Walisongo Bukan Baalawi (Habib): Mengakhiri hegemoni silsilah Yaman yang mencoba memori kolektif bangsa Indonesia / Nusantara
Oleh: Nusantara Excited
Selama berabad-abad, sebuah narasi besar telah mencengkeram ingatan kolektif umat Islam di Nusantara: bahwa Walisongo adalah bagian dari klan Ba’alawi asal Hadhramaut, Yaman. Namun, benarkah demikian? Ataukah ini hanyalah sebuah upaya “kooptasi sejarah” demi melegitimasi otoritas spiritual di tanah Jawa? Belakangan, sebuah badai ilmiah menyapu kemapanan klaim ini, membongkar lubang hitam silsilah yang selama ini tertutup rapat oleh jubah “kesucian” nasab.
Para imigran Yaman dari klan Ba’alawi, melalui organisasi seperti Rabithah Alawiyah, secara konsisten mengklaim bahwa Walisongo adalah keturunan Sayyid Abdul Malik (Azmatkhan), yang merupakan cucu dari tokoh Ba’alawi di Hadhramaut. Narasi ini menempatkan Ba’alawi sebagai “induk” dari segala gerakan dakwah di Nusantara, menciptakan persepsi bahwa tanpa klan ini, Islamisasi Jawa tidak akan pernah terjadi. Klaim ini bahkan meluas hingga mencakup pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, yang disebut-sebut sebagai bagian dari keluarga besar mereka.
Gugatan paling mematikan datang dari penelitian KH Imaduddin Utsman yang menemukan “skandal filologis” dalam silsilah Ba’alawi. Nama Ubaidillah, yang diklaim sebagai leluhur utama Ba’alawi, ternyata tidak ditemukan dalam satu pun kitab nasab primer (sezaman) yang ditulis antara abad ke-4 hingga abad ke-9 Hijriah.
Nama tersebut baru muncul secara ajaib pada abad ke-9 H dalam karya Ali bin Abu Bakar al-Sakran, tanpa ada rujukan naskah kuno yang kredibel. Secara historis, ini adalah kegagalan fatal: bagaimana mungkin silsilah Nabi Muhammad SAW memiliki “lubang sejarah” selama setengah milenium? Kesimpulannya pedas: Ubaidillah diduga kuat merupakan sosok fiktif yang disisipkan untuk “mencangkokkan” nasab Ba’alawi ke garis keturunan Rasulullah.
Jika tinta naskah dianggap bisa dimanipulasi, maka DNA tidak bisa berbohong. Hasil uji genetika molekuler menunjukkan perbedaan yang “menampar” klaim Ba’alawi. Garis keturunan Nabi Muhammad SAW (Bani Hashim/Quraisy) secara ilmiah diakui memiliki “tanda tangan genetik” Haplogroup J1-L858.
Namun, mayoritas klan Ba’alawi secara mengejutkan berada pada Haplogroup G (G-M201), yang secara antropologis lebih dekat dengan populasi Kaukasus atau Persia, bukan Arab Adnani. Sebaliknya, banyak keturunan Walisongo di Jawa justru menunjukkan profil J1, yang membuktikan bahwa mereka memiliki identitas biologis yang berbeda dan lebih “Arab” daripada klan yang mengklaim sebagai induk mereka. Perbedaan puluhan ribu tahun antar-haplogroup ini menjadikan klaim Ba’alawi sebagai keturunan biologis Nabi adalah sebuah kemustahilan saintifik.
Klaim Ba’alawi tentang pengakuan dunia internasional pun mulai rontok. Buku As-Suyuful Mujriyah mengungkap bahwa Naqabah Ashraf Thalibiyin di Irak—lembaga paling otoritatif di pusat dunia Islam—secara resmi menolak keabsahan nasab Ba’alawi karena bukti-bukti yang tidak valid.
Di sisi lain, silsilah Walisongo justru mendapatkan pengakuan independen dari Naqobah-naqobah di Maroko dan Uzbekistan, melalui jalur yang berbeda sama sekali dari jalur administratif Yaman. Ini memperkuat indikasi bahwa Walisongo adalah entitas silsilah mandiri yang “dipaksa” masuk ke dalam struktur Ba’alawi demi kepentingan pengaruh sosial di Indonesia.
Klaim bahwa Walisongo adalah Ba’alawi kini tampak lebih sebagai mitos sosiopolitik daripada fakta sejarah yang kokoh. Dengan rontoknya bukti tekstual selama 550 tahun dan bukti DNA yang menunjukkan anomali haplogroup, umat kini diajak untuk melihat sejarah secara lebih kritis. Walisongo adalah pahlawan Nusantara yang kemuliaannya tidak perlu bersandar pada pengakuan klan imigran manapun, terutama klan yang keabsahannya sendiri kini tengah berada di ujung tanduk pembatalan ilmiah.
Sumber Referensi Utama:
* al-Bantani, Imaduddin Utsman. Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia.
* Tim Pengawal Persatuan Ummat. Keabsahan Nasab Ba’alawi: Membongkar Penyimpangan Pembatalnya.
* Sunyoto, Agus. Atlas Wali Songo.
* Fauzi, Ahmad. The Mirage of Lineage: Why the Ba’alwi Claims Must Be Set Aside.
* Naskah Resmi Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT).
* Kitab As-Suyuful Mujriyah (Dr. Yasin Al-Kalidari).