Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
Judul asal: Muhammad Abubakar Badzib Bongkar Kedustaan Zen Bin Sumet Dan Rumail Abbas Tentang Ibnu Hajar
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Agaknya Itulah ungkapan yang pantas di berikan untuk nasab dan sejarah klan Ba’alwi. Zaman kini telah bosan tak memberinya celah untuk mengulur waktu lagi. Kasih tak mau lagi mencurah untuk membiarkannya berdusta lagi. Seakan semua mata hanya menatap penuh curiga: alasan apalagi yang hendak kau sampaikan. Seakan semua kesempatan telah menutup tirainya: tiada lagi waktu yang akan aku berikan. Bilakah angin kan berhenti membawa kabar kebenaran; bilakah matahari tetap bersembunyi di balik malam; agar anak-anak bodoh kan tetap dalam genggaman; Dan kedunguan kan tetap menjadi pijakan. Agaknya semua telah sampai pada ujungnya.
Usaha Rumail Abbas untuk membela Baalwi dalam kasus bahwa “nasab lebih mulia dari ilmu”, atas nama Ibnu Hajar, kandas. Kutipan Zen bin Sumet dalam kitabnya Al-Manhajussawi, yang menyatakan bahwa Ibnu Hajar mengunggulkan nasab dari pada ilmu, terbukti palsu.
Kronologis cerita ini: saya menyatakan ajaran bahwa nasab lebih mulia dari ilmu itu adalah murni ajaran Baalwi, tidak ada ulama lain yang mempunyai pendapat seperti klan Baalwi tersebut. Saya membantah Ustad Ajir Ubaidillah, dan sebelumnya Ustad Idrus Ramli, yang menyatakan bahwa Imam Al-Sindi dan Ibnu hajar menyatakan pendapat seperti klan Baalwi: nasab lebih mulia dari ilmu. Adanya berita bahwa Imam Al-Sindi dan Ibnu Hajar mengatakan itu adalah berita hoak yang terdapat dalam kitab Al-Manhajussawi karya Zen bin Sumet. Imam Al-Sindi dan Ibnu hajar tidak pernah menyatakannya. Lalu Rumail membantahnya, kemudian saya menantang Rumail Abbas untuk membawakan kitab Imam Al-Sindi dan Ibnu Hajar yang menyatakan seperti apa yang dikutip Zen bin Sumet. Tetapi Rumail tidak mampu.
Rumail tidak mampu membawakan kutipan asli Imam Al-Sindi dari kitab Imam Al-Sindi sendiri bahwa “Seorang Syarif yang bodoh lebih mulia dari 70 puluh ulama”. Bahkan, bisa jadi kutipan Imam Al-Sindi itu tak pernah dikutip oleh ulama lain selain dari klan Baalwi. Sampai saat ini, hanya kitab Zen bin Sumet dan klan Baalwi lainnya yang memuat kedustaan itu. Tentang kutipan Ibnu Hajar yang mengunggulkan nasab, Rumail juga tidak mampu membuktikan bahwa itu betul-betul ucapan Ibnu Hajar. Itu hanyalah ucapan Baalwi yang berdusta atas nama Ibnu Hajar.
Lalu Rumail membawakan sebuah kitab yang berjudul Waridatul Gaib karya Syekh Muhammad Mahdi Bahauddin bin Ali Al-Rawas Al-Rifa’I (w.1870 H.). Dalam kitab itu, kutipan yang sama tentang ucapan Ibnu Hajar ditemukan. Dengan itu Rumail Abbas berhujjah bahwa sebelum Zen bin Sumet yang sekarang masih hidup, tahun 1870 Masehi sudah ada ulama yang mengutip itu namanya Syekh Mahdi dari klan Al-Rifa’i. Berarti, kata Rumail, tesis yang menyatakan keunggulan nasab dari pada ilmu, bukan khas ajaran klan Baalwi, karena ternyata ada ulama yang bukan klan Baalwi pun mengutip pendapat Ibnu hajar itu. Rumail merasa mendapatkan angin.
Saya mengatakan: tidak bisa pendapat Ibnu Hajar di di dalam kitab orang lain disebut sahih sebagai pendapat Ibnu Hajar, sementara dalam kitabnya tidak ditemukan. Di tambah justru yang ditemukan dalam kitab Ibnu Hajar pendapatnya bertentangan dengan kutipan itu. Ibnu Hajar lebih mengunggulkan ilmu daripada nasab. Bagi Ibnu Hajar seorang perempuan anak ulama lebih mulia daripada seorang anak laki-laki dari syarif yang bodoh (lihat Al Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra halaman 101 juz 4 ). Jelas apa yang dilakukan klan Baalwi yang menyatakan bahwa Ibnu Hajar lebih mengunggulkan nasab daripada ilmu adalah sebuah pencatutan yang memalukan.
Kendati demikian, saya belum menemukan kitab tua Baalwi yang mengutip kutipan Ibnu Hajar itu. Sehingga kemungkinan yang berdusta bukan klan Baalwi tetapi Syekh Mahdi al-Rifa’I sangat kuat. Tetapi kebenaran selalu mempunyai jalannya sendiri. Doktor Muhammad Abu Bakar Badzib dalam tulisan yang ditemukan Gus Aziz Jazuli membocorkan rahasia bahwa kutipan tentang Ibnu Hajar itu telah ada dalam kitab-kitab tua Baalwi mulai abad ke 12 Hijriyah. Dari situ jelas bahwa Syekh Mahdi al-Rifa’I bukan orang pertama yang mengutip itu dengan dusta, tetapi ia hanya mengutip dari kitab-kitab Baalwi abad 12 Hijriah.
Kitab-kitab Baalwi yang memuat kutipan palsu Ibnu Hajar itu terdapat dalam kitab Iqdul Jawahir karya seorang Baalwi yang Bernama Abdurrahman bin mushtofa alidrus (w.1192) lihat halaman 291 dari kitab tersebut. Selain kitab Iqdul Jawahir dari abad 12 Hijriah, kutipan palsu Ibnu Hajar itu juga terdapat dalam kitab yang ditulis abad 13 Hijriah yaitu kitab Al-Qaulul Waf karya Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah Alhadad (w. 1232 H.) lihat halaman 61 dari kitab tersebut. Dengan ini, runtuhlah tesis Rumail bahwa kutipan palsu Ibnu Hajar itu pertama kali ditemukan di dalam kitab non Baalwi, karena ternyata kutipan palsu tentang bahwa nasab lebih mulia dari ilmu itu bukan berasal dari non Baalwi tetapi memang betul-betul hanya berasal dari kaum Baalwi.
Sekarang, akankah Rumail, Ajir, Idrus Ramli akan sadar, atau akan terus berada di tempat yang salah?
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani