Kirim pertanyaan via email ke: alkhoirot@gmail.com

Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Mengapa Habib Baalawi dan Muhibin Menolak Kajian dan Data Ilmiah

Ketika Akal Dipaksa Kalah demi Keyakinan yang Rapuh

Oleh: Suluk Matan

Dalam setiap polemik klaim kebenaran, ada pola lama yang terus berulang: manusia berhenti bertanya apakah ini benar, lalu sibuk mempertahankan agar sesuatu tetap dipercaya. Di titik itu, kebenaran bukan lagi tujuan, melainkan korban.

Polemik nasab Ba‘alawī hari ini memperlihatkan pola tersebut dengan sangat jelas. Perdebatan yang seharusnya berada di wilayah verifikasi ilmiah dan historiografi justru bergeser ke wilayah pembenaran emosional. Sebagian muḥibbīn tidak lagi berdiri di ruang pemeriksaan data, melainkan di ruang perlindungan keyakinan. Di sinilah masalah sesungguhnya bermula—bukan pada perbedaan pendapat, melainkan pada pengorbanan akal atas nama iman.

Nasab, sejak awal, adalah persoalan fakta historis dan biologis. Ia bukan wilayah wirid, bukan ruang rasa, dan bukan ladang karomah. Nasab tunduk pada arsip, kronologi, sanad dokumen, dan dalam konteks modern, juga pada verifikasi ilmiah. Cinta, betapapun tulusnya, tidak pernah bisa menggantikan bukti.

Masalah utama dalam polemik ini bukan sekadar kemungkinan adanya kesalahan data. Yang jauh lebih serius adalah penolakan sistematis terhadap semua bentuk pengujian. Setiap alat verifikasi yang diajukan justru ditanggapi dengan resistensi.

Manuskrip dibuka, lalu disangkal.

Kajian filologi disodorkan, lalu dimusuhi.

Penelitian sejarah dilakukan, lalu dituduh menghina.

Dan ketika tes DNA disebut, muncul kepanikan kolektif—bahkan sampai pada titik mengharamkannya.

Padahal logikanya sederhana. Jika sebuah klaim nasab memang benar, ia tidak perlu takut pada pengujian apa pun. Nasab yang sah tidak alergi arsip, tidak fobia filologi, tidak hidup dari tabu, tidak membutuhkan intimidasi, dan tidak gentar diuji—termasuk oleh teknologi DNA. Artinya, data dan fakta dibuka seluas-luasnya, bukan ditutup rapat-rapat.

Perlu ditegaskan, tes DNA memang bukan pengganti sejarah. Namun ia adalah alat bantu netral. Ia tidak bermazhab, tidak memiliki afiliasi ideologis, dan tidak mengenal muḥibbīn. Ia hanya membaca jejak biologis apa adanya. Karena itu, prinsipnya jelas: yang jujur tidak takut diuji secara berlapis. Sebaliknya, ketakutan terhadap pengujian sering kali menandakan kesadaran akan risiko terbongkarnya kebohongan.

Dalih-dalih seperti “DNA tidak relevan”, “nasab Nabi tidak bisa diuji sains”, atau “jaraknya terlalu jauh untuk diverifikasi” bukanlah argumen ilmiah. Itu adalah mekanisme penghindaran, bahkan kadang dibungkus dengan bahasa religius agar tampak suci. Ilmu tidak pernah takut pada keterbatasan; yang takut biasanya klaim yang rapuh.

Ironisnya, semua penolakan ini kerap diklaim sebagai upaya menjaga kehormatan Nabi. Padahal kehormatan Nabi Muhammad tidak pernah bergantung pada satu klan, satu silsilah, atau satu konstruksi mitologis. Nabi bukan milik satu kelompok. Ia milik umatnya. Menjadikan Nabi sebagai tameng untuk melindungi klaim yang tak terverifikasi justru merendahkan beliau.

Lebih jauh, mempertahankan klaim rapuh dengan membungkam ilmu dan melarang pertanyaan adalah bentuk penyalahgunaan agama. Nabi Muhammad tidak membutuhkan perlindungan berupa rekayasa nasab. Yang beliau butuhkan adalah kejujuran umatnya dalam menjaga kebenaran agar tidak dimanipulasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan apa pun.

Sejarah Islam Nusantara memberi pelajaran penting. Ulama-ulama besar dihormati bukan karena darah, melainkan karena integritas keilmuan dan keberanian mereka mengakui fakta, sekalipun pahit. Kejujuran selalu ditempatkan lebih tinggi daripada gengsi.
Jika hari ini sebuah klaim nasab runtuh oleh bukti, itu bukan serangan terhadap Islam dan bukan penghinaan terhadap Nabi. Itu hanyalah kebenaran yang terlalu lama ditunda.

Orang yang dewasa secara intelektual tidak sibuk bertanya, siapa yang membongkar. Ia bertanya, apakah yang dibongkar itu benar. Kebenaran tidak membutuhkan teriakan, kultus, atau larangan bertanya. Ia tenang, karena siap diuji.

Dan jika sebuah nasab hanya bisa bertahan tanpa arsip, tanpa kritik, tanpa sejarah, bahkan tanpa keberanian menghadapi DNA, maka pertanyaannya sah diajukan: itu benar-benar nasab—atau sekadar konstruksi rapuh yang terlalu lama dipercaya sebagai kebenaran?

Sejarah, seperti biasa, tidak berpihak pada rasa.
Ia selalu berpihak pada fakta.
Red./SL.

Kembali ke Atas