Hukum Najis Suci Babi

Hukum Najis Suci Babi.

Najis mugoladoh anjing dan babi sudah menyebar ke semua lantai.

Saya mohon bertanya ustad.. Saya kerja sebagai ob kantor.. Nah salah satu staf ada yang memakan babi setelah di cuci sendiri oleh dia, wadah atau piring itu percikan nya tersebar di lantai bahkan saya pernah melihat dia buang kuah babi ditong sampah dan percikan nya ada di lantai saya tidak berdaya untuk menyucikanya karena itu kantor dan banyak orang yg lewat .

Bagaimana tentang hukum itu ustad apakah ada jalan lain dan madzhab lain selain imam syafi’i.. Saya bingung cara mensucikan nya karena itu kantor , belum sempat di sucikan saking banyaknya orang yang lewat najis itu ke injak2 hingga menyebar ke semua lantai.. Tiap saya menyapu dan mengepel lantai saya bingung harus bagaimana mohon jawabanya ustad

JAWABAN

Dua pendapat najis babi menurut mazhab Syafi’i

Najis babi itu dalam mazhab Syafi’i ada dua pendapat: najis menengah (mutawasitoh) dan najis berat (mugholazhoh). Pendapat yang menyatakan najis menengah lebih kuat. Dengan demikian, maka apabila najis babi, cukup dibasuh satu kali najisnya. Sebagaimana najis kencing.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 1/448 menyatakan:

وذهب أكثر العلماء إلى أن الخنزير لا يفتقر إلى غسله سبعاً، وهو قول الشافعي، وهو قوي في الدليل

Artinya: Kebanyakan ulama berpendapat bahwa najis babi tidak perlu dibasuh 7 kali. Ini pendapat Imam Syafi’i dan pendapat ini cukup kuat dalilnya.

Al Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/604, menegaskan sekali lagi bahwa babi itu najis biasa.

حاصل ما ذكره أن في ولوغ الخنزير طريقين ( أحدهما ) : فيه قولان وهي طريقة ابن القاص ( أحدهما ) : يكفي مرة بلا تراب كسائر النجاسات ( والثاني ) : يجب سبع مع التراب . ( والطريق الثاني ) : يجب سبع قطعا ، وبه قال الجمهور ، وتأولوا نصه في القديم كما أشار إليه المصنف واعلم أن الراجح من حيث الدليل أنه يكفي غسلة واحدة بلا تراب ، وبه قال أكثر العلماء الذين قالوا بنجاسة الخنزير . وهذا هو المختار ; لأن الأصل عدم الوجوب حتى يرد الشرع

Artinya: Terkait jilatan babi ada dua pendapat: pertama, ada dua pandangan a) cukup dibasuh satu kali tanpa debu seperti najis yang lain; b) wajib dibasuh tujuh kali dengan debu. Kedua, wajib dibasuh tujuh kali. Ini pendapat jumhur madzhab Syafi’i. Mereka (ulama Syafi’iyah) mentakwil (menafsiri) pandangan Imam Syafi’i di qaul qadim sebagaimana isyarah mushannif (Al Syirazi pengarang Al Muhadzab). Ketahuilah (kata Imam Nawawi – red), bahwa yang unggul dari segi dalil adalah (najis babi) itu cukup dibasuh satu kali tanpa debu. Pendapat ini didukung mayoritas ulama yang menyatakan najisnya babi. Ini pendapat terpilih (al mukhtar). Karena yang asal adalah tidak wajib sampai diperintah syariah.

Mazhab Maliki: Babi hidup hukumnya suci

Adapun menurut mazhab Maliki, babi yang hidup itu suci.

Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 3/72, dijelaskan:

وذهب المالكية إلى طهارة عين الخنزير حال الحياة ، لأن الأصل في كل حي الطهارة ، والنجاسة عارضة ، فطهارة عينه بسبب الحياة ، وكذلك طهارة عرقه ولعابه ودمعه ومخاطه .

Artinya: Mazhab Maliki menyatakan bahwa babi itu suci saat hidup. Karena hukum asal pada setiap makhluk hidup adalah suci. Sedangkan najis itu hal baru. Sucinya babi itu karena hidup. Begitu juga suci keringatnya, air liurnya, air mata dan lendirnya.

Mazhab Maliki dan 3 Mazhab lain: Babi mati hukumnya najis

Walaupun babi yang hidup itu suci menurut mazhab Maliki, namun untuk babi yang sudah mati hukumnya tetap najis. Dengan najis yang biasa (bukan najis berat).

Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, hlm. 1/308, menjelaskan pandangan mazhab Maliki:

وكذلك قال المالكية: جميع ما ذكِّي (ذبح) بذبح أونحر أوعقرمن غيرمحرم الأكل طاهر، أما ماحرم أكله كالحميروالبغال، والخيل عندهم، فإن الذكاة لاتعمل فيه وكذا الكلب والخنزير لاتعمل فيه. وكذا الكلب والخنزير لاتعمل فيهما الذكاة، فميتة ماذكر نجسة

Artinya: Mazhab Maliki menyatakan: Seluruh hewan yang disembelih .. selain hewan yang haram dimakan itu suci. Adapun hewan yang haram dimakan seperti keledai, baghal, kuda, sembelihannya tidak berpengaruh begitu juga anjing dan babi sembelihannya tidak mempengaruhi (keharamannya). Maka, bangkai hewan yang disebut adalah najis.

Baca detail: Najis Babi Menurut Empat Madzhab

Kesimpulan

a) Babi hidup hukumnya najis biasa menurut sebagian mazhab Syafi’i dan suci menurut mazhab Maliki.

b) Bagi yang mati hukumnya najis tapi najis biasa (mutawasitoh) dan cara menyucikan bekas babi adalah dengan menyiram air satu kali.

c) Ulama sepakat bahwa daging babi haram berdasarkan QS Al-Maidah 5:3. Namun apakah najis atau suci saat hidup ulama berbeda pendapat.

Penting: Tanya jawab agama Islam

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *