Jejak Syiah di Balik Pengarang Simṭud Durar
Harlah 100 NU dan Kado Kejujuran dari Gus Aziz Jazuli:
(Membaca Jejak Syiah di Balik Pengarang Simṭud Durar dan Klaim Haul Solo)
Memasuki usia satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi ujian kedewasaan yang nyata: berani membedakan antara tradisi yang benar-benar meneguhkan manhaj dan ritual yang justru memberi legitimasi pada persoalan ideologis. Dalam konteks inilah kajian kritis Gus Aziz Jazuli mengenai pengarang Simṭud Durar patut dibaca sebagai kado kejujuran intelektual bagi NU di usia 100 tahun (lihat kajian di kanal Bisikan Rhoma).
Persoalan pokoknya bukan pada maulid atau haul sebagai praktik doa. Dalam tradisi NU, haul adalah tindakan simbolik, bukan ritual netral. Mengahauli seseorang berarti memberi pengakuan publik bahwa sosok tersebut dianggap lurus akidahnya, aman ajarannya, dan layak diwariskan otoritas moralnya. Ketika tokoh yang dihauli ternyata menyimpan problem serius dalam akidah dan manhaj, maka haul tidak lagi menjadi sekadar doa—ia berubah menjadi stempel legitimasi ideologis. Karena itu, Haul Solo tidak bisa dipandang netral, terutama bagi santri yang belajar dari simbol dan keramaian, bukan dari telaah ilmiah yang ketat.
Kajian tersebut menyoroti indikasi penyimpangan akidah pada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, mulai dari tradisi pelaknatan sahabat Nabi—khususnya Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān—yang jelas bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamā‘ah, hingga kecenderungan ta’wil batin eksklusif yang mematikan ruang kritik. Dalam sejarah pemikiran Islam, pola seperti ini bukan ciri tasawuf Sunni, melainkan dekat dengan tradisi batiniyah Syiah Ismailiyah, yang memonopoli makna kebenaran pada elite spiritual tertentu.
Masalah ini diperkuat oleh literatur pendukung seperti Kunūzus Sa‘ādah al-Abadiyyah, yang memuat kisah-kisah karamah ekstrem tanpa disiplin sanad: pelanggaran moral yang dibenarkan atas nama maqam spiritual, klaim gugurnya syariat bagi elite rohani, serta pengultusan tokoh yang ditempatkan di atas hukum. Ini bukan tasawuf ala al-Junayd atau al-Ghazali, melainkan antinomianisme—paham yang dalam sejarah Islam selalu merusak agama dari dalam dengan kedok spiritualitas.
Bahaya menjadi berlipat ketika konstruksi ideologis semacam ini dinormalisasi melalui haul berskala besar, apalagi dibungkus klaim simbolik seperti “Haul Solo”. Surakarta bukan sekadar lokasi acara, melainkan simbol budaya dan Islam santri serta salah satu basis kultural NU. Ketika nama kota dan NU dilekatkan, pesan yang sampai ke publik adalah bahwa ajaran tersebut merupakan bagian sah dari Islam NU. Di sinilah legitimasi bekerja secara diam-diam, tanpa pernah dibahas secara terbuka.
Dampaknya bersifat jangka panjang. Kekhawatiran, hari ini haul dianggap wajar, besok kitabnya dibaca tanpa filter, lusa pelaknatan sahabat dinormalisasi sebagai ekspresi cinta, dan akhirnya NU kehilangan standar internalnya sendiri. NU tidak dihancurkan dari luar, tetapi dikaburkan dari dalam—namanya tetap, tetapi manhajnya memudar.
Karena itu, kritik ini bukan anti-ulama dan bukan anti-tradisi. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menjaga marwah ulama dengan menjaga standar keulamaan. Menghormati tokoh tidak berarti membekukan akal. Berdoa untuk mayit tidak otomatis mewajibkan legitimasi ajaran dan ideologi.
Pada titik ini, sikap warga NU seharusnya tegas dan jernih. Tidak ada kewajiban agama maupun ke-NU-an untuk menghadiri Haul Solo, karena perbedaan ideologis dengan tokoh yang dihauli telah jelas menyentuh wilayah akidah dan manhaj. Tidak hadir bukan bentuk kebencian, melainkan ikhtiar menjaga iman dan identitas keilmuan NU. NU tidak kekurangan ulama yang lurus dan tradisi yang sehat.
Jadi, secara akademis, penelitian yang dilakukan Guz Aziz tersebut lebih tepat menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh atau persinggungan doktrin (baik secara sadar maupun tidak melalui asimilasi budaya Yaman) yang membuat ajaran pengarang Simṭud Durar memiliki karakteristik “Syiah terselubung”, meskipun klan Ba’alwi tersebut tetap mempertahankan “jubah” Sunni dalam praktik publiknya. Taqiyah? Pertanyaan ini menjadi sah diajukan ke ruang publik.
Oleh karena itu, setelah 100 tahun, NU tidak boleh mewariskan kebingungan, tetapi kejernihan.
“Terimakasih Guz Aziz atas kadonya !”
Red./SL.