Kirim pertanyaan via email ke: alkhoirot@gmail.com

Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Membiasakan Diri pada Fakta: “Habib Bukan Cucu Nabi”

Membiasakan Diri pada Fakta: “Habib Bukan Cucu Nabi”
Penulis: Suluk Matan (akun FB)
Frasa “habib bukan cucu Nabi” seharusnya tidak lagi dianggap provokatif, apalagi ofensif. Ia bukan ujaran kebencian, bukan penghinaan, dan bukan pula serangan terhadap agama. Ia adalah pernyataan faktual yang lahir dari disiplin ilmu sejarah, genealogi, dan metodologi ilmiah yang sehat.
Masalahnya bukan pada kalimat itu. Masalahnya ada pada ketidaksiapan psikologis dan kultural sebagian kalangan—terutama Ba‘alwī dan para muhibbin—untuk menerima bahwa klaim nasab bukan wilayah sakral yang kebal kritik.
* Nasab Itu Klaim Ilmiah, Bukan Dogma
Dalam tradisi Islam klasik, nasab adalah klaim historis, bukan rukun iman. Ia diuji dengan:
– kesinambungan data,
– kejelasan sumber,
– dan konsistensi kronologi.
Tidak ada satu pun kaidah usul fikih, ilmu hadis, atau ilmu tarikh yang menyatakan bahwa nasab harus diterima hanya karena populer atau diwariskan secara emosional. Popularitas (syuhrah) tidak otomatis berarti kebenaran. Terlebih ketika berhadapan dengan bukti-bukti yang bersifat qath‘i (tegas dan pasti).
Maka ketika ada kalangan yang mengatakan “habib bukan cucu Nabi”, itu bukan tindakan lancang. Itu konsekuensi logis dari metode ilmiah.
* Masalah Sebenarnya: Identitas yang Terlanjur Disakralkan
Penolakan keras terhadap frasa ini sering kali bukan karena lemahnya argumen ilmiah, melainkan karena ketergantungan identitas. Bagi sebagian muhibbin, habib tidak lagi diposisikan sebagai manusia biasa yang bisa salah, tetapi sebagai simbol kesucian yang tidak boleh disentuh kritik.
Di titik ini, nasab berhenti menjadi data sejarah dan berubah menjadi alat legitimasi sosial:
– legitimasi dakwah;
– legitimasi kepemimpinan;
– legitimasi kuasa simbolik;
– bahkan legitimasi narasi sejarah Bangsa Indonesia, NU dan tokoh serta ulamanya.
Ketika simbol itu digugat, yang terasa bukan sekadar bantahan ilmiah, melainkan ancaman eksistensial.
* Cinta Tanpa Akal: Masalah Muhibbinisme
Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. adalah kewajiban iman. Tapi mencintai manusia tertentu seolah ia pasti mewakili Nabi adalah kesalahan logika. Inilah yang bisa disebut muhibbinisme: cinta yang mematikan nalar.
Muhibbinisme membuat orang:
– membela klaim tanpa verifikasi,
– menganggap kritik sebagai kebencian,
– dan memusuhi fakta demi menjaga rasa nyaman.
Padahal, cinta sejati kepada Nabi justru menuntut kejujuran, bukan manipulasi silsilah.
* Mengatakan “Bukan Cucu Nabi” Bukan Menghina Nabi
Perlu ditegaskan dengan jujur:
mengatakan “habib bukan cucu Nabi” sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Nabi. Yang justru berbahaya adalah menempelkan kemuliaan Nabi pada klaim manusia yang tidak sah sebagai keturunannya.
Nabi Muhammad tidak membutuhkan klaim palsu untuk dimuliakan.
Yang membutuhkan klaim itu adalah manusia.
* Menuju Kedewasaan Beragama
Jika Ba‘alwī dan muhibbin ingin dihormati secara intelektual, maka langkah pertama adalah berdamai dengan kritik. Dewasa dalam beragama berarti:
– siap diuji,
– siap dikoreksi,
– dan siap menerima bahwa tidak semua warisan kultural adalah kebenaran.
* Frasa “habib bukan cucu Nabi” bukan serangan.
Ia adalah undangan untuk berpikir jernih.
Dan keimanan yang rapuh karena fakta, sejatinya memang perlu diperbaiki—bukan dibela mati-matian.
Nabi Muhammad Saw. tetap mulia. Ilmu tetap berjalan. Dan nasab—seperti klaim sejarah lain—harus siap diuji.
Kalau itu terasa menyakitkan, mungkin yang terluka bukan iman, tapi kenyamanan.
— Red.
Kembali ke Atas