Mengapa Baalwi Ingin Menandingi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

KLAN BA’ALWI MENCIPTAKAN FIGUR TANDINGAN SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI?
Sebuah diskusi mendalam yang dipandu oleh Gus Aziz Jazuli – Lihat di Kanal YT Gus Aziz Jazuli Lc, MH dengan judul “Apa Dendam Baalawi Kepada Syekh Abdul Qodir Al Jailani ??” – diskusi ini membedah fenomena sosiologi-agama yang selama ini jarang tersentuh:

Bagaimana sebuah narasi sejarah dikonstruksi untuk membangun supremasi spiritual di Nusantara.

Berikut adalah poin-poin analisis ilmiah yang perlu kita pahami bersama:

1. Dialektika Figur: Menggeser Dominasi Sultanul Auliya

Secara historis, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah tokoh “Universal” yang jejak literaturnya diakui secara lintas bangsa, dari Maroko hingga Persia. Gus Aziz menengarai adanya upaya sistematis dari klan Ba’alwi untuk menggeser ketergantungan spiritual umat terhadap Syekh Abdul Qadir dengan memunculkan figur internal seperti Faqih Muqaddam sebagai “tandingan” atau alternatif. Dan setelah ditelusuri dengan penelitian mendalam tokoh tersebut cenderung fiktif tanpa bukti primer yang mendukung.

2. Kritik Historiografi: Tokoh Sejarah atau Konstruksi Literatur?
Dalam metodologi sejarah, sebuah tokoh dianggap otentik jika terdapat catatan yang sezaman (contemporary record). Diskusi ini mengungkap keganjilan ilmiah di mana nama-nama tertentu baru muncul dalam kitab yang ditulis ratusan tahun setelah masanya, seperti karya Ali bin Abu Bakar As-Sakran. Muncul dugaan kuat adanya praktik “pencangkokan sanad” untuk mengaitkan figur-figur ini dengan tokoh besar yang sudah mapan agar mendapatkan legitimasi instan.

3. Klaim Identitas: Anomali Sejarah Raja Mirbat
Salah satu poin paling mengejutkan adalah dugaan “pencurian” identitas sejarah. Data menunjukkan adanya indikasi pengambilan gelar dan profil dari tokoh sejarah asli, yakni Raja Mirbat (Muhammad bin Ahmad Al-Aqhal), yang kemudian diklaim sebagai leluhur klan mereka untuk membangun citra kemuliaan di masa lalu.

4. Implikasi Sosiologis: Hegemoni Spiritual vs Logika Sehat
Konstruksi sejarah ini berujung pada terciptanya “Privilese Spiritual” yang kebablasan. Muncul doktrin bahwa nasab tertentu memiliki kekebalan moral, di mana tindakan amoral dianggap tidak akan memengaruhi status kesuciannya. Gus Aziz memperingatkan bahwa jika hal ini dibiarkan, akan terjadi penjajahan spiritual yang melumpuhkan daya kritis umat dalam membedakan antara kebenaran agama dan kultus individu.

5. Mengembalikan Kedaulatan Budaya Nusantara
Narasi ini bukan sekadar soal debat silsilah, melainkan upaya Dekolonisasi Mental. Kita diingatkan untuk tidak terjebak pada tren “Tarim-sentris” yang perlahan menggerus tradisi luhur selawat dan puji-pujian asli Nusantara yang sebenarnya memiliki bobot spiritualitas yang sangat orisinal.
Kesimpulan,
Kecintaan kita pada dzurriyah Nabi harus dibarengi dengan kecerdasan literasi. Jangan sampai mudah percaya dengan klaim cucu Nabi tanpa bukti, bahkan tujuan klaim tersebut cenderung menindas dan menghegemoni dalam jangka panjang pribumi Indonesia.
Menghormati manusia adalah adab, namun memverifikasi kebenaran sejarah adalah tanggung jawab intelektual. Saatnya umat kembali pada Islam yang berbasis data dan fakta, bukan sekadar dongeng yang dikonstruksi demi otoritas kelompok.
— Red./SL.