Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Hukum Merubah niat dalam shalat

Hukum Merubah niat dalam shalat

Assalamualaikum.wr.wb
Ustadz saya mau bertanya ttg ibadah sholat.
Saya saat sholat tidak bisa memfokuskan hati dan pikiran, sehingga kadang dalam hati ini muncul ucapan untuk merubah niat/menyebut niat sholat yg lain.

Pertanyaannya bagaimanakah hukumnya? Padahal saya sudah niat di awal sholat dengan penuh tekad, akan tetapi ucapan merubah niat itu selalu membuat saya risau. Baca juga: Shalat 5 Waktu

JAWABAN

Kalau perubahan niat itu tidak disengaja atau timbul karena was-was, maka shalatnya tetap sah. Yang berlaku adalah niat shalat pertama. Ini pandangan mazhab Hanafi. Adapun menurut mazhab Syafi’i merubah niat shalat di tengah shalat hukumnya batal. Anda dapat mengikuti pendapat pertama untuk menghindari was-was.

Baca juga: Kapan anak mulai disuruh Shalat?

Namun ada pengecualian kalau niatnya timbul karena was-was atau tanpa sengaja maka tidak batal walaupun menurut pendapat kedua.

Ulama dari madzhab empat memiliki pandangan yang kurang lebih sama terkait merubah niat shalat saat sedang shalat. Kecuali mazhab Hanafi. Dalam Al Mausuah Al Fiqhiyah, hlm. 9/297, dijelaskan pandangan empat madzhab sbb:

للفقهاء في أثر تحويل النية تفصيل :
ذهب الحنفية إلى أن الصلاة لا تبطل بنية الانتقال إلى غيرها ولا تتغير , بل تبقى كما نواها قبل التغيير , ما لم يكبر بنية مغايرة , بأن يكبر ناويا النفل بعد الشروع في الفرض أو عكسه , أو الاقتداء بعد الانفراد وعكسه , أو الفائتة بعد الوقتية وعكسه . ولا تفسد حينئذ إلا إن وقع تحويل النية قبل الجلوس الأخير بمقدار التشهد , فإن وقع بعده وقبيل السلام لا تبطل .

وعند المالكية : نقل النية سهوا من فرض إلى فرض آخر أو إلى نفل سهوا , دون طول قراءة ولا ركوع , مغتفر . قال ابن فرحون من المالكية : إن المصلي إن حول نيته من فرض إلى نفل , فإن قصد بتحويل نيته رفع الفريضة ورفضها بطلت ـ أي بطلت الفريضة وصارت نفلا ـ, وإن لم يقصد رفضها لم تكن نيته الثانية منافية للأولى . لأن النفل مطلوب للشارع , ومطلق الطلب موجود في الواجب , فتصير نية النفل مؤكدة لا مخصصة .

وعند الشافعية : لو قلب المصلي صلاته التي هو فيها صلاة أخرى عالما عامدا بطلت , فإن كان له عذر صحت صلاته , وانقلبت نفلا . وذلك كظنه دخول الوقت , فأحرم بالفرض , ثم تبين له عدم دخول الوقت فقلب صلاته نفلا , أو قلب صلاته المنفردة نفلا ليدرك جماعة . لكن لو قلبها نفلا معينا كركعتي الضحى لم تصح . أما إذا حول نيته بلا سبب أو غرض صحيح فالأظهر عندهم بطلان الصلاة .

وعند الحنابلة : أن بطلان الصلاة مقيد بما إذا حول نيته من فرض إلى فرض , وتنقلب في هذه الحال نفلا . وإن انتقل من فرض إلى نفل فلا تبطل , لكن تكره , إلا إن كان الانتقال لغرض صحيح فلا تكره , وفي رواية : أنها لا تصح , كمن أدرك جماعة مشروعة وهو منفرد , فسلم من ركعتين ليدركها , فإنه يسن له أن يقلبها نفلا , وأن يسلم من ركعتين , لأن نية الفرض تضمنت نية النفل , فإذا قطع نية الفرض بقيت نية النفل .

ومن هذا التفصيل يتبين اتفاق الفقهاء على أن تحويل نية الصلاة من نفل إلى فرض لا أثر له في نقلها , وتظل نفلا , وذلك لأن فيه بناء القوي على الضعيف , وهو غير صحيح . (انتهى).

Artinya: “Terkait dampak dari merubah niat, ulama fikih merinci sbb:

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat tidak batal oleh niat untuk berubah ke shalat yang lain dan shalatnya tidak berubah. Shalatnya tetap sebagaimana niat yang pertama dengan syarat selagi ia belum takbirotul ihrom dengan niat yang baru. Seperti takbir dengan niat shalat sunnah saat sedang shalat fardhu atau sebaliknya; atau niat bermakmum saat sedang shalat sendirian atau sebaliknya; atau niat shalat qadha saat sedang shalat tepat waktu dan sebaliknya. Perubahan niat itu tidak membatalkan shalat kecuali apabila perubahan niat itu terjadi sebelum duduk terakhir dengan perkiraan waktu tahiyat. Apabila terjadi setelah duduk terakhir dan sebelum salam maka tidak batal.

b) Madzhab Maliki berpendapat: merubah niat karena lupa dari fardhu ke fardhu yang lain atau ke sunnah karena lupa, tanpa bacaan panjang dan tanpa rukuk itu dimaafkan. Ibnu Farhun berkata: mushalli (orang yg shalat) apabila merubah niatnya dari fardhu ke sunnah: i) apabila perubahan niatnya itu bermaksud untuk menghilangkan kefardhuan dan menolaknya maka batal – yakni batal fardhunya dan menjadi sunnah; ii) apabila tidak bermaksud menolak kefardhuan maka niat kedua tidak menghilangkan niat yang pertama. Karena sunnah itu yang dikehendaki bagi syari’. tuntutan yang mutlak itu ada dalam wajib. Maka ia menjadi niat muakkad, bukan khusus.

c) Madzhab Syafi’i berpendapat: Apabila mushalli (orang yg shalat) merubah niat shalat dari yang sedang dia lakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu dampak hukumnya maka batal shalatnya. Apabila karena udzur maka sah shalatnya dan berubah menjadi shalat sunnah. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menduga sudah masuk waktu shalat lalu takbirotul ihrom shalat fardhu dan setelah itu baru menyadari belum masuk waktu shalat lalu dia merubah shalatnya ke sunnah; atau ia merubah shalatnya yg sendirian ke sunnah agar dapat mengikuti shalat berjamaah. Akan tetapi apabila ia merubah niatnya ke sunnah yang tertentu (bukan mutlak) seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah. Adapun apabila merubah niatnya tanpa sebab atau tanpa tujuan yang benar maka menurut pendapat terkuat hukumnya batal shalatnya.

d) Madzhab Hanbali berpendapat: Batalnya shalat itu terjadi apabila mushalli merubah niat dari shalat fardhu ke shalat wajib yang lain. Dalam kondisi ini maka shalatnya berubah menjadi shalat sunnah. Apabila ia merubah niat dari shalat fardhu ke shalat sunnah, maka shalatnya tidak batal tetapi makruh. Kecuali apabila perubahan niat itu untuk tujuan yang benar maka tidak makruh. Dalam satu riwayat dikatakan: bahwa shalatnya tidak sah sebagaimana orang yang dapat mengikuti shalat berjamaah sedangkan dia shalat sendirian, lalu mengucap salam dari dua rakaat agar dapat ikut shalat berjemaah. Maka dalam hal ini sunnah baginya untuk merubah niat ke shalat sunnah dan mengucapkan salam apabila sampai dua rakaat. Karena niat fardhu itu mengandung niat shalat sunnah. Apabila ia memutus niat fardhu maka masih tersisa niat shalat sunnah.

Dari uraian ini menjadi jelas bahwa ulama fikih bersepakat bahwa merubah niat shalat dari sunnah ke fardhu itu tidak ada pengaruhnya dan tetap menjadi sunnah. Hal itu terjadi karena ini berarti membangun yang kuat dari yang lemah itu tidak benar.”

Baca juga: Cara sembuh was-was Shalat

 

Hukum Merubah niat dalam shalat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas