Ucapan suami Akan diurus apakah berakibat talak?

Ucapan suami Akan diurus apakah berakibat talak?

RUMAH TANGGA:

Assalamualaikum wr wb

Pak Ustad saya adalah seorang istri yang sedang belajar agama islam lebih dalam dan salah 1 nya tentang talak. rumah tangga saya sekarang baik baik saja tapi setelah saya membaca tentang talak saya merasa khawatir apakah pernah terjadi talak dalam rumah tangga saya tanpa saya dan suami saya sadari ketika kami bertengkar.

Yang saya tahu talak ada 2 yaitu talak sharih dan talak kinayah.
Alhamdulillah setelah saya mengingat kebelakang perjalanan pernikahan kami, suami saya tidak pernah mengucapkan talak sharih atau talak yang jelas.

Tapi pernikahan kita memang tidak selalu mulus mulus aja, pernikahan kami kerap di warnai dengan pertengkaran juga.

Yang saya mau tanyakan adalah
1. pada sekitar 2 bulan pernikahan kami saya berantem dengan suami saya, saya ngambek lalu suami berucap yauda mau di”urus” saya tidak tau mksdnya apa ? tapi ga lama kita baikan , Apakah kata di urus itu bisa jatuh talak?

2. 1 tahun pernikahan kami saya baru melahirkan dan dalam masa nifas, kami berantem dan saya ingin pergi dari rumah , lalu suami bilang yasudah silakan kalau mau pergi ?
tapi saya tdk jadi pergi dan kami baikan apakah itu jatuh talak ?

3. kami berantem lagi di 2 tahun lebih pernikahan kami, saya komplen dan bilang kamu jahat , suami saya tidak merasa seperti yang saya komplenkan dan dia berucap kalau km kyk gini kamu bisa pulang , saya tanyakan apakah dia punya niat pisah selamanya sama saya tapi suami saya bilang ga ada niat karna dia hanya kesel sama saya dan hanya merespon apa yang saya lakukan, Apakah ini jatuh talak pak ustad ?

4. Sekitar sebulan setelah itu kami berantem lagi lalu suami saya bilang “kalau kamu ga nurut kamu pulang . tapi saya ga pulang ke rumah orang tua , ga lama kita baikan.
Apakah jatuh talak pak ?
Apakah selama pernikahan saya selama saya ga nurut suami saya , jatuhkah talak ?
saya tanya suami saya dia ga ada niat untuk berpisah dengan saya

5. belum lama kami berantem lagi karna kami membahas hal yang sensitif yaitu poligami
intinya saya menangkap suami saya ada niat poligami tapi suami saya membantah dia sama sekali tidak ada niat poligami dan saya di omelin karna saya tidak menangkap informasi secara jelas,
akhirnya dengan emosi saya wa kalau kamu serius ada niat poligami saya “mundur”
trus suami saya marah karna di anggapnya saya tidak mendengarkan dia bahwa dia tidak ada niat poligami dan akhirnya suami saya bilang yauda kl kamu menganggap itu serius yauda .
Apakah itu jatuh talak ?
dan kami sudah baikan , pernikahan kami sekarang baik baik saja.
Pak Ustad dari cerita di atas apakah sudah ada talak yang jatuh ke saya, kalau sudah berapa talak ?
dan apa yang harus saya lakukan kl semisalkan sudah jatuh talak ?
Saya mencintai suami saya , dia laki laki baik dan bertanggung jawab tetapi kdng ada hal atau ada sifat dan sikap suami yang tidak saya sukai smp terkadang saya spontan marah dan suami saya juga jadi ikut marah karena merespon sikap saya. Apakah ada saran untuk rumah tangga kami pak ?
mohon di jawab ya pak karna saya sungguh memerlukan arahan dari bapak.

JAWABAN

1. Tidak jatuh talak.

2. Itu termasuk talak kinayah. Kalau ada niat dari suami maka jatuh talak. Silahkan konfirmasi ke suami ada atau tidaknya niat talak saat mengucapkan hal tersebut.

3. Tidak jatuh talak karena suami sudah jelas menyatakan tanpa ada niat.

4. Tidak jatuh talak. Itu bukan talak mualaq (talak kondisional). Karena talak mualaf biasanya memakai kata yang sharih. Baca detail: Talak Muallaq (Kondisional)

5. Ucapan “Ya udah” itu masuk kinayah. Kalau tidak ada niat, tidak jatuh talak.

Kesimpulan: Dari kasus-kasus anda, tidak ada satupun pertengkaran dan ucapan suami yang berakibat talak secara pasti. Karena, semuanya memakai kata kinayah. Namun ada sebagian yang bisa terjadi talak kalau disertai niat. Kalau suami mengakui tidak ada niat saat mengucapkan kalimat tersebut, maka tidak terjadi talak apapun. Baca detail: Cerai dalam Islam

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

RUMAH TANGGA: SUAMI HIDUP TERPISAH DARI ISTRI KARENA TAKUT IBUNYA

Assalammualaikum,ustad/ustadzah kenalkan sy yunita 40th.
Sy seorang mualaf, 4 thn yg lalu sy msk islam dri christiani karena ikut suami, stlh 1 thn sy berhijab karena panggilan hati, sy tinggal di rumah mertua dan pekerjaan sy pns suami sy masih honorer. Sy menikah dgn suami sy dgn status janda anak 1 dan suami sy duda anak 3,singkat cerita ibu mertua sy mengisir sy dari rumahnya hanya karena sy membela anak tiri sy di pukul suami sy, dan ketika sy meninggalkan rumah mertua sy dan suami mengizinkan sy pergi dan tidak ikut dengan sy karena takut kepada ibunya bahkan mertua saya meminta agar suami sy menceraikan sy,

setelah hampir setahun sy ngekos dan sy berusaha agar hubungan sy tetap baik dengan suami dan kami tetap menjalankan tugas sebagai suami istri,sy beli rumah agar sy bisa tinggal bersama2 suami sy mungkin dengan begitu sy bisa tinngal bersama dengan suami sy kembali dan ketika sy bertanya pada suami apakah dia akan tinggal dengan sy setelah rumah kita jadi dea berkata dia belum bisa karena tukut durhaka kepada ibunya dan dia tidak bisa memilih antara sy dengan ibunya

jadi sy bertanya sampai kapan sy harus tinggal terpisah dengan dia dan dia berkata bahwa di tidak tahu dan hany berkata sabar dan berdoa semoga ibunya mendapat hidayah dan berubah pikiran mau menerima sy kembali.

Yg sy ingin tanyakan apakah tindakan suami sy itu di benarkan dalam islam,?
Dan apa yg harus sy lakukan sebagai istri?
Sy ingin hidup normal punya RT yg utuh selayaknya kehidupan suami istri yg lain.
Mohon saran dan bimbingan pak ustad/ibu ustadzah…

JAWABAN

1. Sikap suami anda yang hidup terpisah dengan istrinya karena takut dimarahi ibunya tidak bisa dibenarkan. Karena, istri punya hak yang wajib ditunaikan oleh suami meliputi nafkah lahir dan batin. Sebenarnya, Islam telah mengatur kehidupan antara suami istri dan anak orang tua. Ada batasan-batasan dalam ketaatan pada orang tua. Bahwa ketaatan pada orang tua itu wajib selagi tidak melewati kewajiban yang lain yang dalam hal ini kewajiban pada istri. Intinya, tidak dianggap durhaka apabila suami anda tetap bersikukuh memilih anda. Walaupun hal itu tidak disetujui ibunya. Baca detail: Batasan Taat Dan Durhaka Pada Orang Tua

2. Secara hukum syariah, dalam keadaan anda sering terpisah dengan suami, maka anda diberi pilihan untuk tetap sabar bersamanya atau boleh meminta cerai / gugat cerai. Kalau anda masih mencintainya, maka anda harus sabar dengan keadaan ini. Ini seperti pilihan apabila ada salah satu pasangan yang selingkuh atau berbuat dosa. Baca detail: Menyikapi Pasangan Selingkuh

3. Semua keluarga ingin hidup normal. Namun tidak semua realitas sesuai kenyataan. Perbanyak sabar dan perbanyak ibadah. Baca doa berikut agar mertua anda sayang pada anda. Karena dia kunci permasalahan keluarga anda: Doa Agar Disayang

Tinggalkan Balasan