Kebenaran Sosial vs Kebenaran Ilmiah: Sisi Lain Polemik Nasab Baalwli

Oleh: Suluk Matan

Kebenaran yang Diperhitungkan: Kritik Doktrin Ba‘alawi dan Cara Melepaskan Diri Secara Intelektual
Perdebatan tentang doktrin Ba‘alawi pada dasarnya bukan sekadar konflik identitas keagamaan atau polemik genealogis. Ia menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana kebenaran dibangun, dipertahankan, dan diterima dalam suatu komunitas religius.

Banyak orang mengira isu ini hanya soal nasab, padahal yang sedang dipertaruhkan adalah struktur otoritas pengetahuan.

1. Kebenaran Sosial vs Kebenaran Ilmiah

Dalam kajian sosiologi pengetahuan, dikenal perbedaan antara kebenaran sosial dan kebenaran ilmiah. Kebenaran sosial adalah sesuatu yang dianggap benar karena diterima secara luas, diwariskan, dan dilindungi oleh otoritas simbolik. Sedangkan kebenaran ilmiah berdiri di atas verifikasi, kritik terbuka, dan kemungkinan koreksi.

Doktrin Ba‘alawi dalam praktiknya sering berada pada wilayah kebenaran sosial. Legitimasi tidak hanya bersumber dari argumen ilmiah, tetapi dari kombinasi tradisi, penghormatan emosional, dan loyalitas komunitas. Akibatnya, kritik sering dipersepsikan sebagai serangan moral, bukan sebagai proses akademik yang wajar.

Di titik ini muncul masalah epistemologis:
> ketika penghormatan menggantikan verifikasi, maka kebenaran berhenti berkembang.

2. Mekanisme Doktrinisasi
Secara umum, doktrin yang sulit dikritik biasanya bertahan melalui tiga mekanisme:
1. Sakralisasi identitas
Identitas keturunan atau simbol tertentu ditempatkan di wilayah quasi-suci sehingga kritik dianggap tabu.
2. Otoritas turun-temurun
Legitimasi tidak selalu diuji melalui kapasitas keilmuan aktual, tetapi diasumsikan melekat secara otomatis.
3. Tekanan sosial halus
Individu yang mempertanyakan narasi dominan sering mengalami delegitimasi moral, bukan bantahan argumentatif.
> Fenomena ini bukan khas satu kelompok saja. Dalam sejarah Islam maupun tradisi lain, pola serupa selalu muncul ketika otoritas berubah dari berbasis ilmu menjadi berbasis simbol.
3. Dampak terhadap Tradisi Keilmuan

Tradisi Islam klasik justru dibangun di atas kritik. Para ulama besar berbeda pendapat secara terbuka tanpa menjadikan nasab sebagai argumen final. Imam al-Ghazali mengkritik filosof, Ibn Rushd mengkritik al-Ghazali, para muhaddits mengkritik sanad satu sama lain. Tidak ada konsep “kebal kritik” dalam epistemologi Islam yang sehat.
> Ketika sebuah doktrin menjadi tidak dapat diuji, maka yang melemah bukan hanya diskursus tertentu, tetapi etos intelektual umat itu sendiri. Generasi berikutnya belajar menerima, bukan meneliti.

4. Mengapa Banyak Orang Sulit Melepaskan Diri

Secara psikologis, manusia tidak hanya mempertahankan keyakinan karena bukti, tetapi karena identitas sosial. Ada tiga faktor utama:
– rasa loyalitas kepada guru atau komunitas,
– ketakutan kehilangan jaringan sosial,
– kekhawatiran dianggap durhaka terhadap tradisi.
Karena itu, perubahan pandangan jarang terjadi melalui konfrontasi keras. Ia biasanya muncul melalui proses refleksi perlahan ketika seseorang menemukan ketidaksesuaian antara klaim dan fakta.

5. Cara Melepaskan Diri Secara Intelektual
> Melepaskan diri dari doktrin bukan berarti meninggalkan penghormatan atau tradisi. Yang dilepas adalah ketergantungan epistemik, bukan adab.

Beberapa langkah rasional dapat dilakukan:
1. Memisahkan figur dari argume
Hormat kepada tokoh tidak identik dengan menerima seluruh klaimnya.
2. Mengembalikan standar pada metodologi ilmiah
Klaim sejarah diuji dengan historiografi, klaim agama diuji dengan dalil dan metodologi ulama muktabar, klaim DNA pun begitu, semua ilmu dan pendekatan akan membantu.
3. Membangun keberanian intelektual bertahap
Kritik tidak harus agresif, tetapi konsisten pada data.
4. Mengganti loyalitas personal dengan loyalitas pada kebenaran
Dalam tradisi ulama, kebenaran selalu lebih tua daripada individu mana pun.
6. Menuju Kedewasaan Intelektual
Kematangan sebuah komunitas tidak diukur dari keseragaman pandangan, melainkan dari kemampuannya menerima kritik tanpa panik. Doktrin yang benar tidak takut diuji; justru pengujian memperkuat legitimasi.


Karena itu, kritik terhadap doktrin Ba‘alawi seharusnya dibaca sebagai proses normal dalam dinamika ilmu, bukan ancaman terhadap agama. Islam tidak pernah runtuh karena pertanyaan. Ia justru berkembang karena keberanian berpikir.
Pada akhirnya, kebenaran yang bertahan bukanlah yang paling keras dipertahankan, melainkan yang paling mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan moral.
Dan sejarah selalu menunjukkan satu hal sederhana: tradisi yang menolak evaluasi akan membeku, sementara tradisi yang membuka diri akan terus hidup.
— Red./SL.