Ini Dia 3 Orang Habib yang Pertama Memalsukan Walisongo Keturunan Ba’alawi
K.H. Ja’far Shadiq fauzi Madura: Klan Ba’alwi memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’alwi.
Seorang ulama dari batuampar Madura, K.H. Ja’far Shadiq Fauzi , Pengasuh Pesantren Abu Syamsuddin menyatakan bahwa Walisongo termasuk yang pertama menyebarkan Islam di Indonesia pada abad ke-15 M secara masiv. Mereka melanjutkan penyebaran Islam yang dimulai pada abad pertama Hijriah. Meskipun Islam memang memasuki Nusantara pada abad pertama Hijriah, menurut ja’far Shadiq, penyebarannya sangat lambat dan tidak meluas terutama di Jawa. Yang menjadi keheranan Ja’far Shadiq adalah adanya klaim hari ini dari Klan Ba’alwi bahwa Walisongo adalah merupakan keturunan Ba’alwi.
“Sayangnya, seperti kita ketahui sekarang keluarga Ba’alwi yang dikenal dengan Habib mengklaim bahwa Walisongo nasabnya merupakan bagian dari keluarga Ba’alawi, meskipun, seperti yang tercatat dalam manuskrip keluarga Walisongo, mereka telah menyatakan bahwa mereka bukan bagian dari keluarga Ba’alawi”, ujar Kiai Ja’far Shadiq dalam presentasi ilmiyahnya di Nadwah ke-1 Majma’ Fuqoha Jawa yang diselenggarakan 31 januari 2026 di Pesantren Al-Mubarak al-Arba’in Demak.
Kiai Ja’far shadiq juga menyatakan, bahwa sebagai bagian keturunan Walisongo, ia menyatakan bahwa Walisongo bukan bagian dari Klan Ba’alwi.
“Oleh karena itu, kami menyatakan bahwa Walisongo bukan bagian dari keluarga Ba’alawi,” tegasnya.
Ia juga menyatakan Klaim bahwa keluarga Walisungo adalah bagian dari keluarga Ba’alawi, baru ditulis dan didokumentasikan dalam buku-buku Ba’alawi sejak tahun 1933 M. klaim itu sama sekali tidak berdasar dan merupakan kebohongan yang terang-terangan. Orang Klan Ba’alawi yang pertama yang menyatakan garis keturunan Walisongo bagian dari Ba’alawi adalah Alwi bin Tahir dalam bukunya yang ditulis pada tahun 1933 M, berjudul “Tarikh Al-Abdil Malik” yang ditulis di Bogor, Indonesia. Kemudian Ahmad ibn Abdullah al-Saqqaf Ba’Alawi (wafat 1369 H) mengikutinya dalam bukunya, “Shaltanah Banten al-Islamiyah Bi Jazirati Jawah min jihhat al-Garbiyyah”, dan Salim ibn Jandan (wafat 1969 M) dalam bukunya, “Rawdat al-Wildan.”
Ketiga orang ini, menurut Kiai Ja’far, bertanggung jawab atas kejahatan sejarah ini. Kiai ja’far bertanya, bagaimana mereka mengetahui garis keturunan Wali Songo hingga Ba’Alawi tanpa sumber apa pun. Misalnya, mereka menyatakan bahwa garis keturunan Syarif Hidayatullah adalah Ibn Abdullah Umdat al-Din Ibn Ali Ibn al-Husayn Jumada al-Kubra/Jamal al-Din Ibn Ahmad Ibn Abdullah Ibn Abd al-Malik Ibn Alawi Ibn Muhammad Sohib Mirbat. Dari sumber mana mereka mempelajari nama-nama fiktif ini? Bagaimana mereka tahu bahwa Abd al-Malik memiliki seorang putra bernama Abdullah, padahal Ali al-Sakran pada abad kesembilan Hijriah tidak menyebutkannya dalam Al-Burqa?
Misalnya juga, menurut Kiai Ja’far, Abd al-Rahman al-Mashhur, yang meninggal pada tahun 1902 M, tidak menyebutkan silsilah itu dalam bukunya, “Shams al-Zahira.” Ia juga tidak menyebutkan bahwa Abd al-Malik memiliki seorang putra bernama Abdullah, seperti yang disebutkan oleh ketiga orang tersebut. Jadi bagaimana mereka mengetahui Abdul malik mempunyai anak Bernama Abdullah pada abad keempat belas Hijriah sementara sebelumnya sama sekali tidak ada yang menyebutkan. Menurut Kiai ja’far, ini tidak masuk akal.
Adapun klaim Muhammad Diya Shihab di pinggir Shams al-Zahira bahwa garis keturunan ini ditemukan dalam pohon silsilah para sultan Palembang, yang ditulis pada tahun 1161 H, menurut Kiai Ja’far, ini adalah klaim palsu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Karena bagaimana mungkin penduduk Palembang mengetahui nama Muhammad ibn Ali Sohib Mirbat Ba’Alawi, padahal penduduk Hadhramaut tidak mengenalnya pada zamannya?
Kiai Ja’far juga menjelaskan, apa yang dilakukan ketiga orang ini di Indonesia terkait garis keturunan Walisungo, mirip dengan apa yang dilakukan keluarga Ba’Alawi di Tarim, di mana mereka mengaitkan garis keturunan beberapa suku asli kepada Abu Bakar Shidiq, seperti al-Amoudi, padahal sebenarnya ia berasal dari suku Bani Muhammad ibn Nuh ibn Sayban, dan kepada Aqil ibn Abi Talib, seperti keluarga Bajaber, dan kepada Abbas, seperti keluarga Ishaq, dan kepada Ansar, seperti keluarga Khatib? Puluhan suku Hadhrami memiliki silsilah palsu yang dibuat untuk mereka, membelokan mereka dari silsilah asli mereka dan menempatkan mereka dalam silsilah selain silsilah mereka sendiri. Kemudian, setelah beberapa waktu, mereka yang memberikan silsilah palsu tersebut justru membatalkannya. Akibatnya, keturunan suku-suku tersebut menjadi bingung mengenai silsilah mereka dan sejarah leluhur mereka yang sebenarnya. Ini adalah ketidakadilan yang tak termaafkan.
Peneliti dan sejarawan Abdullah bin Saleh bin Ali Al Abu Tal’ah Al-Sharfi, seorang ulama dari Dammaj di kota Sa’dah di Yaman utara, menurut Kiai Ja’far, berkata: “Mereka yang memberi mereka silsilah palsu ini dan menyembunyikan silsilah asli mereka adalah orang-orang yang suatu hari nanti akan mengkritik dan mencemooh mereka, mengklaim bahwa mereka tidak memiliki silsilah. Jika mereka dihadapkan dengan silsilah palsu ini, mereka akan terbantahkan karena yang membantah inilah yang memalsukannya.”
Hal ini juga terjadi di Indonesia, di mana, seperti yang telah kami sebutkan, mereka memasukkan garis keturunan Walisongo sebagai Ba’Alawi dalam buku-buku mereka sejak tahun 1933 M, sementara Rabitah Alawiyah, pada tahun 2020 M, membantah garis keturunan keturunan Walisongo dalam surat resmi.
Siapa pun yang mengaku sebagai keturunan Walisongo, menurut Kiai ja’far, dan kemudian menerima bahwa mereka adalah Ba’Alawi telah merendahkan dirinya sendiri. (nuc)