PANGERAN DIPONEGORO JUGA MAU DI HABIB KAN
Belakangan ini, ruang publik diramaikan oleh fenomena “Ba’alawikan”, sebuah tren yang mencoba mengaitkan silsilah pahlawan-pahlawan besar Nusantara dengan klan Ba’alawi dari Hadhramaut, Yaman. Salah satu tokoh sentral yang menjadi subjek klaim ini adalah Pangeran Diponegoro, yang disebut-sebut memiliki marga Arab seperti Assegaf, Bin Yahya, atau Ba’abud. Namun, jika kita menyelami catatan resmi dan sejarah primer, narasi ini justru berbenturan dengan fakta yang ada.
Berdasarkan dokumen resmi Keraton Yogyakarta dan otobiografi Babad Diponegoro, sang Pangeran adalah keturunan murni dinasti Mataram Islam. Beliau lahir sebagai putra sulung Sultan Hamengkubuwono III dan merupakan cicit dari pendiri Yogyakarta, Hamengkubuwono I. Garis patrilinealnya tersambung lurus hingga ke Panembahan Senopati, bahkan ditarik lebih jauh ke Raden Bondan Kejawan, putra Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Tidak ada satu pun dokumen sezaman yang menyebutkan adanya infiltrasi nasab Ba’alawi dalam garis lurus ayah maupun ibunda beliau, R.A. Mangkarawati.
Lantas, dari mana klaim ini muncul? Kuat dugaan hal ini berakar dari kedekatan sosiokultural Diponegoro dengan komunitas Arab selama Perang Jawa (1825-1830). Beliau memang didukung oleh tokoh-tokoh Hadhrami, salah satunya Sayid Ibrahim Ba’abud yang menjadi penasihat dan panglima kavaleri kepercayaan. Relasi ini bahkan dipererat melalui pernikahan, di mana Sayid Ibrahim menjadi besan (mertua dari anak) Diponegoro. Namun, dalam tradisi genealogis, hubungan besan atau kedekatan spiritual sebagai santri tidak secara otomatis mengubah nasab seseorang menjadi bagian dari klan tersebut.
Upaya “Ba’alawikan” ini menuai kritik tajam karena dianggap sebagai bentuk kooptasi sejarah yang dapat mengaburkan identitas pahlawan pribumi. Para pengkritik, termasuk tokoh politik dan ahli nasab seperti KH Imaduddin Utsman, menekankan bahwa mengeklaim pahlawan nasional sebagai bagian dari kelompok imigran tertentu tanpa bukti ilmiah adalah tindakan penyesatan sejarah. Hal ini berisiko menciptakan persepsi bahwa bangsa ini seolah-olah tidak mampu berjuang tanpa “darah luar”, yang pada akhirnya dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi sejarah resmi seperti Keraton.
Pangeran Diponegoro adalah simbol perlawanan rakyat Jawa yang luhur. Menjaga kemurnian sejarah beliau bukan berarti menutup mata terhadap peran komunitas Arab dalam perjuangan kemerdekaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap jati diri asli sang Pangeran sebagai ksatria Mataram yang menjalankan mandat spiritual bagi tanah Jawa.
Sumber Referensi:
* Carey, Peter. (2014). Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).
* Carey, Peter. (2011). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855.
* Diponegoro, Pangeran. (1831-1832). Babad Diponegoro (Manuskrip Otobiografi).
* Silsilah Keturunan Pangeran Diponegoro (Arsip Keraton Yogyakarta)..
* Siti Hidayati Amal. Studi Antropologi Komunitas Arab-Jawa (Ba’abud). Universitas Indonesia.