Mengapa Ulama Dahulu Menerima Klaim Ba‘alawi sebagai Cucu Nabi?
Mengapa Ulama Dahulu Menerima Klaim Ba‘alawī—dan Mengapa Penerimaan Itu Runtuh oleh Fakta yang Terlambat Terbuka
Penerimaan ulama klasik terhadap klaim Ba‘alawī bukan legitimasi total, apalagi pembenaran teologis. Ia adalah penerimaan pasif dalam konteks keterbatasan informasi dan fungsi klaim yang saat itu belum berbahaya.
Yang meruntuhkan kepercayaan hari ini bukan perubahan sikap, melainkan terbukanya fakta dan data, serta dampak laten dari klaim yang dulu dibiarkan.
Ini penting:
– ulama dahulu tidak sedang mengesahkan sistem;
– ulama hari ini sedang membongkar akibat sistem itu.
1. Ulama Klasik Menerima karena Klaim Itu Belum Berfungsi sebagai Alat Kekuasaan
Pada fase awal, klaim Ba‘alawī:
– bersifat narasi identitas internal;
– tidak dipakai untuk menundukkan ulama lain;
– tidak dijadikan dasar hierarki kebenaran;
– dan belum menyusup ke struktur organisasi umat.
Dalam kondisi itu, ulama klasik tidak punya alasan syar‘i maupun ilmiah untuk melakukan pembongkaran.
Menguji nasab orang yang tidak menggunakannya sebagai senjata politis, menghegemoni umat, serta memonopoli narasi keagamaan dan sejarah bangsa, bukan prioritas ilmu.
Dengan kata lain:
> klaim itu tidak mengganggu ekosistem kebenaran.
2. Ulama Dulu Tidak Mengetahui Dosa-Dosa Struktural yang Terjadi Belakangan
Ini titik krusial yang sering diabaikan.
Ulama klasik tidak hidup di zaman ketika:
– nasab dipakai untuk menutup kritik;
– khurafat dilembagakan sebagai doktrin;
– makam-makam direkayasa untuk legitimasi;
– ulama lokal “dinisbahkan” ke jalur tertentu;
– dan sejarah Nusantara bahkan sejarah NU ditulis ulang secara sepihak.
Semua itu terjadi belakangan, berkembang perlahan, lintas generasi, dan seringkali di luar radar ulama arus utama.
Maka penerimaan dulu tidak bisa dibaca sebagai persetujuan atas kejahatan yang belum terjadi.
3. Khurafat Baru Terlihat Ketika Ia Menjadi Sistem, Bukan Praktik Sporadis
Praktik menyimpang selalu ada dalam sejarah Islam.
Yang membedakan hari ini adalah skalanya.
Ketika:
– keistimewaan darah diajarkan sistematis;
– keselamatan disandarkan pada afiliasi nasab;
– kritik dianggap adab tercela;
– dan kesucian dipindahkan dari amal ke garis keturunan;
maka ulama tidak lagi melihat ini sebagai penyimpangan individu,
melainkan doktrin kolektif yang merusak akidah awam.
Dan di titik itu, diam berubah menjadi dosa.
4. Pemalsuan Sejarah Baru Terbaca Setelah Polanya Lengkap
Ulama dahulu:
– tidak punya peta besar rekayasa nasab;
– tidak melihat keterhubungan antar-makam-makam yang dimanipulasi;
– tidak menyaksikan pola “peng-Yaman-an” ulama Nusantara;
– dan tidak hidup di era arsip terbuka.
Hari ini, kita melihat kesamaan pola:
– tokoh lokal dihubungkan ke jalur yang sama;
– makam-makam tokoh dan ulama diproduksi ulang;
– peran sejarah digeser;
– dan bahkan, narasi kepahlawanan dan kewalian diklaim sepihak.
Jadi, ini baru terbaca sebagai sistem setelah semua potongan terkumpul.
Dulu potongannya tercecer; sekarang gambarnya utuh.
5. Runtuhnya Kepercayaan Adalah Akibat, Bukan Agenda
Kepercayaan runtuh bukan karena ulama berubah pikiran,
tetapi karena objek kepercayaan itu menampakkan dampaknya secara telanjang.
Ketika klaim nasab terbukti:
– melahirkan doktrin khurafat massal yang disebarkan secara sistemik;
– merusak etika keilmuan;
– mencederai sejarah bangsa Indonesia dan NU;
– mengasingkan ulama lokal;
– dan mengaburkan identitas Islam Nusantara,
maka menjaga kepercayaan lama justru menjadi pengkhianatan terhadap amanah ilmu.
6. Ini Evolusi Tanggung Jawab Ilmiah
Ulama dahulu bertanggung jawab atas zamannya.
Ulama hari ini bertanggung jawab atas akibat yang kini nyata.
Tidak ada kontradiksi.
Yang ada adalah kelanjutan amanah.
Jika ulama hari ini tetap diam:
mereka bukan sedang menjaga tradisi,
tapi sedang mewariskan kebohongan sebagai warisan iman.
* Maka dapat disimpulkan bahwa,
Ulama dahulu menerima karena belum melihat bahaya sistemiknya.
Ulama hari ini menolak karena bahaya itu sudah menjadi fakta sosial, teologis, dan historis.
Yang berubah bukan prinsip,
melainkan tanggung jawab terhadap kebenaran yang kini tak lagi bisa disembunyikan.
Dan ketika kebohongan sudah menjelma doktrin,
diam bukan adab—diam adalah pengkhianatan!
Sumber: Suluk Matan di Facebook