Kirim pertanyaan via email ke: alkhoirot@gmail.com

Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Koreksi Metodologis Sejarawan Yaman atas Argumentasi Rumail Abbas

Ilusi Akademis dalam Pembelaan Nasab Ba‘alawī : Koreksi Metodologis Sejarawan Yaman atas Argumentasi Rumail Abbas
(Syekh Awad Hamdan: “Rumail bukan riset sejarah (nasab), hanya bikin gaduh !”
Lihat Kajian Selengkapnya di Kanal YT Talijagat Baru)
Dalam tradisi historiografi Islam, nasab adalah perkara arsip dan kronologi, bukan reputasi sosial, kharisma spiritual, atau klaim sepihak. Karena itu, perdebatan nasab Ba‘alawī oleh sejarawan Yaman diposisikan sebagai uji disiplin metodologi sejarah, bukan konflik emosional, apalagi ideologis.
Dari sudut pandang ini, metodologi Rumail Abbas dinilai tidak sah secara ilmiah. Argumennya tampak akademis di permukaan, namun runtuh total ketika diuji dengan standar historiografi yang digunakan para sejarawan Yaman, termasuk Syekh Awad Hamdan. Penilaian mereka konsisten: yang dihadirkan Rumail bukan riset sejarah, melainkan ilusi akademis.
1. Logika Terbalik: Kitab Abad Akhir Dijadikan Bukti Abad Awal
Kesalahan paling mendasar dalam argumentasi Rumail Abbas adalah pembalikan urutan waktu.
Ia berusaha membuktikan peristiwa dan silsilah yang diklaim terjadi pada abad ke-6–7 Hijriah (abad ke-12–13 Masehi) dengan kitab-kitab yang baru disusun mulai abad ke-9 Hijriah ke atas (abad ke-15 hingga ke-18 Masehi).
Contoh konkret:
– Klaim peristiwa abad ke-6–7 H / 12–13 M.
Dibela dengan rujukan:
– karya Al-Ahdal (wafat 855 H / 1451 M).
– karya Ibnu Aqilah (wafat 1150 H / 1737 M).
Koreksi ilmiah:
Dalam ilmu sejarah, peristiwa hanya sah dibuktikan oleh sumber sezaman atau lebih awal. Kitab abad ke-15 atau ke-18 Masehi tidak memiliki nilai pembuktian langsung terhadap peristiwa abad ke-12 Masehi, kecuali jika secara eksplisit mengutip manuskrip primer yang lebih tua dan masih dapat diverifikasi. Dalam kasus ini, rujukan primer tersebut tidak pernah ditunjukkan.
Secara sederhana:
Membahas kejadian abad ke-12 Masehi dengan saksi dari abad ke-18 Masehi bukan riset sejarah, melainkan loncatan kronologi tanpa kendali, dan cacat logika fatal.
2. Kitab Manaqib Dipaksa Menjadi Kitab Sejarah
Rumail Abbas menjadikan Al-Jauhar As-Syaffāf karya Al-Khatib (wafat 855 H / 1451 M) sebagai rujukan utama. Padahal, sejarawan Yaman sepakat bahwa kitab ini adalah kitab manaqib, bukan kitab tarikh.
Karakter kitab manaqib:
– Ditulis untuk memuliakan tokoh;
– Sarat kisah karamah dan simbol spiritual;
– Tidak disusun dengan disiplin kronologi sejarah;
– Tidak bertujuan mencatat fakta administratif atau silsilah secara ketat.
Ketika sebuah kitab memuat kisah:
– perjalanan spiritual berulang kali ke Sidratul Muntahā;
– peristiwa supranatural tanpa konteks waktu dan tempat.
maka kitab tersebut gugur secara akademis sebagai bukti sejarah nasab.
Masalahnya bukan pada kitabnya, melainkan pada pemaksaan fungsi. Narasi spiritual tidak bisa disulap menjadi arsip genealogis.
3. Manipulasi Identitas Tokoh dalam Manuskrip
Naskah primer Yaman seperti As-Sulūk karya Al-Janādī (wafat 730 H / 1330 M) secara eksplisit menyebut bahwa murid Faqih Bā Marwān bernama Ahmad bin Alawī.
Namun dalam naskah suntingan modern yang dibela Rumail Abbas:
– Nama Ahmad dihilangkan;
– Diganti menjadi Muhammad bin Ali;
– Agar selaras dengan konstruksi silsilah Ba‘alawī yang dibela.
Menurut sejarawan Yaman, ini bukan perbedaan tafsir, melainkan perubahan data tekstual, dan justru terindikasi kuat adanya manipulasi data sejarah.
Dalam disiplin filologi dan sejarah, praktik semacam ini disebut tahrīf an-nuṣūṣ (distorsi teks). Begitu ini terjadi, seluruh bangunan argumen runtuh dan kehilangan legitimasi ilmiahnya.
4. Retorika sebagai Pengganti Data
Karena tidak mampu menghadirkan manuskrip primer dari abad ke-6 hingga ke-7 Hijriah (abad ke-12–13 Masehi), Rumail Abbas menutup kekosongan arsip dengan:
– istilah kabur dan bias seperti “sumber independen”;
– klaim rapuh tentang “jaringan syekh”;
– narasi lisan tanpa dokumen.
Dalam dunia akademik, ini bukan metode penelitian. Ini murni :
“strategi retorika”.
Tujuannya sederhana: menciptakan kesan kompleks agar publik awam mengira ada kedalaman data, padahal tidak satu pun bukti primer disajikan secara transparan.

Jadi, kesimpulannya…
Mengapa sejarawan Yaman memberi label “ilusi akademis” pada pembelaan Rumail Abbas?
Karena:
– Peristiwa abad ke-12 M dibela dengan kitab abad ke-15–18 M;
– Kitab pujian diperlakukan sebagai arsip sejarah;
– Identitas tokoh diubah agar cocok dengan silsilah;
– Kekosongan manuskrip ditutup dengan istilah yang abstrak.
Intinya jelas:
Ini bukan bangunan ilmu, melainkan dekorasi ilmu. Tampak akademis dari luar, tetapi kosong secara kronologi dan rapuh secara tekstual.
Dalam sejarah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras membela, melainkan oleh siapa yang paling patuh pada manuskrip dan kronologi waktu.
Dan di titik inilah, menurut sejarawan Yaman, argumen Rumail Abbas gagal bukan karena kalah debat, tetapi karena tidak pernah memenuhi syarat sebagai argumen sejarah sejak awal.
— Red./SL.

Kembali ke Atas