Tips Sukses Ceramah Agama di Depan Ibu dan Emak-emak
Oleh: KH. Dr. Rijal Mumazziq Z
Ceramah di depan ibu-ibu, siang hari pula, di tengah terik cuaca dan setelah rangkaian acara penampilan santri cilik, itu beda dengan di komunitas akademik seperti kampus maupun pesantren, yang lebih “fragmented” dan tersegmentasi.
Di antara kunci keberhasilan penyampaian materi di depan emak-emak:
1. Suara lantang, sesekali menghentak, sesekali pula menirukan ekspresi gestur wajah ala emak-emak dan intonasi khas kaum hawa, khususnya pas lagi sewot. Mengajak menertawakan diri. Cukupkan, janga berlebihan, supaya materi tetap tersampaikan
2. Komunikatif, sapaan “Buuuuu.”, “Leres nopo mboten?”, “Nggih nopo mboten?”, “Ada atau tidak?”, “Sepakat?”. Secukupnya saja, tidak terlampau sering.
3. Edarkan tatapan mata. Jamaah posisi di kiri-kanan, pojok, maupun belakang, disapa. Kasih joke pula biar suasana cair. Humor menertawakan diri kita bersama-sama, bukan hinaan.
4. Saat fokus jamaah mulai pecah, ajak bershalawat bersama, lantunkan jenis shalawat yang populer, maksimal 1 menit. Semacam menyatukan kembali konsentrasi jamaah.
5. Pakai skema topik. Tentukan 3 poin dalam pengajian. Ini pola ala Rasulullah ketika menjawab pertanyaan para sahabat. Misal, 3 trik supaya rezeki melimpah, 3 metode ulama salaf dalam mendidik anak, 3 hikmah puasa, 3 tanda puasa kita diterima, dan skema 3 lainnya. 2 poin terlalu sedikit, lebih dari 3 sulit diingat.
Poin A, B, C yang mudah dihafal intisarinya. Bisa juga pakai singkatan istilah supaya jamaah mudah memahami bahkan sepulang pengajian masih ingat materi yang kita sampaikan.
6. Skema pengulangan. Jamaah mungkin ada yang ngantuk, tidak konsentrasi, atau daya ingatnya kurang baik. Ulangi, ulangi dan ulangi. Jika diulang per poin sambil mengajak jamaah menirukan, maka semakin baik menambah pemahaman mereka.
7. Ajak menirukan satu petikan ayat atau potongan hadits yang mudah dihafal. Disertakan nomor ayatnya atau hadits riwayat siapa. Lanjut ceramah. Kemudian berhenti sejenak, ajak hadirin-hadirat mengulangi ayat atau haditsnya. Ini akan mematri ingatan mereka.
8. Sertakan satu kisah yang valid dan otoritatif, jangan ngarang! Dai/mubaligh boleh keliru, bahkan salah, tapi tidak boleh berdusta. Hikayat berkisar pada hal-hal yag relevan dengan keadaan kaum perempuan yang memotivasi mereka untuk meniru. Saya jarang, sekali lagi, jarang menyampaikan keramat atau hal-hal yang khariqul adat yang bombastis, yang hanya menjadi “kembang lambe”. Sebagai gantinya nukil kisah-kisah “wong cilik” yang bisa melahirkan tokoh-tokoh besar. Atau orang biasa dengan kiprah luar biasa, atau sosok orang kecil dengan jejak keteladanan lain. Intinya, sampaikan kisah yang bisa ditiru oleh jamaah, baik keistiqomahan, kebaikan maupun akhlak tokoh yang dituturkan. Bukan kisah “mengawang-awang”.
9. Hindari humor JOROK, candaan penghinaan personal, apalagi joke seksis/seksual-sensual, hindari pula pembahasan justifikatif janda, dan menjadikan janda sebagai obyek pe le ceh an verbal.
10. Puji dan apresiasi daya ingat jamaah terhadap materi yang kita sampaikan. Syukur jika kita bawa sangu maupun hadiah bagi jamaah yang bisa mengulas poin-poin materi.
11. Sebelum ditutup, review materi yang telah disampaikan dengan mengajak jamaah mengingat dan melafalkan pokok materi. Dai/mubalih menjadi pemandunya.
12. Jangan lupa puji tukang sound sistem baik di awal, tengah, maupun menjelang akhir pengajian atas setelan sound yang tepat: tidak mbenging, tidak menggema, tidak kemresek. Itung-itung ini promosi gratis bagi mereka di depan khalayak ramai.
Wallahu A’lam Bisshawab
Pagi-siang hari ini di Yayasan Pendidikan Islam al-Asna, Bendorejo, Karangrejo Gumukmas Jember.