Dekonstruksi Nalar Lora Ismail di Haul Soleh Tanggul: Kritik Intelektual dan Teologis
Oleh: Suluk Matan
Pernyataan Lora Ismail yang melabeli kritik kesejarahan sebagai framing jahat menunjukkan kegagalan dalam membedakan antara sentimen personal dan dialektika ilmiah. Jika Lora Ismail memahami warisan kakeknya intelektual KH. Kholil Bangkalan, ia seharusnya mengedepankan akurasi kitab, bukan sekadar romantisme haul.
1. Pengkhianatan terhadap Standar Akidah KH. Kholil Bangkalan
KH. Kholil Bangkalan dikenal sebagai penjaga gawang Ahlussunnah Wal Jamaah yang sangat ketat dalam urusan tauhid dan syariat. Namun, Lora Ismail justru terlihat permisif—bahkan membela—narasi khurafat yang diproduksi oknum ba’lawi:
* Eskatologi Palsu:
Klaim bahwa keturunan ba’alawi bisa bertobat di dalam kubur adalah penyesatan teologis yang nyata. Hal ini menabrak konsensus hadis mengenai batas waktu tobat (ma lam yugharghir). Membela narasi ini sama saja dengan meruntuhkan fondasi hukum Islam yang diajarkan di pesantren-pesantren NU.
* Kultus Individu Melampaui Kenabian:
Narasi mikraj tokoh ba’alawi sebanyak 70 kali sehari bukan sekadar keramat, melainkan penghinaan terhadap eksklusivitas mukjizat Nabi Muhammad saw. KH. Hasyim Asy’ari, murid terkemuka KH. Kholil Bangkalan, dalam Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah secara tegas mengutip kitab Asy-Syifa bahwa klaim mikraj serupa Nabi adalah kekufuran. Di mana posisi Lora Ismail saat kitab murid kakeknya, para kiai penerus perjuangan dan intelektualitas kakeknya ini dikangkangi oleh dongeng-dongeng ba’alawi?
2. Degradasi Martabat Ulama Pribumi
Sangat memprihatinkan melihat seorang Lora yang nyaman berlindung di bawah subordinasi klan ba’lawi. Narasi bahwa satu ba’lawi bodoh setara dengan 70 kiai alim adalah serangan langsung terhadap marwah pesantren.
KH. Kholil Bangkalan membangun Bangkalan sebagai pusat ilmu, bukan ‘pusat penyembahan nasab’ tanpa kualitas. Sikap Lora Ismail yang mendiamkan penghinaan terhadap tokoh pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, dan seperti Gus Dur, KH. Ma’ruf Amin atau KH. Said Aqil Siradj oleh Ba’alawi menunjukkan hilangnya taring kepemimpinan intelektual pribumi.
3. Bias “Stockholm Syndrome” Spiritual
Lora Ismail terjebak dalam apa yang tampak sebagai penjajahan spiritual. Ia lebih memilih mengamankan kedekatan personal dengan tokoh-tokoh ba’lawi di acara seremonial daripada melakukan verifikasi terhadap kitab-kitab bermasalah seperti Masra’ul Rawi, Syarah Ainiah, Tuhfatul Ahbab atau Rasfatus Shadi dll.. Klaim bahwa Faqih Muqoddam mengaku Allah dan tidak butuh Nabi Muhammad, juga ba’alawi boleh masuk rumah siapa saja tanpa izin adalah bentuk anarkisme syariat yang jika dibiarkan akan merusak tatanan sosial masyarakat.
4. Kesimpulan,
Urgensi Al-Haq
Integritas seorang ulama diukur dari keberaniannya menyuarakan kebenaran (Al-Haq) di atas kepentingan golongan atau nasab. Lora Ismail gagal menunjukkan kapasitasnya sebagai pewaris mental KH. Kholil Bangkalan yang tegas terhadap penyimpangan. Alih-alih meluruskan umat dari dongeng horor—seperti jenazah makan semangka atau mayat menghamili istri, bahkan mengislamkan orang kafir dikuburnya—Lora Ismail justru menjadi tameng bagi produsen khurafat tersebut.
Sangat ironis ketika seorang keturunan dari Syaikhona justru terjebak dalam pembelaan buta terhadap narasi yang secara diametral bertentangan dengan prinsip dasar akidah dan keilmuan kakek buyutnya.
Indonesia tidak butuh figur yang hanya pandai bersolek dengan gelar nasab namun lumpuh secara nalar kritis. Jika Lora Ismail tetap memilih tuli dan buta terhadap kebusukan literatur ba’lawi, maka ia secara sukarela sedang menghapus dirinya dari silsilah perjuangan ilmu pengetahuan yang telah dibangun oleh kakeknya, bahkan dengan darah dan air mata oleh para kiai nusantara.
Sumber YT :