Di tengah gelombang dakwah yang seharusnya menebarkan rahmat, seorang tokoh dari klan Ba’alawi yang nasabnya kerap dipertanyakan justru melemparkan penghinaan paling kasar terhadap mayoritas penduduk negeri ini. HRA, Habib Rifky Alaydrus, yang dikenal sebagai Habib Ba’alawi dari klan Alaydrus, dengan lantang dan penuh tawa mengolok-olok wajah pribumi Indonesia dalam ceramah humornya yang kini menjadi bahan bakar amarah publik.
“Limited edition ini, muka-muka impor. Kalau lo kan muka lokal… hidung pesek, pipi tembem, mata belo persis kayak celengan Semar!” demikian katanya sambil terus memprovokasi pendengar, “Terusin gak? Yang mana nih? Celengan Semar?” Pernyataan ini bukan sekadar kelakar ringan, melainkan body shaming sistematis yang langsung menyasar ciri fisik khas pribumi: hidung pesek, pipi tembem, dan mata belo. Ia sengaja membandingkannya dengan “muka impor” yang dianggap lebih unggul, seolah-olah status Ba’alawinya memberi hak istimewa untuk merendahkan tuan rumah tanah air.
Meskipun keluarganya telah lama tinggal di Jawa Barat, HRA merupakan individu yang berpijak pada tanah dan budaya pribumi. Namun marga Alaydrus yang ia sandang membuatnya merasa berhak memposisikan diri sebagai superior atas pribumi Indonesia, kelompok yang kerap memandang rendah masyarakat lokal. Ironis, bukan? Seorang yang hidup, berdakwah, dan meraup keuntungan dari kebaikan pribumi Indonesia justru menjadikan ciri khas bangsa ini sebagai bahan ejekan murahan.
Reaksi masyarakat tak bisa dibendung. Ribuan netizen langsung membanjiri media sosial dengan kecaman pedas: “Rasulullah akhlaknya tidak begini. Dia ikut akhlak siapa?” dan “Secara langsung ia telah menghina ciptaan Allah SWT. Miris melihat pemuka agama seperti ini.” Kontroversi ini meledak sejak Agustus 2025 setelah video ceramahnya beredar luas di berbagai platform media sosial, dan hingga kini terus bergulir. Bahkan laporan resmi ke Polda Metro Jaya telah dilayangkan, bukan hanya atas penghinaan ini, melainkan juga kasus perzinaan yang turut menyeret namanya.
Klarifikasi yang kemudian dilontarkan HRA—bahwa itu “hanya candaan”—hanya menambah kemarahan. Bagaimana mungkin seorang Habib Ba’alawi dengan nasab yang kabur ini membela penghinaan dengan dalih humor murahan? Ini bukan candaan, melainkan cerminan arogansi kelompok tertentu yang selama ini menikmati privilege di Indonesia sambil diam-diam memandang rendah “muka lokal” yang mereka anggap rendahan.
Sudah saatnya pribumi Indonesia bangkit dari tidur panjang. Jangan biarkan para Habib Ba’alawi yang sok suci ini terus meracuni dakwah dengan racun superioritas palsu. Mereka hidup di tanah kita, makan rezeki kita, tapi berani menghina wajah kita sendiri. Cukup!
Sumber: Nusantara Excited