Krisis Kejujuran Nasab Taufik Assegaf
KRISIS KEJUJURAN NASAB TAUFIK ASSEGAF
Gus Aziz Jazuli Menggugat Kejujuran Taufik Assegaf & Legitimasi Maktab Daimi Tidak Valid?
(Simak video di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc., MH dengan judul : PANAS! Pak Topik Serang Balik Pengkritik Khurofat Ba’alawi: “Kalian Itu Buta Hati!)
Video yang beredar ini merupakan narasi kritis atas pernyataan Taufik Assegaf yang membagi manusia ke dalam empat jenis hati: sakit, buta, keras, dan sehat. Alih-alih menjawab kritik berbasis sejarah dan sains, klasifikasi tersebut justru digunakan untuk memoralisisasi perbedaan pendapat—seolah masalah utamanya adalah kondisi batin pengkritik, bukan kualitas data yang dikritik.
Di titik inilah Gus Aziz Jazuli melakukan pembalikan argumen yang mendasar dan rasional. Menurutnya, persoalan utama bukanlah “hati siapa yang sakit”, melainkan apakah klaim nasab yang diajukan ke ruang publik disampaikan secara jujur dan dapat diverifikasi. Ketika klaim publik dihadapkan pada kritik ilmiah, yang dituntut bukan ceramah moral, melainkan jawaban berbasis bukti.
Dalam logika ilmiah, menuduh pengkritik “sakit hati” tidak pernah membatalkan data. Itu adalah kesesatan ad hominem: menggeser perdebatan dari fakta ke niat. Sebaliknya, kesediaan tunduk pada fakta sejarah dan sains justru merupakan indikator kejujuran etis dan intelektual, bukan tanda hati yang rusak.
Kritik kemudian diarahkan pada uji historiografi. Tokoh-tokoh yang benar-benar hidup, berpengaruh, dan diakui pada zamannya hampir selalu meninggalkan jejak sezaman: karya tertulis, murid yang tercatat, atau rujukan dalam kitab-kitab biografi lintas wilayah. Ketika figur yang diklaim sentral dalam satu garis nasab tidak memiliki dokumentasi sinkronik yang sepadan, dan justru baru muncul dalam catatan yang ditulis ratusan tahun kemudian, maka secara akademik statusnya disputable. Kekosongan arsip semacam ini tidak dapat ditutup dengan klaim kewalian atau kesucian, karena hal tersebut termasuk wilayah iman personal, bukan pembuktian sejarah.
Poin paling krusial datang dari fakta genetika. Garis patrilineal tercatat pada kromosom Y dan menjadi alat bantu objektif dalam menilai klaim genealogis. Dalam genetika populasi, keturunan Quraisy secara umum terhubung dengan Haplogroup J1. Ketika hasil uji menunjukkan Haplogroup yang berbeda secara mendasar, itu menandakan diskontinuitas biologis, bukan sekadar variasi kecil. Menolak temuan ini dengan alasan teologis merupakan bentuk penyangkalan sains. Mengakuinya—meskipun pahit—adalah ekspresi kejujuran seorang mukmin yang menempatkan kebenaran di atas status sosial.
Video tersebut juga menyoroti dampak etis dari ketidakjujuran yang terus dipelihara. Hidup dalam klaim yang tidak pernah tuntas diverifikasi akan melahirkan kegelisahan permanen. Inilah yang disebut sebagai “neraka dunia”: kondisi eksistensial orang yang harus terus-menerus membela klaim rapuh dengan retorika defensif, karena fondasinya tidak pernah kokoh.
Pada tahap ini, persoalan tidak lagi bersifat personal, melainkan kelembagaan. Rabithah Alawiyah dipimpin oleh Taufik Assegaf, sementara Maktab Daimi merupakan badan otonom pencatat nasab di bawahnya. Karena itu, krisis validitas Maktab Daimi tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kepemimpinan Rabithah Alawiyah.
Secara akademik dan etis, sebuah lembaga pencatat nasab hanya layak dipertahankan jika memenuhi standar minimal: metodologi yang terbuka, arsip yang dapat diaudit, kesiapan dikoreksi oleh temuan sejarah dan sains, serta penghormatan terhadap kritik ilmiah. Ketika yang terjadi justru sebaliknya—penutupan data, delegitimasi kritik, dan penggantian bukti dengan stigma moral—maka lembaga tersebut kehilangan legitimasi epistemiknya.
Kesimpulannya jelas, lebih bermartabat membubarkan Maktab Daimi daripada membiarkannya terus memproduksi klaim yang tidak valid. Seruan Gus Aziz Jazuli dan masyarakat pemerhati nasab yang obyektif bukanlah serangan personal, melainkan alarm akademik agar agama tidak dijadikan tameng bagi kebohongan yang dilembagakan.
— Red./SL.
Sumber: Suluk Matan (laman FB)