Haid sehari bersih sehari bolehkah puasa saat bersih

Haid sehari bersih sehari bolehkah puasa saat bersih apabila belum melewati 15 hari?

Assalamualaikum, istri saya keluar darah 4 hari setelah berhenti lalu puasa ramadhan. keluar darah lagi hari ke 13 ,apakah puasanya disaat suci masih di qodlo’?

JAWABAN

Masa berhenti haid dianggap suci dan boleh shalat dan puasa

Tidak perlu diqodho. Menurut satu pendapat, masa tidak keluar darah itu dianggap masa suci. Oleh karena itu, dia wajib dan sah untuk puasa dan shalat.

Imam Nawawi dalam kitab Roudotut Tolibin, hlm. 1/168, menjelaskan:

إذا انقطع دمها فرأت يوما دما ويوما نقاء . أو يومين ويومين . فتارة يجاوز التقطع خمسة عشر ، وتارة لا يجاوزها . فإن لم يجاوزها ، فقولان
أظهرهما عند الأكثرين : أن الجميع حيض . ويسمى قول السحب . والثاني : حيضها الدماء خاصة . وأما النقاء فطهر . ويسمى : قول التلفيق . وعلى هذا القول إنما نجعل النقاء طهرا في الصوم والصلاة والغسل ونحوها دون العدة

Artinya: Apabila darah haid itu putus-putus: satu hari ada darah hari berikutnya bersih, atau dua hari dua hari. Maka, terkadang putus-putusnya itu melewati 15 hari, terkadang tidak melewati 15 hari. Apabila tidak melewati 15 hari, maka ada dua pendapat. Pertama, yang paling zhahir menurut kebanyakan ulama adalah bahwa semua hari dianggap haid. Ini disebut pendapat Al-Sahb. Kedua, yang dianggap haid khusus yang ada darah saja sedangkan saat bersih dianggap suci. Ini disebut pendapat At-Talfiq. Apabila ikut pendapat kedua ini, maka masa bersih (tidak ada darah) itu dianggap masa suci untuk melakukan puasa, shalat dan mandi besar, dan lainnya selain iddah.
Baca detail: Wanita Haid

Beda fatrah (jeda) dan naqa’ (Bersih) wanita haid

Haid yang berhenti sebelum waktunya dan kadang muncul lagi sebelum 15 hari itu ada dua jenis: fatrah dan naqa’.

Imam Nawawi dalam Roudotut Tolibin, hlm. 1/168, menjelaskan:

قال إمام الحرمين في الفرق بين الفترة والنقاء دم الحيض يجتمع في الرحم ، ثم الرحم يقطره شيئا فشيئا ، فالفترة ما بين ظهور دفعة وانتهاء أخرى من الرحم إلى المنفذ فما زاد على ذلك فهو النقاء .

قال الرافعي : وربما تردد الناظر ، في أن مطلق الزائد ، هل يخرج عن الفترة ؛ لأن تلك مدة يسيرة ؟ .

قلت : الصحيح المعتمد في الفرق أن الفترة هي الحالة التي ينقطع فيها جريان الدم ، ويبقى أثر ، بحيث لو أدخلت في فرجها قطنة ، لخرج عليها أثر الدم من حمرة ، أو صفرة ، أو كدرة ، فهذه حالة حيض قطعا طالت أم قصرت .

والنقاء : أن يصير فرجها بحيث لو أدخلت القطنة ، لخرجت بيضاء ، فهذا الضبط ، هو الذي ضبطه الإمام الشافعي رضي الله عنه في ( الأم ) والشيوخ الثلاثة : أبو حامد الإسفراييني ، وصاحبه القاضي أبو الطيب ، وصاحبه الشيخ أبو إسحاق الشيرازي في تعاليقهم . فلا مزيد عليه ، ولا محيد عنه . والله أعلم .

Artinya: Imamul Haramain (Al-Juwaini) mengatakan dalam masalah perbedaan antara fatrah dan naqa’ dari darah haid yang berkumpul pada rahim. Lalu rahim mengeluarkan darah sedikit sedikit. Fatrah itu terjadi antara munculnya darah haid satu kali dan berhentinya di kali yang lain dari rahim sampai manfadz (jalan keluar). Sisanya disebut naqa’.

Imam Rafi’i berkata: analisanya agak membingungkan terkait sisa waktu secara mutlak itu apakah keluar dari fatrah, karena masanya sebentar? Menurut saya (Imam Nawawi): yang benar dan muktamad dalam perbedaan ini adalah bahwa fatrah adalah keadaan terputusnya keluarnya darah tapi masih ada sisanya. Dalam arti seandainya dimasukkan kapas ke dalam kemaluannya, niscaya akan keluar bekas darah baik yang berwarna merah, kuning atau keruh. Keadaan ini jelas masih haid. Lama waktunya atau sebentar.

Sedangkan naqa’ adalah di mana kemaluan wanita dalam kondisi bersih yang seandainya dimasukkan kapas ke dalam kemaluannya niscaya keluar berwarna putih. Definisi ini sebagaimana batasan Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm dan tiga guru yaitu Abu Hamid Al-Isfirayini, Qadhi Abu Tayyib dan Abu Ishaq As-Syirazi dalam kitab-kitab syarah mereka.

Cara konsultasi Islam gratis

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *