluan saya untuk memastikan ujung kepala kemaluan itu terbasuh dengan air, saat membasuh kemaluan air basuhannya mengalir ke buah zakar. Nah pada saat itu saya lupa apakah saya sudah membasuh buah zakar saya atau belum. Tetapi kebiasaan saya, saya mencuci keseluruhan bagian bawah saya dengan shower, tetapi kali ini saya berfikiran untuk tidak berlebih-lebihan agar tidak makruh. Jadi saya membasuh bagian yang terasa terkena percikan air kencing saja dengan shower dan saya lupa apakah buah zakar saya sudah saya cuci atau belum karena tadi teraliri air cebok. Kemudian karena tidak terfikir oleh saya masalah buah zakar tadi, setelah itu saya juga lupa apakah tadi saya mengelap seluruh begian bawah saya dengan handuk atau saya langsung pakai celana karena jika saya mengelap bagian bawah saya berarti saya mengelap najis karena saya lupa apakah tadi saya sudah membasuh buah zakar yang teraliri air cebok atau belum.

Lalu kemudian saya mandi dan mengeringkan badan dengan menggunakan handuk yang sudah saya pakai sebelumnya tadi, kemudian saya sholat dan setelah sholat saya baru terfikirkan kejadian tersebut, apakah tadi saya sudah mencuci buah zakar atau belum, apakah saya tadi menggunakan handuk saat selesai kencing atau langsung pakai celana. Dari sini timbul stress saya pak ustadz, saya stress apakah pakaian sholat saya bernajis, sejadah saya bernajis karena saya lupa apakah tadi sudah mencuci buah zakar dan apakah tadi saya mengeringkan bagian bawah saya menggunakan handuk, jika menggunakan handuk otomatis seluruh badan saya menjadi najis dan pakaian sholat, sejadah serta barang-barang yang saya pegang menjadi najis, tetapi disini saya lupa bahwa apakah tadi saya sudah mencuci buah zakar atau belum.

Jika ternyata bernajis, apa yang harus saya lakukan kepada benda yang terpegang oleh saya ? Bagaimana dengan pakaian dan sejadah sholat saya ?

Mohon maaf sebelumnya pak ustadz saya tidak bisa menguraikan pertanyaan secara point, tetapi pertanyaannya ada pada cerita saya, saya menjadi stress karena hal ini dan (maaf) saya merasa sangat terbebani karena hal ini. Mohon solusi yang terbaiknya pak ustadz.

JAWABAN

Pertama, menurut madzhab Hanafi dan Maliki, apa yang anda lakukan yakni membasuh kemaluan satu kali itu sudah cukup. Air sisanya yang sampai ke buah zakar itu tidak najis. Karena, istinjak atau cebok itu itu sendiri hukumnya sunnah muakad. Artinya, tidak wajib. Itu artinya, seandainya tidak cebok pun tidak apa-apa.

Al Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahib Al-Arba’ah, hlm. 1/75, menyatakan:

الحنفية قالوا : حكم الاستنجاء أو ما يقوم مقامه من الاستجمار . هو أنه سنة مؤكدة للرجال والنساء . بحيث لو تركها المكلف فقد أتى بالمكروه على الراجح . كما هو الشأن في السنة المؤكدة : وإنما يكون الاستنجاء بالماء أو الاستجمار بالأحجار الصغيرة ونحوها سنة مؤكدة . إذا لم يتجاوز الخارج نفس المخرج والمخرج عندهم هو المحل الذي خرج منه الأذى وما حوله من مجمع حلقة الدبر الذي ينطبق عند القيام ولا يظهر منه شيء
والحاصل أن الحنفية يقولون إن إزالة ما على نفس المخرج سواء كان معتادا كبول وغائط أو غير معتاد كمذي وودي ودم ونحو ذلك سنة مؤكدة سواء أزيل بالماء . أو بغيره ويقال لهذا : استنجاء أو استجمار أو استطابة أما ما زاد على نفس المخرج فإن إزالته فرض ولا يسمى استنجاء بل هو من باب إزالة النجاسة

Artinya: “Menurut madzhab Hanafi, hukum istinjak (cebok dengan air) atau yang semakna yakni istijmar (cebok pakai batu) hukumnya sunnah muakad bagi lelaki dan perempuan. Dalam arti, apabila tidak melakukan maka dia telah melakukan perkara makruh menurut pendapat yang rajih (unggul) sebagaimana dalam hal (meninggalkan) sunnah muakad. Bahwasanya istinjak dengan air atau istijmar dengan batu kecil itu hukumnya sunnah muakad dengan syarat apabila (kencing atau kotoran) yang keluar tidak melewati makhraj (tempat keluar)nya. Yang dimaksud makhraj adalah tempat keluarnya kotoran/kencing seperti lubang dubur yang tertutup ketika berdiri dan tidak tampak sesuatu pun.

Intinya, madzhab Hanafi berpendapat bahwa menghilangkan perkara yang terdapat pada makhraj, sama saja yang keluar itu biasa terjadi seperti kencing dan feses atau tidak biasa seperti madzi, wadi, darah, dll hukumnya sunnah muakad. Sama saja dihilangkan dengan air atau selain air. Ini disebut istinjak (apabila dengan air), istijmar (apabila dengan batu atau sejenisnya), dan istitobah (cebok secara umum). Adapun apabila perkara yang keluar itu melebihi makhraj, maka menghilangkannya hukumnya fardhu (wajib) dan tidak disebut istinjak, melainkan masuk kategori menghilangkan najis.”

Madzhab Maliki juga berpendapat serupa, yakni istinjak itu sunnah bagi lelaki. Sedangkan bagi wanita istinjak dengan air itu wajib satu kali siraman. Di halaman yang sama, Al Jaziri menyatakan:

المالكية قالوا : الأصل في الاستنجاء ونحوه أن يكون مندوبا فيندب لقاضي الحاجة أن يزيل ما على المخرج بماء أو حجر إلا أنهم قالوا : تجب إزالته بالماء في أمور : منها في بول المرأة سواء كانت بكرا أو ثيبا فيجب عليها أن تغسل كل ما ظهر من فرجها حال جلوسها سواء تعدى المحل الخارج منه إلى جهة المقعد أو لا إلا أنه إن تعدى المحل وأصبح ذلك لازما بحيث يأتي كل يوم مرة فأ كثر فإنه يكون سلسا يعفى عنه ومنها أن ينتشر الخارج على المحل انتشارا كثيرا بحيث يزيد على ما جرت العادة بتلويثه كأن يصل الغائط إلى الألية ويعم البول معظم الحشفة وفي هذه الحالة يجب غسل الكل بالماء بحيث لا يصح الاقتصار على غسل ما جاوز المعتاد

Artinya: Madzhab Maliki menyatakan: Hukum asal dalam istinjak dan yang serupa adalah sunnah. Sunnah bagi pelaku menghilangkan kotoran yang berada pada makhraj (tempat keluarnya kotoran) dengan air dan batu. Hanya saja mereka menambahkan: wajib menghilangkan kotoran itu dengan air dalam beberapa situasi, antara lain: a) dalam kasus kencing wanita baik perawan atau janda. Maka wajib bagi wanita membasuh perkara yang tampak dari kemaluannya ketika duduk. Sama saja kotoran/kencing itu melewati tempat keluar sampai tempat duduk atau tidak. Hanya saja apabila melewati tempat keluar secara terus teratur dalam arti itu terjadi setiap hari satu kali atau lebih maka itu masuk kategori beser yang dimaafkan; b) kotoran / kencing yang keluar itu menyebar dengan sebaran yang meluas melebihi kebiasaan seperti kotorannya sampai pada pantat (bokong) atau kencing menyebar sampai ke sebagian besar kawasan hasyafah (kepala penis) maka dalam hal ini wajib membasuh semuanya dengan air dan tidak sah hanya membasuh pada bagian yang melewati kebiasaan.

Kesimpulan: Cebok setelah kencing selagi kencingnya itu tidak menyebar maka cukup dengan membasuh satu kali saja. Dan air bekas cebok yang menyebar dianggap tidak najis. Sedangkan apabila air kencingnya sampai menyebar, misalnya sampai ke kepala penis, maka apabila sedikit dalam arti tidak melebihi besarnya koin, maka dianggap makfu.

Kedua, menurut madzhab Hanafi, menghilangkan najis yang terlihat (mar’iyah) itu cukup satu kali basuhan air. Itu artinya, air bekas basuhannya tidak dianggap najis. Melainkan disebut air suci yang mustakmal. Najah Al-Halabi dalam Fiqhul Ibadat alal Madzhab Al-Hanafi, hlm. 1/68, menyatakan:

أولاً: النجاسات المرئية: تزول بزوال عين النجاسة عن الجسم أو الثوب أو المكان بغسلها ولو مرة واحدة بشرط أن يُصبَّ الماء عليها أو يكون جارياً،

Artinya: “Najis yang terlihat bisa hilang dengan hilangnya benda najisnya dari tubuh atau dari pakaian atau dari tempat dengan cara membasuhnya dengan air walaupun satu kali dengan syarat airnya disiramkan pada najis tersebut atau airnya mengalir.”

Kesimpulan: Najis ainiyah (yang terlihat) itu cukup dibasuh satu kali apabila benda najisnya hilang. Dan sisa air tidak dianggap najis.
Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Tanya Islam pada ahlinya, klik di sini!

Tinggalkan Balasan