Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Bab Shalat Kitab Fathul Qarib

bab shalat fathul qorib

Bab Shalat Kitab Fathul Qarib

Daftar isi

  1. KITAB HUKUM-HUKUM SHOLAT
    1. BAB SYARAT WAJIB SHOLAT
    2. BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT
    3. BAB RUKUN-RUKUN SHOLAT
    4. BAB KESUNAHAN-KESUNAHAN SHOLAT
    5. BAB HAL-HAL YANG BERBEDA ANTARA LELAKI & WANITA
    6. BAB HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT
    7. BAB HAL-HAL YANG DITINGGALKAN SAAT SHOLAT
    8. BAB WAKTU-WAKTU YANG DIMAKRUHKAN
    9. BAB SHOLAT JAMA’AH
    10. BAB QASHAR & JAMA’
    11. BAB SHOLAT JUM’AT
    12. BAB SHOLAT HARI RAYA
    13. BAB SHOLAT GERHANA
    14. BAB SHOLAT ISTISQA’
    15. BAB SHOLAT KHAUF (KEADAAN GENTING)
    16. BAB PAKAIAN
    17. BAB JENAZAH
  2. TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB


KITAB HUKUM-HUKUM SHOLAT

Sholat secara bahasa adalah do’a. Dan secara syara’, sebagaimana yang di sampaikan oleh imam ar Rafi’i, adalah ucapan dan pekerjaan yang di mulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu. وَهِيَ لُغَةً الدُّعَاءُ وَشَرْعًا كَمَا قَالَ الرَّافِعِيُّ أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكَبِيْرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَةٍ.
Sholat yang difardlukan ada lima. Dalam sebagian redaksi menggunkan bahasa “sholat-sholat yang difardlukan”. (الصَّلَاُة الْمَفْرُوْضَةُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ الصَّلَوَاتُ الْمَفْرُوْضَاتُ (خَمْسٌ)
Masing-masing dari sholat tersebut wajib di laksanakan sebab masuknya awal waktu dengan kewajiban yang diperluas (tidak harus segera dilakukan) hingga waktu yang tersisa hanya cukup digunakan untuk melakukannya, maka saat itu waktunya menjadi sempit (harus segera dilakukan). يَجِبُ كُلٌّ مِنْهَا بِأَوَّلِ الْوَقْتِ وُجُوْبًا مُوَسَّعًا إِلَى أَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَا يَسَعُهَا فَيَضِيْقُ حِيْنَئِذٍ.

 

Sholat Dhuhur

 

Yaitu sholat Dhuhur. Imam an Nawawi berkata, “sholat ini disebut dengan Dhuhur karena sesungguhnya sholat ini nampak jelas di tengah hari.” (الظُّهْرُ) أَيْ صَلَاتُهُ قَالَ النَّوَوِيُّ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهَا ظَاهِرَةٌ وَسَطَ النَّهَارِ.
Awal masuknya waktu sholat Dhuhur adalah saat tergelincirnya, maksudnya bergesernya matahari dari tengah langit, tidak dilihat dari kenyataannya, namun pada apa yang nampak oleh kita. (وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ) أَيْ مَيْلُ (الشَّمْسِ) عَنْ وَسَطِ السَّمَاءِ لَا بِالنَّظَرِ لِنَفْسِ الْأََمْرِ بَلْ لِمَا يَظْهَرُ لَنَا
Pergeseran tersebut bisa diketahui dengan bergesernya bayang-bayang ke arah timur setelah posisinya tepat di tengah-tengah, yaitu puncak posisi tingginya matahari. وَيُعْرَفُ ذَلِكَ الْمَيْلُ بِتَحَوُّلِ الظِّلِّ إِلَى جِهَةِ الْمَشْرِقِ بَعْدَ تَنَاهِيْ قَصْرِهِ الَّذِيْ هُوَ غَايَةُ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ
Dan batas akhirnya waktu sholat Dhuhur adalah ketika bayang-bayang setiap benda seukuran dengan bendanya tanpa memasukkan bayang-bayang yang nampak saat zawal (gesernya matahari). (وَآخِرُهُ) أَيْ وَقْتِ الظُّهْرِ (إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْئٍ مِثْلَهُ بَعْدَ) أَيْ غَيْرَ (ظِلِّ الزَّوَالِ)
Dhil secara bahasa adalah penutup/ pelindung, engkau berkata, “aku berada di bawah dhilnya fulan”, maksdnya perlindungannya. وَالظِّلُّ لُغَةً السَّتْرُ تَقُوْلُ أَنَا فِيْ ظِلِّ فُلَانٍ أَيْ سَتْرِهِ
Bayang-bayang bukan berarti tidak adanya sinar matahari sebagaimana yang di salah fahami, akan tetapi bayang-bayang adalah perkara wujud yang di ciptakan oleh Allah Swt untuk kemanfaatan badan dan selainnya. وَلَيْسَ الظِّلُّ عَدَمَ الشَّمْسِ كَمَا قَدْ يُتَوَهَّمُ بَلْ هُوَ أَمْرٌ وُجُوْدِيٌّ يَخْلُقُهُ اللهُ تَعَالَى لِنَفْعِ الْبَدَنِ وَغَيْرِهِ.

 

Sholat Ashar

 

Dan Ashar, maksudnya sholat Ashar. Disebut dengan sholat Ashar, karena pelaksanaannya mendekatii waktu terbenamnya matahari. (وَالْعَصْرُ) أَيْ صَلَاتُهُ وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لُمَعَاصَرَتِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ
Permulaan waktunya adalah mulai dari bertambahnya bayangan dari ukuran bendanya. (وَأَوَّلِ وَقْتِهَا الزِّيَادَةُ عَلَى ظِلِّ الْمِثْلِ)
Sholat Ashar memiliki lima waktu. Salah satunya adalah waktu fadlilah, yaitu mengerjakan sholat di awal waktu. وَلِلْعَصْرِ خَمْسَةُ أَوْقَاتٍ أَحَدُهَا وَقْتُ الْفَضِيْلَةِ وَهُوَ فِعْلُهَا أَوَّلَ الْوَقْتِ
Yang kedua adalah waktu ikhtiyar. Waktu ini diisyarahi oleh mushannif dengan ucapan beliau, akhir waktu Ashar di dalam waktu ikhtiyar adalah hingga ukura bayang-bayang dua kali lipat ukuran bendanya. وَالثَّانِيْ وَقْتُ الْاِخْتِيَارِ وَأَشَارَ لَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (وَآخِرُهُ فِي الْاِخْتِيَارِ إِلَى ظِلِّ الْمِثْلَيْنِ)
Yang ketiga adalah waktu jawaz. Waktu ini diisyarahi oleh mushannif dengan ucapan beliau, dan di dalam waktu jawaz hingga terbenamnya matahari. وَالثَّالِثُ وَقْتُ الْجَوَازِ وَأَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ)
Yang ke empat adalah waktu jawaz tanpa disertai hukum makruh. Yaitu sejak ukuran bayang-bayang dua kali lipat dari ukuran bendanya hingga waktu ishfirar (remang-remang). وَالرَّابِعُ وَقْتُ جَوَازٍ بِلَا كَرَاهَةٍ وَهُوَ مِنْ مَصِيْرِ الظِّلِّ مِثْلَيْنِ إِلَى الْاِصْفِرَارِ
Yang ke lima adala waktu tahrim (haram). Yaitu meng-akhirkan pelaksanaan sholat hingga waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakan sholat. وَالْخَامِسُ وَقْتُ تَحْرِيْمٍ وَهُوَ تَأْخِيْرُهَا إِلَى أَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَا لَا يَسَعُهَا

 

Sholat Maghrib

 

Dan Maghrib, maksudnya sholat Maghrib. Disebut dengan sholat Maghrib karena dikerjakan saat waktu terbenamnya matahari. (وَالْمَغْرِبُ) أَيْ صَلَاتُهَا وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِفَعْلِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ
Waktu sholat Maghrib hanya satu. Yaitu terbenamnya matahari, maksudnya seluruh bulatan matahari dan tidak masalah walaupun setelah itu masih terlihat sorotnya, dan kira-kira waktu yang cukup bagi seseorang untuk melakukan adzan, wudlu’ atau tayammum, menutup aurat, iqomah sholat dan sholat lima rokaat. (وَوَقْتُهَا وَاحِدٌ وَهُوَ غُرُوْبُ الشَّمْسِ) أَيْ بِجَمَيْعِ قَرْصِهَا وَلَايَضُرُّ بَقَاءُ شُعَاعٍ بَعْدَهُ (وَبِمِقْدَارِ مَا يُؤَذِّنُ) الشَّخْصُ (وَيَتَوَضَأُ) أَوْ يَتَيَمَّمُ (وَيَسْتُرُ الْعَوْرَةُ وَيُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَيُصَلِّيْ خَمْسَ رَكَعَاتٍ)
Perkataan mushannif “وَبِمِقْدَارِ إِلَخْterbuang dari sebagian redaksi matan. وَقَوْلُهُ وَبِمِقْدَارِ إِلَخْ سَاقِطٌ مِنْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ
Ketika kadar waktu di atas sudah habis, maka waktu maghrib sudah keluar. Ini adalah pendapat Qaul Jadid. فَإِنِ انْقَضَى الْمِقْدَارُ الْمَذْكُوْرُ خَرَجَ وَقْتُهَا هَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْجَدِيْدُ
Sedangkan Qaul Qadim, dan diunggulkan oleh imam an Nawawi, adalah sesungguhnya waktu sholat Maghrib memanjang hingga terbenamnya mega merah. وَالْقَدِيْمُ وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ أَنَّ وَقْتَهَا يَمْتَدُّ إِلَى مَغِيْبِ الشَّفَقِ الْأَحْمَرِ.

 

Sholat Isya’

 

Dan sholat Isya’. Isya’ dengan terbaca kasroh huruf ‘ainnya adalah nama bagi permulaan petang. Sholat ini disebut dengan nama tersebut karena dikerjakan pada awal petang. (وَالْعِشَاءُ) بِكَسْرِ الْعَيْنِ مَمْدُوْدًا اسْمٌ لِأَوَّلِ الظُّلَامِ وَسُمِّيَتِ الصَّلَاةُ بِذَلِكَ لِفِعْلِهَا فِيْهِ
Permulaan waktu Isya’ adalah ketika terbenamnya mega merah. (وَأَوَّلُ وَقْتِهَا إِذَا غَابَ الشَّفَقُ الْأَحْمَرُ)
Adapun negara yang tidak terbenam mega merahnya, maka waktu Isya’ bagi penduduknya adalah ketika setelah ternggelamnya matahari, sudah melewati masa tenggelamnya megah merah negara yang terdekat pada mereka. وَأَمَّا الْبَلَدُ الَّذِيْ لَايَغِيْبُ فِيْهِ الشَّفَقُ فَوَقْتُ الْعِشَاءِ فِيْ حَقِّ أَهْلِهِ أَنْ يَمْضِيَ بَعْدَ الْغُرُوْبِ زَمَنٌ يَغِيْبُ فِيْهِ شَفَقُ أَقْرَبِ الْبِلَادِ إِلَيْهِمْ
Sholat Isya’ memiliki dua waktu. Salah satunya adalah waktu Ikhtiyar, dan di isyarahkan oleh mushannif dengan ucapan beliau, “akhir waktu ikhtiyar sholat Isya’ adalah memanjang hingga seperti malam yang pertama. وَلَهَا وَقْتَانِ أَحَدُهُمَا اخْتِيَارٌ وَأَشَارَ لَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (وَآخِرُهُ) يَمْتَدُّ (فِيْ الْاِخْتِيَارِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ)
Yang kedua adalah waktu jawaz. Dan mushannif memberi isyarah tentang waktu ini dengan ucapan beliau, “dan di dalam waktu jawaz hingga terbitnya fajar kedua, maksudnya fajar Shodiq, yaitu fajar yang menyebar dan membentang sinarnya di angkasa. وَالثَّانِيْ جَوَازٌ وَأَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ الثَّانِيْ) أَيِ الصَّادِقِ وَهُوَ الْمُنْتَشِرُ ضَوْؤُهُ مُعْتَرِضًا بِالْأُفُقِ
Adapun fajar Kadzib, maka terbitnya / muncul sebelum fajar Shodiq, tidak membentang akan tetapi memanjang naik ke atas langit, kemudian hilang dan di ikuti oleh kegelapan malam. Dan tidak ada hukum yang terkait dengan fajar ini. وَأَمَّا الْفَجْرُ الْكَاذِبُ فَيَطَّلِعُ قَبْلَ ذَلِكَ لَا مُعْتَرِضًا بَلْ مُسْتَطِيْلًا ذَاهِبًا فِي السَّمَاءِ ثُمَّ يَزُوْلُ وَتَعْقِبُهُ ظُلْمَةٌ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ
Asy Syekh Abu Hamid menjelaskan bahwa sesungguhnya sholat Isya’ memiliki waktu Karahah, yaitu waktu di antara dua fajar. وَذَكَرَ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ أَنَّ لِلْعِشَاءِ وَقْتَ كَرَاهَةٍ وَهُوَ مَا بَيْنَ الْفَجْرَيْنِ

 

 

Sholat Subuh

 

Dan Subuh, maksudnya sholat Subuh. Secara bahasa, Subuh memiliki arti permulaan siang (pagi). Disebut demikian karena dikerjakan di permulaan siang (pagi). (وَالصُّبْحُ) أَيْ صَلَاتُهُ وَهُوَ لُغَةً أَوَّلُ النَّهَارِ وَسُمِّيَتِ الصَّلَاةُ بِذَلِكَ لِفِعْلِهَا فِيْ أَوَّلِهِ
Seperti halnya sholat Ashar, sholat Subuh juga memiliki lima waktu. Salah satunya adalah waktu fadlilah. Yaitu awal waktu. وَلَهَا كَالْعَصْرِ خَمْسَةُ أَوْقَاتٍ أَحَدُهَا وَقْتُ الْفَضِيْلَةُ وَهُوَ أَوَّلُ الْوَقْتُ
Yang kedua adalah waktu ikhtiyar. Mushannif menjelaskannya di dalam ucapan beliau, “awal waktu sholat Subuh adalah mulai terbitnya fajar kedua, dan akhirnya di dalam waktu ikhtiyar adalah hingga isfar, yaitu waktu yang sudah terang. وَالثَّانِيْ وَقْتُ اخْتِيَارٍ وَذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ فِيْ قَوْلِهِ (وَأَوَّلُ وَقْتِهَا طُلُوْعُ الْفَجْرِ الثَّانِيْ وَآخِرُهُ فِي الْاِخْتِيَارِ إِلَى الْإِسْفَارِ) وَهُوَ الْإِضَاءَةُ
Yang ketiga adalah waktu jawaz. Dan mushannif mengisarahkannya dengan ucapan beliau, “dan di dalam waktu jawaz, maksudnya disertai dengan hukum makruh adalah hingga terbitnya matahari. وَالثَّالِثُ وَقْتُ الْجَوَازِ وَأَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ) أَيْ بِكَرَاهَةٍ (إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ)
Dan yang ke empat adalah waktu jawaz tanpa disertai hukum makruh adalah sampai terbitnya mega merah. وَالرَّابِعُ جَوَازٌ بِلَا كَرَاهَةٍ إِلَى طُلُوْعِ الْحُمْرَةِ
Dan yang ke lima adalah waktu tahrim (haram), yaitu mengakhirkan pelaksanaan sholat hingga waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakan sholat. وَالْخَامِسُ وَقْتُ تَحْرِيْمٍ وَهُوَ تَأْخِيْرُهَا إِلَى أَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَالَايَسَعُهَا.


BAB SYARAT WAJIB SHOLAT

(Fasal) syarat wajibnya sholat ada tiga perkara. (فَصْلٌ) وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:)
Salah satunya adalah Islam. Maka sholat tidak wajib bagi kafir asli. Dan tidak wajib mengqadla’ ketika ia masuk Islam. أَحَدُهَا (الْإِسْلَاُم) فَلَا تَجِبُ الصَّلَاةُ عَلَى الْكَافِرِ الْأَصْلِيِّ وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاؤُهَا إِذَا أَسْلَمَ
Adapun orang murtad, maka wajib baginya untuk melakukan sholat dan mengqadlainya ketika sudah kembali Islam. وَأَمَّا الْمُرْتَدُ فَتَجِبُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَقَضَاؤُهَا إِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ
Yang kedua adalah baligh. Maka sholat tidak wajib bagi anak kecil laki-laki dan perempuan. (وَ) الثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ) فَلَا تَجِبُ عَلَى صَبِيٍّ وَصَبِيَّةٍ
Namun keduanya harus diperintah melaksanakan sholat setelah berusia tujuh tahun jika sudah tamyiz, jika belum maka diperintah setelah tamyiz. لَكِنْ يُؤْمَرَانِ بِهَا بَعْدَ سَبْعِ سِنِيْنَ إِنْ حَصَلَ التَّميِيْزُ بِهَا وَإِلَّا فَبَعْدَ التَّمْيِيْزِ
Dan keduanya harus di pukul sebab meninggalkan sholat setelah berusia sepulu tahun. وَيُضْرَبَانِ عَلَى تَرْكِهَا بَعْدَ كَمَالِ عَشْرِ سِنِيْنَ
Yang ketiga adalah memiliki akal sehat. Maka sholat tidak wajib bagi orang gila. (وَ) الثَّالِثُ (الْعَقْلُ) فَلَا تَجِبُ عَلَى مَجْنُوْنٍ
Perkataan mushannif “akal adalah batasan taklif (tuntutan syareat)” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan. وَقَوْلُهُ (وَهُوَ حَدُّ التَّكلِيْفِ) سَاقِطٌ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ

Sholat-Sholat Sunnah

 

Sholat-sholat yang disunnahkan ada lima. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bentuk jama’ yaitu “الْمَسْنُوْنَاتُ”. (وَالصَّلَوَاتُ الْمَسْنُوْنَةُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ الْمَسْنُوْنَاتُ (خَمْسٌ
Yaitu sholat dua hari raya, maksudnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. الْعِيْدَانِ) أَيْ صَلَاةُ عِيْدِ الْفِطْرِ وَعِيْدِ الْأَضْحَى
Dan sholat dua gerhana, maksudnya gerhana matahari dan gerhana bulan. Dan istisqa’, maksudnya sholat istisqa’. (وَالْكُسُوْفَانِ) أَيْ صَلَاةُ كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ (وَالْإِسْتِسْقَاءُ) أَيْ صَلَاتُهُ.

Sholat Sunnah Rawatib

 

Shalat-sholat sunnah yang menyertai sholat-sholat fardlu, yang juga diungkapkan dengan sholat sunnah ratibah / rawatib, ada tuju belas rokaat. (وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ) وَيُعَبَّرُ عَنْهَا أَيْضًا بِالسُّنَةِ الرَّاتِبَةِ وَهِىَ (سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً
Dua rokaat fajar, empat rokaat sebelum Dhuhur dan dua rokaat setelahnya, empat rokaat sebelum Ashar, dua rokaat setelah Maghrib, dan tiga rokaat setelah Isya’ yang digunakan untuk sholat witir satu rokaatnya. رَكْعَتَا الْفَجْرِ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الْعَصْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَثَلَاثٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ)

Sholat Witir

 

Satu rokaat adalah minimal sholat witir. Dan maksimal sholat witir adalah sebelas rokaat. الْوَاحِدَةُ هِيَ أَقَلُّ الْوِتْرِ وَأَكْثَرُهُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Waktu sholat witir adalah di antara sholat Isya’ dan terbitnya fajar. وَوَقْتُهُ بَعْدَ صَلَاةٍ الْعِشَاءِ وَطُلُوْعِ الْفَجْرِ
Sehigga, kalau ada seseorang melakukan sholat witir sebelum sholat Isya’, baik sengaja atau lupa, maka sholat yang dilakukan tidak di anggap. فَلَوْ أَوْتَرَ قَبْلَ الْعِشَاءِ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا لَمْ يُعْتَدَّ بِهِ
Sholat rawati yang muakad (yang sangat di anjurkan) dari semua sholat sunnah di atas ada sepuluh rokaat. وَالرَّاتِبُ الْمُؤَكَّدُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ عَشْرُ رَكَعَاتٍ
Yaitu dua rakaat sebelum Subuh, dua rokaat sebelum dan setelah Dhuhur, dua rokaat setelah Maghrib dan dua rokaat setelah sholat Isya’. رَكْعَتَانِ قَبْلَ الصُّبْحِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ .

Sholat Sunnah Selain Rawatib

 

Dan tiga sholat sunnah muakkad yang tidak mengikut pada sholat-sholat farldu. (وَثَلَاثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٌ) غَيْرُ تَابِعَةٍ لِلْفَرَائِضِ
Salah satunya adalah sholat malam. Sholat sunnah mutlak di malam hari itu lebih utama dari pada sholat sunnah di siang hari. Sholat sunnah mutlak di tengah malam adalah yang paling utama. Kemudian di akhir malam yang lebih utama. Hal ini bagi orang yang membagi waktu malam menjadi tiga bagian. أَحَدُهَا (صَلَاةُ اللَّيْلِ) وَالنَّفْلُ الْمُطْلَقُ فِي اللَّيْلِ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ الْمُطْلَقِ فِي النَّهَارِ وَالنَّفْلُ وَسَطَ اللَّيْلِ أَفْضَلُ ثُمَّ آخِرَهُ أَفْضَلُ وَهَذَا لِمَنْ قَسَّمَ اللَّيِلَ أَثْلَاثًا
Yang kedua sholat Dhuha. Minimal sholat Dhuha adalah dua rakaat. Dan paling maksimal adalah dua belas rakaat. (وَ) الثَّانِيْ (صَلَاةُ الضُّحَى) وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ وَأَكْثَرُهَا اثْنَتَا عَشَرَةَ رَكْعَةً
Waktu sholat Dhuha mulai dari naiknya matahari -kira-kira setinggi satu tombak- hingga tergelincirnya matahai, sebagaimana yang di sampaikan imam an Nawawi di dalam kitab at Tahqiq dan Syarh al Muhadzdzab. وَوَقْتُهَا مِنِ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ إِلَى زَوَالِهَا كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ فِي التَّحْقِيْقِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ
Yang ke tiga adalah sholat tarawih. Yaitu sholat dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salaman di setiap malam di bulan Romadlon. Dan jumlahnya sebanyak lima tarawihan. (وَ) الثَّالِثُ (صَلَاةُ التَّرَاوِيْحِ) وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَجُمْلَتُهَا خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ
Di setiap pelaksanaan dua rakaat dari sholat tarawih, seseorang melakukan niat “sunnah tarawih” atau “qiyam Romadlon (menghidupkan bulan Romadlon)”. وَيَنْوِي الشَّخْصُ فِيْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ مِنْهَا سُنَّةُ التَّرَاوِيْحِ أَوْ قِيَامُ رَمَضَانَ
Dan seandainya ada seseorang melakukan sholat tarawih empat rokaat sekaligus dengan satu kali salaman, maka sholat yang ia lakukan tidak sah. وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ لَمْ تَصِحَّ
Waktu sholat tarawih adalah di antara sholat Isya’ dan terbitnya fajar. وَوَقْتُهَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَطُلُوْعِ الْفَجْرِ


BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

(Fasal) syarat-syarat sholat sebelum melakukannya ada lima perkara. (فَصْلٌ وَشَرَائِطُ الصَّلَاةِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا خَمْسَةُ أَشْيَاءَ)
Lafadz “asy syuruth” adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz “syarth”. Dan syarat secara bahasa adalah bermakna tanda. وَالشُّرُوْطُ جَمْعُ شَرْطٍ وَهُوَ لُغَةً الْعَلَامَةُ
Dan secara syara’ adalah sesuatu yang menentukan syahnya sholat, namun bukan termasuk sebagian dari sholat. وَشَرْعًا مَا تَتَوَقَّفُ صِحَّةُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَلَيْسَ جُزْأً مِنْهَا
Dengan qoyyid ini, maka mengecualikan rukun. Karena sesungguhnya rukun adalah sebagian dari sholat. وَخَرَجَ بِهَذَا الْقَيِّدِ الرُّكْنُ فَإِنَّهُ جُزْءٌ مِنَ الصَّلَاةِ.

 

 

Suci dari Hadats

 

Syarat pertama adalah sucinya anggota badan dari hadats kecil dan besar ketika mampu melakukan. الشَّرْطُ الْأَوَّلُ (طَهَارَةُ الْأَعْضَاءِ مِنَ الْحَدَثِ) الْأَصْغَرِ وَالْأَكْبَرِ عِنْدَ الْقُدْرَةِ
Adapun faqidut thohurain (tidak menemukan dua alt bersuci yaitu air dan debu), maka hukum sholatnya sah namun wajib baginya untuk mengulanginya -ketika sudah mampu bersuci-. أَمَّا فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ فَصَلَاتُهُ صَحِيْحَةٌ مَعَ وُجُوْبِ الْإِعَادَةِ عَلَيْهِ

 

Suci dari Najis

 

Dan suci dari najis yang tidak dima’fu pada pakaian, badan dan tempat. Mushannif akan menjelaskan yang terakhir ini (suci tempat) sebentar lagi. (وَ) طَهَارَةُ (النَّجَسِ) الَّذِيْ لَا يُعْفَى عَنْهُ فِيْ ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَاٍن وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ هَذَا الْأَخِيْرَ قَرِيْبًا.

Tempat Yang Suci

 

Syarat ke tiga adalah bertempat di tempat yang suci. (وَ) الثَّالِثُ (الْوُقُوْفُ عَلَى مَكَانٍ طَاهِرٍ)
Maka tidak sah sholatnya seseorang yang sebagian badan atau pakaiannya bertemu najis saat berdiri, duduk, ruku’, atau sujud. فَلَا تَصِحُّ صَلَاةُ شَخْصٍ يُلَاقِيْ بَعْضُ بَدَنِهِ أَوْ لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ فِيْ قِيَامٍ أَوْ قُعُوْدٍ أَوْ رُكُوْعٍ أَوْ سُجُوْدٍ

Masuk Waktu Sholat

 

Syarat ke empat dalah mengetahui masuknya waktu atau menyangka masuk waktu berdasarkan dengan ijtihad. (وَ) الرَّابِعُ (الْعِلْمُ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ) أَوْ ظَنِّ دُخُوْلِهِ بِالْإِجْتِهَادِ
Sehingga seandainya ada seseorang yang melakukan sholat tanpa semua itu, maka sholatnya tidak sah, walaupun tepat waktunya. فَلَوْ صَلَّى بِغَيْرِ ذَلِكَ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ وَإِنْ صَادَفَ الْوَقْتَ

 

Menghadap Kiblat

 

Syarat ke lima adalah menghadap kiblat, maksudnya Ka’bah. (وَ) الْخَامِسُ (اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةُ) أَيِ الْكَعْبَةِ
Ka’bah disebut kiblat karena sesungguhnya seseorang yang melakukan sholat menghadap padanya. Dan disebut dengan Ka’bah, karena ketinggiannya. سُمِّيَتْ قِبْلَةً لِأَنَّ الْمُصَلِّيَ يُقَابِلُهَا وَكَعْبَةً لِارْتِفَاعِهَا
Menghadap kiblat dengan dada adalah syarat bagi orang yang mampu melaksanakannya. Dan mushannif mengecualikan dari hal ini yang beliau jelaskan dengan perkataan beliau di bawah ini. وَاسْتِقْبَالُهَا بِالصَّدْرِ شَرْطٌ لِمَنْ قَدَرَ عَلَيْهِ. وَاسْتَثْنَى الْمُصَنِّفُ مَا ذَكَرَهُ بِقَوْلِهِ.

 

Keadaan yang diperkenankan  Tidak Menghadap Kiblat

 

Diperkenankan tidak menghadap kiblat saat melaksanakan sholat di dalam dua keadaan. (وَيَجُوْزُ تَرْكُ) اسْتِقْبَالِ (الْقِبْلَةِ) فِي الصَّلَاةِ (فِيْ حَالَتَيْنِ
Yaitu saat syiddatul khauf (keadaan genting) ketika melakukan perang yang diperkenankan, baik sholat fardlu ataupun sunnah. فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ) فِيْ قِتَالٍ مُبَاحٍ فَرْضًا كَانَتِ الصَّلَاةُ أَوْ نَفْلًا
Dan yang ke dua adalah ketika melaksanakan sholat sunnah di atas kendaraan saat bepergian. (وَفِي النَّافِلَةِ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّاحِلَةِ)
Sehingga, bagi seorang musafir yang melakukan perjalanan yang diperkenankan syareat walaupun jaraknya dekat, maka diperkenankan melaksanakan sholat sunnah menghadap ke arah tujuannya -walaupun tidak menghadap kiblat-. فَلِلْمُسَافِرِ سَفَرًا مُبَاحًا وَلَوْ قَصِيْرًا التَّنَفُّلُ صَوْبَ مَقْصِدِهِ
Dan bagi musafir yang naik kendaraan, maka tidak wajib baginya untuk meletakkan keningnya di atas pelana semisal, akan tetapi ia diperkenankan memberi isyarah saat ruku’ dan sujudnya. Namun sujudnya harus lebih rendah dari pada isyarah untuk ruku’nya. وَرَاكِبُ الدَّابَةِ لَايَجِبُ عَلَيْهِ وَضْعُ جَبْهَتِهِ عَلَى سَرْجِهَا مَثَلًا بَلْ يُوْمِئُ بِرُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ وَيَكُوْنُ سُجُوْدُهُ أَخْفَضَ مِنْ رَكُوْعِهِ
Adapun musafir yang berjalan kaki, maka ia harus menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, menghadap kiblat saat melakukan keduanya, dan tidak berjalan kecuali saat berdiri dan tasyahud. وَأَمَّا الْمَاشِيْ فَيُتِمُّ رَكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ وَيَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ فِيْهِمَا وَلَا يَمْشِيْ إِلَّا فِيْ قِيَامِهِ وَتَشَهُّدِهِ


BAB RUKUN-RUKUN SHOLAT

(Fasal) menjelaskan rukun-rukun sholat. Sedangkan pengertian sholat secara bahasa dan istilah syara’ sudah dijelaskan di depan. (فَصْلٌ) فِيْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ. وَتَقَدَّمَ مَعْنَى الصَّلَاةِ لُغَةً وَشَرْعًا
Rukun-rukun sholat ada delapan belas rukun. (وَأَرْكَانُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ رُكْنًا)

 

Niat

 

Salah satunya adalah niat. Niat adalah menyengaja sesuatu berbarengan dengan melaksanakan-nya. Tempat niat adalah hati. أَحَدُهَا (النِّيَّةُ) وَهِيَ قَصْدُ الشَّيْئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ
Ketika sholat fardlu, maka wajib niat fardlu, menyengaja melaksanakannya dan menentukannya semisal Subuh atau Dhuhur. فَإِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ نِيَّةُ الْفَرْضِيَّةِ وَقَصْدُ فِعْلِهَا وَتَعْيِيْنُهَا مِنْ صُبْحٍ أَوْ ظُهْرٍ مَثَلًا
Atau sholat sunnah yang memiliki waktu tertentu seperti sholat rawatib atau sholat yang memiliki sebab seperti sholat istisqa’, maka wajib menyengaja melaksanakannya dan menentukannya, tidak wajib niat sunnah. أَوْ كَانَتِ الصَّلاَةُ نَفْلًا ذَاتَ وَقْتٍ كَرَاتِبَةٍ أَوْ ذَاتَ سَبَبٍ كَاسْتِسْقَاءٍ وَجَبَ قَصْدُ فِعْلِهَا وَتَعْيِيْنُهُ لَا نِيَّةُ النَّفْلِيَّةِ

 

Berdiri dalam Sholat

 

Rukun kedua adalah berdiri jika mampu melakukannya. (وَ) الثَّانِي (الْقِيَامُ مَعَ الْقُدْرَةِ) عَلَيْهِ
Jika tidak mampu berdiri, maka wajib duduk dengan posisi yang ia kehendaki, namun duduk iftiras adalah yang lebih utama. فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ قَعَدَ كَيْفَ شَاءَ وَقُعُوْدُهُ مُفْتَرِشًا أَفْضَلُ

Takbiratul Ihram

 

Rukun ketiga adalah takbiratul ihram. Bagi yang mampu, maka wajib mengucapkan takbiratul ihram, yaitu dengan mengucapkan “Allahu Akbar”. (وَ) الثَّالِثُ (تَكْبِيْرَةُ الْإِحْرَامِ) فَيَتَعَيَّنُ عَلَى الْقَادِرِ النُّطْقُ بِهَا بِأَنْ يَقُوْلَ “اللهُ أَكْبَرُ”
Maka tidak sah jika dengan mengucapkan “Ar Rahmanu Akbar” dan sesamanya. Dan dalam takbiratul ihram, tidak sah mendahulukan khabar sebelum mubtada’-nya seperti ucapan seseorang “Akbarullahu”. فَلَا يَصِحُّ الرَّحْمَنُ أَكْبَرُ وَنَحْوُهُ وَلَا يَصِحُّ فِيْهَا تَقْدِيْمُ الْخَبَرِ عَلَى الْمُبْتَدَئِ كَقَوْلِهِ “أَكْبَرُ اللهُ”
Barang siapa tidak mampu mengucapkan takbiratul ihram dengan bahasa arab, maka wajib menterjemahnya dengan bahasa yang ia kehendaki, dan tidak diperkenankan baginya untuk berpindah dari takbiratul ihram kepada bentuk dzikiran yang lain -semisal lafadz “alhamdulillah”-. وَمَنْ عَجَزَ عَنِ النُّطْقِ بِهَا بِالْعَرَبِيَّةِ تَرْجَمَ بِأَيِّ لُغَةٍ شَاءَ وَلَا يَعْدِلُ عَنْهَا إِلَى ذِكْرٍ آخَرَ
Dan wajib membarengkan niat dengan pelaksanaan takbiratul ihram. وَيَجِبُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِالتَّكْبِيْرِ
Adapun imam an Nawawi, maka beliau memilih bahwa cukup dengan hanya berbarengan secara ‘urf, yaitu sekira secara ‘urf ia sudah dianggap menghadirkan sholat -di dalam hati saat takbiratul ihram-. وَأَمَّا النَّوَوِيُّ فَاخْتَارَ الْاِكْتِفَاءَ بِالْمُقَارَنَةِ الْعُرْفِيَّةِ بِحَيْثُ يُعَدُّ عُرْفًا أَنَّهُ مُسْتَحْضِرٌ لِلصَّلَاةِ.

 

Membaca Al Fatihah

 

Rukun ke empat adalah membaca Al Fatihah, atau gantinya bagi orang yang tidak hafal Al Fatihah, baik sholat fardlu ataupun sunnah. (وَ) الرَّابِعُ (قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ) أَوْ بَدَلِهَا لِمَنْ لَايَحْفَظُهَا فَرْضًا كَانَتْ أَوْ نَفْلًا
Bismillahirrahmanirrahim adalah satu ayat penuh dari surat Al Fatihah. (وَبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ آيَةٌ مِنْهَا) كَامِلَةٌ
Barang siapa tidak membaca satu huruf atau satu tasydid dari surat al Fatihah, atau mengganti satu huruf dengan huruf yang lain, maka bacaannya tidak sah, begitu juga sholatnya jika memang sengaja melakukannya. Jika tidak sengaja, maka bagi dia wajib mengulangi bacaannya. وَمَنْ أَسْقَطَ مِنَ الْفَاتِحَةِ حَرْفًا أَوْ تَشْدِيْدَةً أَوْ أَبْدَلَ حَرْفًا مِنْهَا بِحَرْفٍ لَمْ تَصِحَّ قِرَاءَتُهُ وَلَا صَلَاتُهُ إِنْ تَعَمَّدَ وَإِلَّا وَجَبَ عَلَيْهِ إِعَادَةُ الْقِرَاءَةِ
Wajib membaca surat Al Fatihah tertib. Yaitu dengan membaca ayat-ayatnya sesuai dengan urutan yang sudah diketahui. وَيَجِبُ تَرْتِيْبُهَا بِأَنْ يَقْرَأَ أَيَاتِهَا عَلَى نَظْمِهَا الْمَعْرُوْفِ
Dan juga wajib membacanya secara muwallah (terus menerus), yaitu sebagian kalimat-kalimat Al Fatihah bersambung dengan sebagian yang lain tanpa ada pemisah kecuali hanya sekedar mengambil nafas. وَيَجِبُ أَيْضًا مُوَالَاتُهَا بِأَنْ يَصِلَ بَعْضُ كَلِمَاتِهَا بِبَعْضٍ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ إِلَّا بِقَدْرِ التَّنَفُّسِ
Sehingga, ketika di antara muwallah terpisah / diselah-selahi dzikiran yang lain, maka hal itu memutus bacaan muwallah surat Al Fatihah. فَإِنْ تَخَلَّلَ الذِّكْرُ بَيْنَ مُوَالَاتِهَا قَطَعَهَا
Kecuali bacaan dzikiran tersebut berhubungan dengan kemaslahatan sholat, seperti bacaan “amin” yang dilakukan makmum di tengah-tengah bacaan Al Fatihahnya karena bacaan Al Fatihah imamnya, maka sesungguhnya bacaan “amin” tersebut tidak sampai memutus muwallah. إِلَّا إِنْ تَعَلَّقَ الذِّكْرُ بِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ كَتَأْمِيْنِ الْمَأْمُوْمِ فِيْ أَثْنَاءِ فَاتِحَتِهِ لِقِرَاءَةِ إِمَامِهِ فَإِنَّهُ لَايَقْطَعُ الْمُوَالَاةَ
Barang siapa tidak tahu atau kesulitan membaca surat Al Fatihah karena tidak ada pengajar semisal, dan ia bisa membaca surat yang lain dari Al Qur’an, maka bagi dia wajib membaca tujuh ayat secara runtut ataupun tidak sebagai ganti dari surat Al Fatihah. وَمَنْ جَهُلَ الْفَاتِحَةَ أَوْ تَعَذَّرَتْ عَلَيْهِ لِعَدَمِ مُعَلِّمٍ مَثَلًا وَأَحْسَنَ غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَجَبَ عَلَيْهِ سَبْعُ آيَاتٍ مُتَوَالِيَةً عِوَضًا عَنِ الْفَاتِحَةِ أَوْ مُتَفَرِّقَةً
Jika tidak mampu membaca Al Qur’an, maka wajib bagi dia untuk membaca dzikir sebagai ganti dari Al Fatihah, sekira huruf dzikiran tersebut tidak kurang dari jumlah huruf Al Fatihah. فَإِنَ عَجَزَ عَنِ الْقُرْآنِ أَتَى بِذِكْرٍ بَدَلًا عَنْهَا بِحَيْثُ لَا يَنْقُصُ عَنْ حُرُوْفِهَا
Jika tidak bisa membaca Al Qur’an dan dzikiran, maka wajib bagi dia untuk berdiri selama kadar ukuran membaca Al Fatihah. فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْ قُرْآنًا وَلَا ذِكْرًا وَقَفَ قَدْرَ الْفَاتِحَةِ
Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “dan membaca Al Fatihah setelah bismillahirrahmanirrahim, dan basmalah adalah satu ayat dari Al Fatihah.” وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ بَعْدَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَهِيَ آيَةٌ مِنْهَا .

 

Ruku’

 

Rukun ke lima adalah ruku’. (وَ) الْخَامِسُ (الرُّكُوْعُ)
Minimal fardlunya ruku’ bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri, mampu melakukan ruku’, berfisik normal, dan selamat / sehat kedua tangan dan kedua lututnya, adalah membungkuk tanpa membusungkan dada (degek : jawa) dengan ukuran sekira kedua telapak tangan bisa menggapai kedua lutut seandainya ia hendak meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya. وَأَقَلُّ فَرْضِهِ لِقَائِمٍ قَادِرٍ عَلَى الرُّكُوْعِ مُعْتَدِلِ الْخِلْقَةِ سَلِيْمِ يَدَّيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ أَنْ يَنْحَنِيَ بِغَيْرِ انْخِنَاسٍ قَدْرَ بُلُوْغِ رَاحَتَيْهِ رُكْبَتَيْهِ لَوْ أَرَادَ وَضْعَهُمَا عَلَيْهِمَا
Jika tidak mampu melakukan ruku’ seperti ini, maka wajib bagi dia membungkuk semampunya dan memberi isyarah dengan matanya. فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى هَذَا الرُّكُوْعِ انْحَنَى مَقْدُوْرَهُ وَأَوْمَأَ بِطَرْفِهِ
Ruku’ yang paling sempurna adalah orang yang melakukan ruku’ meluruskan punggung dan lehernya sekira keduanya seperti satu papan yang lurus, menegakkan kedua betisnya, dan memegang kedua lutut dengan kedua tangannya. وَأَكْمَلُ الرّكُوْعِ تَسْوِيَّةُ الرَّاكِعِ ظَهْرَهُ وَعُنُقَهُ بِحَيْثُ يَصِيْرَانِ كَصَفِحَةٍ وَاحِدَةٍ وَنَصْبُ سَاقَيْهِ وَأَخْذُ رُكْبَتَيْهِ بِيَدَّيْهِ
Rukun ke enam adalah thuma’ninah di dalam ruku’. Thuma’ninah adalah diam setelah bergerak.

 

(وَ) السَّادِسُ (الطُّمَأْنِيْنَةُ) وَهِيَ سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ (فِيْهِ) أَيِ الرُّكُوْعِ
Mushannif menjadikan thuma’ninah sebagai salah satuh rukun dan rukun-rukunnya sholat. Dan imam an Nawawi berjalan pada pendapat ini di dalam kitab at Tahqiq. وَالْمُصَنِّفُ يَجْعَلُ الطُّمَأْنِيْنَةَ فِي الْأَرْكَانِ رُكْنًا مُسْتَقِلًّا وَمَشَى عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي التَّحْقِيْقِ
Sedangkan selain mushannif menjadikan thuma’ninah sebagai haiat yang menyertai sholat. وَغَيْرُ الْمُصَنِّفِ يَجْعَلُهَا هَيْئَةً تَابِعَةً لِلْأَرْكَانِ.

 

I’tidal

 

Rukun ke tujuh adalah bangun dari ruku’ dan i’tidal berdiri tegap sesuai keadaan sebelum ruku’, yaitu berdiri bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri dan duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri. (وَ) السَّابِعُ (الرَّفْعُ) مِنَ الرُّكُوْعِ (وَالْإِعْتِدَالُ) قَائِمًا عَلَى الْهَيْئَةِ الَّتِيْ كَانَ عَلَيْهَا قَبْلَ رُكُوْعِهِ مِنْ قِيَامِ قَادِرٍ وَقُعُوْدِ عَاجِزٍ عَنِ الْقِيَامِ
Rukun ke delapan adalah thuma’ninah di dalam i’tidal. (وَ) الثَّامِنُ (الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أَيِ الْاِعْتِدَالِ

Sujud

 

Rukun ke sembilan adalah sujud dua kali di dalam setiap rakaat. (وَ) التَّاسِعُ (السُّجُوْدُ) مَرَّتَيْنِ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ
Minimal sujud adalah sebagian kening orang yang sholat menyentuh tempat sujudnya, baik tanah atau yang lainnya. وَأَقَلُّهُ مُبَاشَرَةُ بَعْضِ جَبْهَةِ الْمُصَلِّيْ مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ مِنَ الْأَرْضِ أَوْ غَيْرِهَا
Sujud yang paling sempurna adalah membaca takbir tanpa mengangkat kedua tangan ketika turun ke posisi sujud, meletakkan kedua lutut, kemudian kedua tangan, lalu kening dan hidungnya. وَأَكْمَلُهُ أَنْ يُكَبِّرَ لِهُوِيِّهِ لِلسُّجُوْدِ بِلَا رَفْعِ يَدَّيْهِ وَيَضَعُ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَدَّيْهِ ثُمَّ جَبْهَتَهُ وَأَنْفَهُ
Rukun ke sepuluh adalah thuma’ninah di dalam sujud, sekira beban kepalanya mengenai tempat sujudnya. (وَ) الْعَاشِرُ (الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أَيِ السُّجُوْدِ بِحَيْثُ يَنَالُ مَوْضِعَ سُجُوْدهِ ثِقَلُ رَأْسِهِ
Dan tidak cukup hanya menyentuhkan kepalanya ke tempat sujudnya. وَلَا يَكْفِيْ إِمْسَاسُ رَأْسِهِ مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ
Bahkan harus agak menekannya sekira seandainya ada kapas di bawah kepalanya, niscaya akan tertekan, dan bebannya akan terasa di atas tangan seandainya diletakkan di bawahnya. بَلْ يَتَحَامَلُ بِحَيْثُ لَوْ كَانَ تَحْتَهُ قُطْنٌ مَثَلًا لَانْكَبَسَ وَظَهَرَ أَثَرُهُ عَلَى يَدٍّ لَوْ فُرِضَتْ تَحْتَهُ.

 

Duduk di Antara Dua Sujud

 

Rukun ke sebelas adalah duduk di antara dua sujud di setiap rakaat, baik sholat dengan berdiri, duduk atau tidur miring.

 

(وَ) الْحَادِيَ عَشَرَ (الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ) فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ سَوَاءٌ صَلَّى قَائِمًا أَوْ قَاعِدًا أَوْ مُضْطَجِعًا
Minimalnya adalah diam setelah bergeraknya anggota-anggota badannya. Dan yang paling sempurna adalah menambahi ukuran tersebut dengan do’a yang datang dari Rosulullah Saw saat melakukannya. وَأَقَلُّهُ سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةِ أَعْضَائِهِ وَأَكْمَلُهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ بِالدُّعَاءِ الْوَارِدِ فِيْهِ
Sehingga, seandainya ia tidak duduk di antara dua sujud, bahkan posisinya hanya lebih dekat pada posisi duduk, maka duduk yang ia lakukan tidak sah. فَلَوْ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ بَلْ صَارَ إِلَى الْجُلُوْسِ أَقْرَبَ لَمْ يَصِحَّ
Rukun ke dua belas adalah thuma’ninah di dalam duduk di antara dua sujud. (وَ) الثَّانِيَ عَشَرَ (الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أَيِ الْجُلُوْسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

Duduk Terakhir dan Tasyahud

 

Rukun ke tiga belas adalah duduk yang terakhir, maksudnya duduk yang diiringi oleh salam. (وَ) الثَّالِثَ عَشَرَ (الْجُلُوْسُ الْأَخِيْرُ) أَيِ الَّذِيْ يَعْقِبُهُ السَّلَامُ
Rukun ke empat belas adalah tasyahud di dalam duduk yang terakhir. (وَ) الرَّابِعَ عَشَرَ (التَّشّهُّدُ فِيْهِ) أَيْ فِي الْجُلُوْسِ الْأَخِيْرِ .
Minimal tasyahud adalah

“التَّحِيَّاتُ لِلهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ”

“Segala hormat milik Allah, semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya atas Engkau wahai Nabi. Semoga keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang sholih. Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah”

وَأَقَلُّ التَّشَهُّدِ “التَّحِيَّاتُ لِلهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ”
Tasyahud yang paling sempurna adalah

“التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ”.

“kehormatan yang diberkahi dan rahmat yang baik hanya milik Allah. Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga atas Engkau wahai Nabi. Keselamatan semoga atas kami dan hamba-hamba Allah yang sholih. Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

وَأَكْمَلُ التَّشَهُّدِ “التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ”.

 

Bacaan Sholawat

 

Rukun ke lima belas adalah membaca sholawat untuk baginda Nabi Saw di dalamnya, maksudnya di dalam duduk yang terakhir setelah selesai membaca tasyahud. (وَ) الْخَامِسَ عَشَرَ (الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ) أَيْ فِي الْجُلُوْسِ الْأَخِيْرِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ التَّشَهُّدِ
Minimal bacaan sholawat untuk baginda Nabi Saw adalah

” اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ”

“ya Allah, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad”

وَأَقَلُّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ”
Perkataan mushannif di atas memberitahukan bahwa membaca sholawat untuk keluarga Nabi Saw hukumnya tidak wajib, dan memang demikian bahkan hukumnya adalah sunnah. وَأَشْعَرَ كَلَامُ الْمُصَنِّفِ أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى الْآلِ لَا تَجِبُ وَهُوَ كَذَلِكَ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ

 

 

Salam, Niat Keluar Sholat dan Tertib

 

Rukun ke enam belas adalah membaca salam yang pertama. (وَ) السَّادِسَ عَشَرَ (التَّسْلِيْمَةُ الْأُوْلَى)
Dan wajib mengucapkan salam dalam posisi duduk. وَيَجِبُ إِيْقَاعُ السَّلَامِ حَالَ الْقُعُوْدِ
Minimal ucapan salam adalah ucapan “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ” satu kali. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ” dua kali, yaitu ke kanan dan ke kiri. وَأَقَلُّهُ “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ” مَرَّةً وَاحِدَةً وَأَكْمَلُهُ “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ” مَرَّتَيْنِ يَمِيْنًا وَشِمَالًا
Rukun ke tujuh belas adalah niat keluar dari sholat. Dan ini adalah pendapat yang marjuh (lemah). (وَ) السَّابِعَ عَشَرَ (نِيَّةُ الْخُرُوْجِ مِنَ الصَّلَاةِ) وَهَذَا وَجْهٌ مَرْجُوْحٌ
Ada yang mengatakan bahwa niat keluar dari sholat hukumnya tidak wajib, dan inilah pendapat al ashah. وَقْيِلَ لَا يَجِبُ ذَلِكَ أَيْ نِيَّةُ الْخُرُوْجِ وَهَذَا الْوَجْهُ هُوَ الْأَصَحُّ
Rukun ke delapan belas adalah melakukan rukun-rukun sholat secara tertib, hingga di antara tasyahud yang terakhir dan bacaan sholat untuk baginda Nabi Saw di dalam tasyahud akhir. (وَ) الثَّامِنَ عَشَرَ (تَرْتِيْبُ الْأَرْكَانِ) حَتَّى بَيْنَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ
Ungkapan mushannif “sesuai dengan apa yang aku jelaskan” mengecualikan kewajiban membarengkan niat dengan takbiratul ihram, dan membarengkan duduk terakhir dengan tasyahud dan bacaan sholawat untuk baginda Nabi Saw. وَقَوْلُهُ (عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ) يُسْتَثْنَى مِنْهُ وُجُوْبُ مُقَارَنَةِ النِّيَّةِ لِتَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ وَمُقَارَنَةِ الْجُلُوْسِ الْأَخِيْرِ لِلتَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


BAB KESUNAHAN-KESUNAHAN SHOLAT

Adzan dan Iqamah

 

Kesunahan-kesunahan sebelum pelaksanaan sholat ada dua perkara. (وَ) الصَّلَاةُ (سُنَنُهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا شَيْئآنِ
Yang pertama, adzan. Secara bahasa adzan berarti memberitahu. Dan secara syara’ adalah dzikiran tertentu guna memberitahu masuknya waktu sholat fardlu. الْأَذَانُ) وَهُوَ لُغَةً الْإِعْلَامُ وَشَرْعًا ذِكْرٌ مَخْصُوْصٌ لِلْإِعْلَامِ بِدُخُوْلِ وَقْتِ صَلَاةٍ مَفْرُوْضَةٍ
Lafadz-lafadz adzan dibaca dua kali kecuali lafadz takbir di permulannya maka dibaca empat kali, dan kecuali lafadz tauhid di akhir adzan, maka dibaca satu kali. وَأَلْفَاظُهُ مَثْنَى إِلَّا التَّكْبِيْرَ أَوَّلَهُ فَأَرْبَعٌ وَإِلَّا التَّوْحِيْدَ آخِرَهُ فَوَاحِدٌ
Dan yang kedua adalah iqamah. Iqamah adalah bentuk masdar dari fi’il madli aqama. Kemudian dijadikan nama sebuah dzikiran tertentu. Karena sesungguhnya dzikiran tersebut digunakan untuk mendirikan sholat. (وَالْإَقَامَةُ) وَهُوَ مَصْدَرُ أَقَامَ ثُمَّ سُمِّيَ بِهِ الذِّكْرُ الْمَخْصُوْصُ لِأَنَّهُ يُقِيْمُ إِلَى الصَّلَاةِ
Masing-masing dari adzan dan iqamah hanya disyareatkan / dilakukan untuk sholat fardlu. Sedangkan sholat yang lain, maka di kumandangkan dengan bahasa “as shalatu jami’ah”. وَإِنَّمَا يُشْرَعُ كُلٌّ مِنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لِلْمَكْتُوْبَةِ وَأَمَّا غَيْرُهَا فَيُنَادَى لَهَا الصَّلَاةُ جَامِعَةً

Kesunahan Setelah Masuk Sholat

 

Kesunahan-kesunahan di dalam sholat ada dua perkara, yaitu tasyahud awal dan qunut di dalam sholat Shubuh, yaitu saat i’tidal rakaat kedua dari sholat Subuh. (وَ) سُنَنُهَا (بَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا شَيْئآنِ التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ وَالْقُنُوْتُ فِي الصُّبْحِ) أَيْ فِي اعْتِدَالِ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْهُ
Secara bahasa qunut bermakna do’a. Dan secara syara’ adalah dzikiran tertentu, yaitu

اللهم اهْدِنِي فَيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ إِلَخْ.

وَهُوَ لُغَةً الدُّعَاءُ وَشَرْعًا ذِكْرٌ مَخْصُوْصٌ وَهُوَ اللهم اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ إِلَخْ.
Dan qunut di akhir sholat witir pada separuh bulan kedua dari bulan Romadlon.

 

(وَ) الْقُنُوْتُ (فِيْ) آخِرِ (الْوِتْرِ فِيْ النِّصْفِ الثَّانِيْ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ)
Qunut di dalam sholat witir ini sama seperti qunutnya sholat Subuh yang sebelumnya di dalam tempat dan lafadznya. وَهُوَ كَقُنُوْتِ الصُّبْحِ الْمُتَقَدِّمِ فِيْ مَحَلِّهِ وَلَفْظِهِ
Qunut tidak harus menggunakan kalimat-kalimat qunut yang telah dijelaskan di atas. Sehingga, seandainya seseorang melakukan qunut dengan membaca ayat Al Qur’an yang mengandung doa dan ditujukan untuk qunut, maka kesunahan qunut sudah hasil. وَلَا تَتَعَيَّنُ كَلِمَاتُ الْقُنُوْتِ السَّابِقَةُ فَلَوْ قَنَتَ بِأَيَةٍ تَتَضَمَّنُ دُعَاءً وَقَصَدَ الْقُنُوْتَ حَصَلَتْ سُنَّةُ الْقُنُوْتِ.

 

 

Sunnah Haiat

 

Sunnah haiat-nya sholat ada lima belas perkara. Yang dikehendaki dengan haiat ialah bukan rukun dan bukan sunnah ab’adl yang diganti dengan sujud sahwi -ketika ditinggalkan-. (وَهَيْئآتُهَا) أَيِ الصَّلَاةِ وَأَرَادَ بِهَيْئآتِهَا مَا لَيْسَ رُكْنًا فِيْهَا وَلَا بَعْضًا يُجْبَرُ بِسُجُوْدِ السَّهْوِ (خَمْسَةَ عَشَرَ خَصْلَةً
Yaitu mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram hingga sejajar dengan kedua pundak. رَفْعُ الْيَدَّيْنِ عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ) إِلَى حَذْوِ مَنْكِبَيْهِ
Dan mengangkat kedua tangan ketika hendak dan bangun dari ruku’. (وَ) رَفْعُ الْيَدَّيْنِ (عِنْدَ الرُّكُوْعِ) وَعِنْدَ (الرَّفْعِ مِنْهُ
Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Dan keduanya berada di bawah dada dan di atas pusar. وَوَضْعُ الْيَمْيِنِ عَلَى الشِّمَالِ) وَيَكُوْنَانِ تَحْتَ صَدْرِهِ وَفَوْقَ سُرَّتِهِ
Do’a tawajjuh, maksudnya ucapan orang yang sholat setelah takbiratul ihram yang berbunyi,

“وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ الَخ”

(وَالتَّوَجُّهُ) أَيْ قَوْلُ الْمُصَلِّيْ عَقِبَ التَّحْرِيْمِ “وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ الَخ”.
 Yang dikehendaki adalah setelah takbiratul ihram, orang yang sholat membaca doa iftitah, baik ayat di atas ini atau yang lainnya dari bentuk-bentuk doa istiftah yang datang dari Rosulullah Saw. وَالْمُرَادُ أَنْ يَقُوْلَ الْمُصَلِّيْ بَعْدَ التَّحَرُّمِ دُعَاءَ الْاِفْتِتَاحِ هَذِهِ الْآيَةَ أَوْ غَيْرَهَا مِمَّا وَرَدَ فِيْ الْاِسْتِفْتَاحِ
Membaca isti’adzah (ta’awudz) setelah membaca doa tawajjuh. (وَالْاِسْتِعَاذَةُ) بَعْدَ التَّوَجُّهِ
Kesunnah isti’adzah sudah bisa hasil dengan setiap lafadz yang mengandung ta’awudz (memohon perlindungan Allah). وَتَحْصُلُ بِكُلِّ لَفْظٍ يَشْتَمِلُ عَلَى التَّعَوُّذِ
Dan do’a ta’awudz yang paling utama adalah,

“أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ”

“aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yagn terkutuk.”

وَالْأَفْضَلُ “أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ”
Mengeraskan suara di tempatnya, yaitu di dalam sholat Subuh, dua rakaat pertama sholat Maghrib dan Isyat, sholat Jum’at dan dua sholat hari raya. (وَالْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِهِ) وَهُوَ الصُّبْحُ وَأُوْلَتَا الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالْجُمُعَةُ وَالْعِيْدَانِ
Memelankan suara di tempatnya, yaitu di selain tempat-tempat yang telah disebutkan di atas. (وَالْإِسْرَارُ فِيْ مَوْضِعِهِ) وَهُوَ مَا عَدَا الَّذِيْ ذُكِرَ
Ta’min yaitu ucapan “amin” setelah selesai membaca surat Al Fatihah bagi yang membacanya di dalam sholat dan selainya, akan tetapi di dalam sholat lebih dianjurkan. (وَالتَّأْمِيْنُ) أَيْ قَوْلُ آمِيْنَ عَقِبَ الْفَاتِحَةِ لِقَارِئِهَا فِيْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا لَكِنْ فِي الصَّلَاةِ آكَدُ
Seorang makmum sunnah membaca “amin” berbarengan dengan bacaan “amin” imamnya dengan mengeraskan suara. وَيُؤَمِّنُ الْمَأْمُوْمُ مَعَ تَأْمِيْنِ إِمَامِهِ وَيَجْهَرُ بِهِ.
Membaca surat setelah membaca surat Al Fatihah bagi seorang imam atau orang yang sholat sendiri di dalam dua rakaatnya sholat Subuh dan dua rakaat pertamanya sholat yang lain. (وَقِرَاءَةُ السُّوْرَةِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ) لِإِمَامٍ وَمُنْفَرِدٍ فِيْ رَكْعَتَيِ الصُّبْحِ وَأُوْلَتَيْ غَيْرِهَا
Membaca surat itu dilakukan setelah membaca surat Al Fatihah. Sehingga, seandainya seseorang mendahulukan membaca surat sebelum membaca Al Fatihah, maka bacaan suratnya tidak dianggap. وَتَكُوْنُ قِرَاءَةُ السُّوْرَةِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ فَلَوْ قَدَّمَ السُّوْرَةَ عَلَيْهَا لَمْ تُحْسَبْ
Bacaan takbir saat turun ke posisi ruku’. (وَالتَّكْبِيْرَاتُ عِنْدَ الْخَفْضِ) لِلرَّكُوْعِ
Dan saat mengangkat, maksudnya mengangkat punggung dari posisi ruku’. (وَالرَّفْعِ) أَيْ رَفْعِ الصُّلْبِ مِنَ الرَّكُوْعِ
Bacaan “سَمِعَ اللهُ لِمَن حَمِدَهُ” ketika mengangkat kepala dari ruku’. (وَقَوْلُ سَمِعَ اللهُ لِمَن حَمِدَهُ) حَيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكُوْعِ
Dan seandainya seorang yang sholat mengucapkanمَنْ حَمَدَ اللهَ سَمِعَ لَهُ”” “barang siapa memuji Allah, maka semoga Allah mendengar pujiannya”, maka sudah mencukupi. وَلَوْ قَالَ “مَنْ حَمِدَ اللهَ سَمِعَ لَهُ” كَفَى
Makna “سَمِعَ اللهُ لِمَن حَمِدَهُ” adalah semoga Allah menerima pujian darinya dan memberi balasan atas pujiannya. وَمَعْنَى سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَ “تَقَبَّلَ اللهُ مِنْهُ حَمْدَهُ وَجَازَاهُ عَلَيْهِ”
Ucapan musholi (orang yang sholat) “رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ “ ketika sudah berdiri tegap. وَقَوْلُ الْمُصَلِّيْ (رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ) إِذَا انْتَصَبَ قَائِمًا
Membaca tasbih di dalam ruku’. Minimal sempurna di dalam bacaan tasbih ini adalah “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ” tiga kali. (وَالتَّسْبِيْحُ فِيْ الرَّكُوْعِ) وَأَدَنَى الْكَمَالِ فِيْ هَذَا التَّسْبِيْحِ “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ” ثَلَاثًا
Membaca tasbih di dalam sujud. Minimal sempurna di dalam bacaan tasbih ini adalah “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى” tiga kali. (وَ) التَّسْبِيْحُ فِيْ (السُّجُوْدِ) وَأَدْنَى الْكَمَالِ فِيْهِ “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى” ثَلَاثًا
Untuk dzikiran yang paling sempurna di dalam bacaan tasbih saat ruku’ dan sujud sudah mashur. وَالْأَكْمَلُ فِيْ تَسْبِيْحِ الرَّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ مَشْهُوْرٌ
Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha saat duduk tasyahud awal dan akhir.

 

(وَوَضْعُ الْيَدَّيْنِ عَلَى الْفَخْذَيْنِ فِيْ الْجُلُوْسِ) لِلتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَالْأَخِيْرِ
Dengan membuka tangan kiri sekira ujung jemarinya sejajar dengan lutut.

 

(يَبْسُطُ) الْيَدَّ (الْيُسْرَى) بِحَيْثُ تُسَامِتُ رُؤُسُ أَصَابِعِهَا الرُّكْبَةَ
Dan menggenggam tangan kanan, maksudnya jemarinya, kecuali jari telunjuk tangan kanan.

 

(وَيَقْبِضُ) الْيَدَّ (الْيُمْنَى) أَيْ أَصَابِعَهَا (إِلَّا الْمُسَبِّحَةَ) مِنَ الْيُمْنَى
Maka ia tidak menggenggamnya, karena sesungguhnya ia akan menggunakannya untuk isyarah, mengangkatnya saat mengucapkan tasyahud, yaitu ketika mengucapkan kalimat “إِلَّا اللهُ”. فَلَا يَقْبِضُهَا (فَإِنَّهُ يُشِيْرُ بِهَا) رَافِعًا لَهَا حَالَ كَوْنِهِ (مُتَشَهِّدًا) وَذَلِكَ عِنْدَ قَوْلِ “إِلَّا اللهُ”
Dan hendaknya ia tidak menggerak-gerakan jari telunjuknya. Jika ia menggerak-gerakannya, maka hukumnya makruh dan sholatnya tidak sampai batal menurut pendapat al ashah. وَلَا يُحَرِّكُهَا فَإِنْ حَرَّكَهَا كُرِهَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فِي الْأَصَحِّ.
Dan sunnah melakukan duduk iftirasy pada semua posisi duduk yang dilakukan di dalam sholat, seperti duduk istirahah, duduk di antara dua sujud dan duduk tasyahud awal. (وَالْاِفْتَرَاشُ فِيْ جَمِيْعِ الْجَلَسَاتِ) الْوَاقِعَةِ فِي الصَّلَاةِ كَجُلُوْسِ الْاِسْتِرَاحَةِ وَالْجُلُوْسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَجُلُوْسِ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ
Iftirasy adalah seseorang menduduki mata kaki kirinya, memposisikan punggung kaki kirinya pada lantai, menegakkan telapak kaki kanan, dan memposisikan jemari kaki kanannya menempel pada lantai dan menghadap ke kiblat. وَالْاِفْتِرَاشُ أَنْ يَجْلِسَ الشَّخْصُ عَلَى كَعْبِ الْيُسْرَى جَاعِلًا ظَاهِرَهَا لِلْأَرْضِ وَيَنْصِبَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَيَضَعُ بِالْأَرْضِ أَطْرَافَ أَصَابِعِهَا لِجِهَةِ الْقِبْلَةِ
Dan sunnah duduk tawarruk saat duduk terakhir dari duduk-duduk di dalam sholat, yaitu duduk tasyahud akhir. (وَالتَّوَرُّكُ فِي الْجَلسَةِ الْأَخِيْرَةِ) مِنْ جَلَسَاتِ الصَّلَاةِ وَهِيْ جُلُوْسُ التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ
Tawarruk sama dengan posisi duduk iftirasy, hanya saja di samping menetapi posisi iftirasy, mushali mengeluarkan kaki kirinya melalui arah bawah kaki kanannya dan menempelkan pantatnya ke lantai. وَالتَّوَرُّكُ مِثْلُ الْاِفْتِرَاشِ إِلَّا أَنَّ الْمُصَلِّيَ يُخْرِجُ يَسَارَهُ عَلَى هَيْئَتِهَا فِي الْاِفْتِرَاشِ مِنْ جِهَةِ يَمِيْنِهِ وَيُلْصِقُ وَرَكَهُ بِالْأَرْضِ
Adapun makmum masbuq dan orang yang lupa, maka dia disunnahkan melakkan duduk iftirasy, tidak duduk tawarruk. أَمَّا الْمَسْبُوْقُ وَالسَّاهِيْ فَيَفْتَرِشَانِ وَلَا يَتَوَرَّكَانِ
Dan sunnah mengucapkan salam kedua. Adapun salam yang pertama, maka sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya termasuk dari rukun-rukunnya sholat. (وَالتَّسْلِيْمَةُ الثَّانِيَةُ) أَمَّا الْأَوْلَى فَسَبَقَ أَنَّهَا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ.


BAB HAL-HAL YANG BERBEDA ANTARA LELAKI & WANITA

(Fasal) Menjelaskan perkara-perkara yang berbeda antara wanita dan lelaki di dalam sholat. (فَصْلٌ) فِيْ أُمُوْرٍ تُخَالِفُ فِيْهَا الْمَرْأَةُ الرَّجُلَ فِيْ الصَّلَاةِ
Mushannif menjelaskan hal itu dengan perkataan beliau, “dan wanita berbeda dengan lelaki di dalam lima perkara,” وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (وَالْمَرْأَةُ تُخَالِفُ الرَّجُلَ فِيْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ:
Maka seorang lelaki mengangkat kedua sikunya dari lambungnya, dan mengangkat perutnya dari kedua pahanya saat melakukan ruku’ dan sujud. فَالرَّجُلُ يُجَافِيْ) أَيْ يَرْفَعُ (مِرْفَقَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَيُقِلُّ) أَيْ يَرْفَعُ (بَطْنَهُ عَنْ فَخْذَيْهِ فِيْ الرَّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ
Dan mengeraskan suara di tempatnya. Dan mengeraskan suara sudah dijelaskan di tempatnya. وَيَجْهَرُ فِيْ مَوْضِعِ الْجَهْرِ)وَتَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِيْ مَوْضِعِهِ
Ketika seorang lelaki terkena / mengalami sesuatu di dalam sholat, maka ia membaca tasbih. (وَإِذَا نَابَهُ)أَيْ أَصَابَهُ (شَيْئٌ فِيْ الصَّلَاةِ سَبَّحَ)
Sehingga ia mengucapkan “subhanallah” dengan tujuan berdzikir saja, atau besertaan tujuan memberitahu atau dimutlakan tanpa tujuan apa-apa, maka sholatnya tidak batal. Atau bertujuan memberitahu saja, maka sholatnya batal. فَيَقُوْلُ “سُبْحَانَ اللهِ” بِقَصْدِ الذِّكْرِ فَقَطْ أَوْ مَعَ الْإِعْلَامِ أَوْ أَطْلَقَ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ أَوِ الْإِعْلَامِ فَقَطْ بَطَلَتْ
Auratnya orang laki-laki adalah anggota di antara pusar dan lutut. Sedangkan pusar dan lutut itu sendiri bukan termasuk aurat, begitu juga anggota di atas keduanya. (وَعَوْرَةُ الرَّجُلِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَتِهِ) أَمَّا هُمَا فَلَيْسَا مِنَ الْعَوْرَةِ وَلَا مَا فَوْقَهُمَا
Seorang wanita berbeda dengan laki-laki di dalam lima hal yang telah dijelaskan di atas. (وَالْمَرْأَةُ) تُخَالِفُ الرَّجُلَ فِي الْخَمْسِ الْمَذْكُوْرَةِ
Maka sesungguhnya seorang wanita menempelkan sebagian badannya dengan sebagian badannya yang lain. Sehingga ia menempelkan perutnya pada kedua pahanya saat ruku’ dan sujud. فَإِنَّهَا (تَضُمُّ بَعْضَهَا إِلَى بَعْضٍ) فَتُلْصِقُ بَطْنَهَا بِفَخْذَيْهَا فِيْ رُكُوْعِهَا وَسُجُوْدِهَا
Dan ia memelankan suaranya saat sholat di dekat lelaki-lekaki lain (bukan mahram dan bukan halalnya). (وَتَحْفَضُ صَوْتَهَا) إِنْ صَلَّتْ (بِحَضْرَةِ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ)
Sehingga, ketika ia sholat sendiri jauh dari mereka, maka sunnah mengeraskan suara (di tempat yang dianjurkan mengeraskan suara). فَإِنْ صَلَّتْ مُنْفَرِدَةً عَنْهُمْ جَهَرَتْ
Ketika di dalam sholat mengalami sesuatu, maka dianjurkan untuk bertepuk tangan dengan memukulkan punggung telapak tangan kanan ke punggung telapak tangan kiri. (وَإِذَا نَابَهَا شَيْئٌ فِي الصَّلَاةِ صَفَّقَتْ) بِضَرْبِ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ الْيُسْرَى
Seandainya ia memukulkan telapak tangan bagian dalam ke telapak tangan bagian dalam yang satunya dengan tujuan main-main walaupun hanya sedikit saja padahal ia tahu akan keharaman hal tersebut, maka sholatnya batal. Seorang huntsa sama seperti seorang wanita. فَلَوْ ضَرَبَتْ بَطْنًا بِبَطْنٍ بِقَصْدِ اللَّعْبِ وَلَوْ قَلِيْلًا مَعَ عِلْمِ التَّحْرِيْمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهَا وَالْخُنْثَى كَالْمَرْأَةِ
Seluruh badan wanita merdeka adalah aurat selain wajah dan kedua telapak tangannya. (وَجَمِيْعُ بَدَنِ) الْمَرْأَةِ (الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا)
Dan ini adalah auratnya di dalam sholat. Adapun auratnya di luar sholat adalah seluruh badannya.

 

وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَّلَاةِ أَمَّا خَارِجَ الصَّلَاةِ فَعَوْرَتُهَا جَمِيْعُ بَدَنِهَا
Wanita ammat seperti laki-laki di dalam sholat. Maka auratnya adalah anggota di antara pusar dan lututnya. (وَالْأَمَّةُ كَالرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ) فَتَكُوْنُ عَوْرَتُهَا مَا بَيْنَ سُرَّتِها وَرُكْبَتِهَا.


BAB HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT

(Fasal) menjelaskan hal-hal yang membatalkan sholat. (فَصْلٌ) فِيْ عَدَدِ مُبْطِلَاتِ الصَّلَاةِ
Sesuatu yang membatalkan sholat ada sebelas perkara. وَالَّذِيْ يُبْطِلُ الصَّلَاةَ أَحَدَ عَشَرَ شَيْأً
Yaitu berbicara secara sengaja dengan kata-kata yang layak digunakan untuk berbicara di antara anak Adam, baik berhubungan dengan kemaslahatan sholat ataupun tidak. الْكَلَامُ عَمْدًا) الصَّالِحُ لِخِطَابِ الْآدَمِيِّيْنَ سَوَاءٌ تَعَلَّقَ بِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ أَوْ لاَ
(kedua) gerakan yang banyak dan terus menerus seperti tiga jangkahan, dengan sengaja ataupun lupa. (وَالْعَمَلُ الْكَثِيْرُ) الْمُتَوَالِيْ كَثَلَاثِ خَطَوَاتٍ عَمْدًا كَانَ ذَلِكَ أَوْ سَهْوًا
Sedangkan gerakan badan yang sedikit, maka tidak sampai membatalkan sholat. أَمَّا الْعَمَلُ الْقَلِيْلُ فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهِ
(ketiga dan ke empat) hadats kecil dan besar, dan terkena najis yang tidak dima’fu.

 

(وَالْحَدَثُ) الْأَصْغَرُ وَالْأَكْبَرُ (وَحُدُوْثُ النَّجَاسَةِ) الَّتِيْ لَايُعْفَى عَنْهَا
Seandainya pakaiannya kejatuhan najis yang kering, kemudian ia langsung mengibaskan pakaiannya seketika, maka sholatnya tidak batal. وَلَوْ وَقَعَ عَلَى ثَوْبِهِ نَجَاسَةٌ يَابِسَةٌ فَنَفَضَ ثَوْبَهُ حَالًا لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ
(ke lima) terbukanya aurat dengan sengaja. Jika tiupan angin membuka auratnya, kemudian ia langsung menutupnya kembali seketika, maka sholatnya tidak batal. (وَانْكِشَافُ الْعَوْرَةِ) عَمْدًا فَإِنْ كَشَفَهَا الرِّيْحُ فَسَتَرَهَا فِي الْحَالِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ
(ke enam) merubah niat. Seperti niat keluar dari sholat. (وَتَغْيِيْرُ النِّيَّةِ) كَأَنْ يَنْوِيَ الْخُرُوْجَ مِنَ الصَّلَاةِ
(ke tujuh) membelakangi / berpaling dari kiblat. Seperti memposisikan kiblat di belakang punggungnya. (وَاسْتِدْبَارُ الْقِبْلَةِ) كَأَنْ يَجْعَلَهَا خَلْفَ ظَهْرِهِ
(delapan & sembilan) makan dan minum, baik makanan dan minuman itu banyak ataupun sedikit. (وَالْأُكْلُ وَالشُّرْبُ) كَثِيْرًا كَانَ الْمَأْكُوْلُ وَالْمَشْرُوْبُ أَوْ قَلِيْلًا
Keculai dalam bentuk ini seorang yang melakukannya tidak tahu akan keharaman hal tersebut. إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ الشَّخْصُ فِيْ هَذِهِ الصُّوْرَةِ جَاهِلًا تَحْرِيْمَ ذَلِكَ
(sepuluh) tertawa. Sebagian ulama’ mengungkapkan dengan bahasa “dlahqi (tertawa terbahak-bahak)”. (وَالْقَهْقَهَةُ) وَمِنْهُمْ مَنْ يُعَبِّرُ عَنْهَا بِالضَّحْكِ
(sebelas) murtad. Murtad adalah memutus Islam dengan ucapan atau perbuatan. (وَالرِّدَةُ) وَهِيَ قَطْعُ الْإِسْلَامِ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ.

 

 

Jumlah Rakaat di Dalam Sholat

 

(Fasal) menjelaskan jumlah rakaat sholat. (فَصْلٌ) فِيْ عَدَدِ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ
Jumlah rakaat sholat fardlu, maksudnya sehari semalam dalam sholat di rumah kecuali pada hari Jum’at adalah tujuh belas rakaat. (وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ) أَيْ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فِيْ صَلَاةِ الْحَضَرِ إِلَّا يَوْمَ الْجُمُعَةِ (سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً)
Sedangkan untuk hari Jum’at, maka jumlah rakaat sholat fardlu pada hari itu adalah lima belas rakaat. أَمَّا يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَعَدَدُ رَكَعَاتِ الْفَرَائِضِ فِيْ يَوْمِهَا خَمْسَةَ عَشَرَ رَكْعَةً
Adapun jumlah rakaat sholat setiap hari saat bepergian bagi orang yang melakukan sholat qashar adalah sebelas rakaat. وَأَمَّا عَدَدُ رَكَعَاتِ صَلَاةِ السَّفَرِ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ لِلْقَاصِرِ فَإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Perkataan mushannif “di dalam jumlah rakaat tersebut terdapat tiga puluh empat sujudan, sembilan puluh empat takbir, sembilan tasyahud, sepuluh salam, dan seratus lima puluh tiga tasbih. Jumlah rukun di dalam sholat ada seratus dua puluh enam rukun, yaitu tiga puluh rukun di dalam sholat Subuh, empat puluh dua rukun di dalam sholat Maghrib, dan lima puluh empat rukun di dalam sholat empat rakaat” hingga akhir perkataan beliau adalah sudah jelas dan tidak perlu dijelaskan. وَقَوْلُهُ (فِيْهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُوْنَ سَجْدَةً وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُوْنَ تَكْبِيْرَةً وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ وَعَشْرُ تَسْلِيْمَاتٍ وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُوْنَ رُكْنًا فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُوْنَ رُكْنًا وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُوْنَ رُكْنًا وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُوْنَ ركُنْاً) إِلَى آخِرِهِ ظَاهِرٌ غَنِيٌّ عَنِ الشَّرْحِ.

Sholatnya Orang yang Tidak Mampu

 

Dan barang siapa tidak mampu berdiri saat melaksanakan sholat fardlu karena ada hal berat yang ia alami saat berdiri, maka ia diperkenakankan sholat dengan duduk sesuai posisi yang ia kehendaki. (وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيْضَةِ) لِمَشَقَّةٍ تَلْحَقُهُ فِيْ قِيَامِهِ (صَلَّى جَالِسًا) عَلَى أَيِّ هَيْئَةٍ شَاءَ
Akan tetapi duduk iftirasy di waktu posisi berdiri lebih utama dari pada duduk tarabbu’ (bersila) menurut pendapat al Adhhar. وَلَكِنِ افْتِرَاشُهُ فِيْ مَوْضِعِ قِيَامِهِ أَفْضَلُ مِنْ تَرَبُّعِهِ فِي الْأَظْهَرِ
Dan barang siapa tidak mampu duduk, maka diperkenankan sholat dengan tidur miring. (وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوْسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا)
Jika tidak mampu tidur miring, maka diperkenankan sholat dengan terlentang di atas punggung dan kedua kaki menghadap kiblat. فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْاِضْطِجَاعِ صَلَّى مُسْتَلْقِيًا عَلَى ظَهْرِهِ وَرِجْلَاهُ لِلْقِبْلَةِ
Jika tidak mampu melakukan semua itu, maka hendaknya ia memberi isyarah dengan mata dan niat di dalam hati. فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ أَوْمَأَ بَطَرْفِهِ وَنَوَى بِقَلْبِهِ
Dan wajib baginya untuk menghadap kiblat dengan wajah dengan meletakkan sesuatu di bawah kepalanya dan memberi isyarah dengan kepala saat ruku’ dan sujud. وَيَجِبُ عَلَيْهِ اسْتِقْبَالُهَا بِوَجْهِهِ بِوَضْعِ شَيْئٍ تَحْتَ رَأْسِهِ وَيُوْمِئُ بِرَأْسِهِ فِيْ رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ
Jika tidak mampu memberi isyarah dengan kepala, maka hendaknya ia memberi isyarah dengan kedipan mata. فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْإِيْمَاءِ بِرَأْسِهِ أَوْمَأَ بِأَجْفَانِهِ
Jika tidak mampu memberi isyarah dengan itu, maka ia harus menjalankan rukun-rukun sholat di dalam hati. Dan tidak diperkenankan meninggalkan sholat selama akalnya masih ada. فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْإِيْمَاءِ بِهَا أَجْرَى أَرْكَانَ الصَّلَاةِ عَلَى قَلْبِهِ وَلَايَتْرُكُهَا مَا دَامَ عَقْلُهُ ثَابِتًا
Orang yang sholat dengan posisi duduk, maka ia tidak wajib mengqadala’ dan pahalanya tidak berkurang, karena sesungguhnya ia adalah orang memiliki udzur. وَالْمُصَلِّيْ قَاعِدًا لَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَايَنْقُصُ أَجْرُهُ لِأَنَّهَ مَعْذُوْرٌ
Adapun sabda baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “barang siapa melakukan sholat dengan posisi duduk, maka ia mendapatkan separuh pahala orang yang sholat dengan berdiri. Dan barang siapa melakukan sholat dengan tidur, maka ia mendapatkan separuh pahala orang yang sholat dengan duduk.” Maka di arahkan pada orang yang melakukan sholat sunnah dan ia dalam keadaan mampu. وَأَمَّا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ فَمَحْمُوْلٌ عَلَى النَّفْلِ عِنْدَ الْقُدْرَةِ .


BAB HAL-HAL YANG DITINGGALKAN SAAT SHOLAT

(Fasal) sesuatu yang ditinggalkan dari sholat ada tiga perkara. (فَصْلٌ وَالْمَتْرُوْكُ مِنَ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ
Yaitu fardlu, yang juga disebut dengan rukun, sunnah ab’ad dan sunnah haiat dua ini adalah selain fardlu. فَرْضٌ) وَيُسَمَّى بِالرُّكْنِ أَيْضًا (وَسُنَّةٌ وَهَيْئَةٌ) وَهُمَا مَا عَدَا الْفَرْضَ
Mushannif menjelaskanketiganya di dalam perkataan beliau, “fardlu tidak bisa digantikan oleh sujud sahwi.” وَبَيَّنَ الْمُصَنِّفُ الثَّلَاثَةَ فِيْ قَوْلِهِ (فَالْفَرْضُ لَا يَنُوْبُ عَنْهُ سُجُوْدُ السَّهْوِ
Bahkan ketika ia ingat telah meninggalkan fardlu, dan posisinya masih di dalam sholat, maka wajib baginya untuk melakukan fardlu yang telah ditinggalkan dan sholatnya dianggap selesai. Atau ingat setelah salam, dan masanya masih relatif sebentar, maka wajib baginya untuk melakukan fardlu yang ditinggalkan dan meneruskan apa yang tersisa dari sholatnya, serta melakukan sujud sahwi. بَلْ إِنْ ذَكَرَهُ) أَيِ الْفَرْضَ وَهُوَ فِيْ الصَّلَاةِ أَتَى بِهِ وَتَمَّتْ صَلَاتُهُ أَوْ ذَكَرَهُ بَعْدَ السَّلَامِ (وَالزَّمَانُ قَرِيْبٌ أَتَى بِهِ وَ بَنَى عَلَيْهِ) مَا بَقِيَ مِنَ الصَّلَاةِ (وَسُجُوْدِ السَّهْوِ)

 

 

Sujud Sahwi

 

Sujud sahwi hukumnya adalah sunnah seperti yang akan dijelaskan. Akan hukum seperti ini ketika meninggalkan perkara yang diperintahkan atau melakukan perkara yang dilarang di dalam sholat. وَهُوَ سُنَّةٌ كَمَا سَيَأْتِيْ لَكْنِ عِنْدَ تَرْكِ مَأْمُوْرٍ بِهِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِعْلِ مَنْهِيٍّ عَنْهُ فِيْهَا
Sunnah ab’ad ketika ditinggalkan oleh orang yang sholat, maka ia tidak diperkenankan kembali untuk melakukannya setelah ia dalam posisi melakukan bagian fardlu. (وَالسُّنَّةُ) إِنْ تَرَكَهَا الْمُصَلِّيْ (لَايَعُوْدُ إِلَيْهَا بَعْدَ التَّلَبُّسِ بِالْفَرْضِ)
Sehingga, barang siapa semisal meninggalkan tasyahud awal, kemudian ia ingat setelah dalam posisi berdiri tegak, maka tidak diperkenankan kembali ke posisi tasyahud. فَمَنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ مَثَلًا فَذَكَرَهُ بَعْدَ اعْتِدَالِهِ مُسْتَوِيًا لَا يَعُوْدُ إِلَيْهِ
Jika ia kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan tahu akan keharamannya, maka sholatnya batal. فَإِنْ عَادَ إِلَيْهِ عَالِمًا بِتَحْرِيْمِهِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ
Atau dalam keadaan lupa bahwa ia sedang melakukan sholat, atau tidak tahu akan keharamannya, maka sholatnya tidak batal namun harus berdiri ketika sudah ingat. أَوْ نَاسِيًا أَنَّهُ فِي الصَّلَاةِ أَوْ جَاهِلًا فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ وَيَلْزَمُهُ الْقِيَامُ عِنْدَ تَذَكُّرِهِ
Jika ia adalah seorang makmum, maka wajib kembali keposisi tasyahud karena untuk mengikuti imam. وَإِنْ كَانَ مَأْمُوْمًا عَادَ وُجُوْبًا لِمُتَابَعَةِ إِمَامِهِ
Akan tetapi disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi ketika dalam kasus tidak kembali atau kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan lupa. (لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا) فِيْ صُوْرَةِ عَدَمِ الْعَوْدِ أَوِ الْعَوْدِ نَاسِيًا
Yang dikehendaki mushannif dengan “sunnah” di sini adalah sunnah-sunnah ab’ad yang berjumlah enam perkara. وَأَرَادَ الْمُصَنِّفُ بِالسُّنَّةِ هُنَّا الْأَبْعَاضَ السِّتَّةَ
Yaitu tasyahud awal, duduk tasyahud awal, qunut di dalam sholat Subuh dan di akhir sholat witir di separuh bulan kedua dari bulan Romadlan, berdiri untuk melakukan qunut, bacaan sholawat untuk baginda Nabi Saw di dalam tasyahud awal, dan bacaan sholawat untuk keluarga baginda Nabi Saw di dalam tasyahud akhir. وَهِيَ التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ وَقُعُوْدُهُ وَالْقُنُوْتُ فِي الصُّبْحِ وَفِيْ آخِرِ الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الثَّانِيْ مِنْ رَمَضَانَ وَالْقِيَامُ لِلْقُنُوْتِ وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَالصَّلَاةُ عَلَى الآلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ.
Sunnah hai’ah seperti bacaan-bacaan tasbih dan sesamanya dari kesunahan-kesunahan yang tidak diganti dengan sujud sahwi, maka setelah meninggalkannya, seorang mushalli tidak boleh kembali untuk melakukkannya. Dan tidak boleh melakukan sujud sahwi karenanya, baik ia meninggalkan secara sengaja atau karena lupa. (وَالْهَيْئَةُ) كَالتَّسْبِيْحَاتِ وَنَحْوِهَا مِمَّا لَايُجْبَرُ بِالسُّجُوْدِ (لَايَعُوْدُ) الْمُصَلِّي (إِلَيْهَا بَعْدَ تَرْكِهَا وَلَايَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا) سَوَاءٌ تَرَكَهَا عَمْدًا أَوْ سَهْوًا
Ketika seorang musholli ragu-ragu di dalam jumlah rakaat yang ia lakukan, seperti orang yang ragu-ragu apakah ia telah melakukan tiga rakaat atau empat rakaat, maka wajib baginya untuk melakukan apa yang diyaqini, yaitu jumlah yang terkecil seperti tiga rakaat di dalam contoh ini, dan ia wajib menambah satu rakaat dan sunnah melakukan sujud sahwi. (وَإِذَا شَكَّ) الْمُصَلِّيْ (فِيْ عَدَدِ مَا أَتَى بِهِ مِنَ الرَّكَعَاتِ) كَمَنْ شَكَّ هَلْ صَلَّى ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا (بَنَى عَلَى الْيَقِيْنِ وَهُوَ الْأَقَلُّ) كَالثَّلَاثَةِ فِيْ هَذَا الْمِثَالِ وَأَتَى بِرَكْعَةٍ (وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ)
Dugaan kuat bahwa ia telah melakuan empat rakaat tidak bisa dibuat pegangan, dan ia juga tidak diperkenankan mengikuti ucapan orang lain yang mengatakan padanya bahwa ia telah melakukan empat rakaat, walaupun jumlah mereka mencapai jumlah mutawatir. وَلَا يَنْفَعُهُ غَلَبَةُ الظَّنِّ أَنَّهُ صَلَّى أَرْبَعًا وَلَايَعْمَلُ بِقَوْلِ غَيْرِهِ لَهُ أَنَّهُ صَلَّى أَرْبَعًا وَلَوْ بَلَغَ ذَلِكَ الْقَائِلُ عَدَدَ التَّوَاتُرِ
Sujud sahwi hukumnya sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan, dan tempat melakukannya adalah sebelum salam. (وَسُجُوْدُ السَّهْوِ سُنَّةٌ) كَمَا سَبَقَ (وَمَحَلُّهُ قَبْلَ السَّلَامِ)
Jika seorang mushalli melakukan salam dengan sengaja dan tahu bahwa ia dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, atau lupa namun masanya cukup lama secara ‘urf, maka kesunnahan untuk melakukan sujud sahwi telah hilang. فَإِنْ سَلَّمَ الْمُصَلِّيْ عَامِدًا عَالِمًا بِالسَّهْوِ أَوْ نَاسِيًا وَطَالَ الْفَصْلُ عُرْفًا فَاتَ مَحَلُّهُ
Jika masanya relatif singkat secara ‘urf, maka waktu melaksanakannya tidak hilang, dan saat itu ia di perkenakankan melakukan atau meninggalkan sujud sahwi. وَإِنْ قَصُرَ الْفَصْلُ عُرْفًا لَمْ يَفُتْ وَحِيْنَئِذٍ فَلَهُ السُّجُوْدُ وَتَرْكُهُ .


BAB WAKTU-WAKTU YANG DIMAKRUHKAN

(Fasal) menjelaskan waktu-waktu yang dimakruhkan melakukan sholat dengan makruh tahrim seperti keterangan di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab di dalam bab ini. (فَصْلٌ) فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِيْ تُكْرَهُ الصَّلَاةُ) فِيْهَا تَحْرِيْمًا كَمَا فِي الرَّوْضَةِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ هُنَّا
Dan makruh tanzih seperti keterangan di dalam kitab at Tahqiq dan Syarh al Muhadzdzab di dalam kitab “Nawaqidul Wudlu’”. وَتَنْزِيْهًا كَمَا فِي التَّحْقِيْقِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ فِيْ نِوِاقِضِ الْوُضُوْءِ
Ada lima waktu yang dimakruhkan melakukan sholat pada waktu itu kecuali sholat yang memiliki seBAB (وَخَمْسَةُ أَوْقَاتٍ لَا يُصَلَّى فِيْهَا إِلَّا صَلَاةٌ لَهَا سَبَبٌ)
Adakalanya sebab yang terjadi sebelum pelaksanaan sholat seperti sholat fa’itah (sholat yang ditinggalkan). Atau sebab yang berbarengan dengan pelaksanaan sholat seperti sholat gerhana dan sholat istisqa’. إِمَّا مُتَقَدِّمٌ كَالْفَائِتَةِ أَوْ مُقَارِنٌ كَصَلَاةِ الْكُسُوْفِ وَالْاِسْتِسْقَاءِ
Yang pertama dari lima waktu tersebut adalah sholat yang tidak memiliki sebab ketika dikerjakan setelah sholat Subuh. Dan hukum makruh tersebut tetap ada hingga terbitnya matahari. فَالْأَوَّلُ مِنَ الْخَمْسَةِ الصَّلَاةُ الَّتِيْ لَاسَبَبَ لَهَا إِذَا فُعِلَتْ (بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ) وَتَسْتَمِرُّ الْكَرَاهَةُ (حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ
Yang kedua adalah melaksanakan sholat ketika terbitnya matahari hingga keluar secara sempurna dan naik kira-kira setinggi satu tombak sesuai dengan pandangan mata. وَ) الثَّانِيْ الصَّلَاةُ (عِنْدَ طُلُوْعِهَا) إِذَا طَلَعَتْ (حَتَّى تَتَكَامَلَ وَتَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ) فِيْ رَأْيِ الْعَيْنِ
Yang ketiga adalah mengerjakan sholat ketika matahari tepat di tengah-tengah langit hingga bergeser dari tengah-tengah langit. (وَ) الثَّالِثُ الصَّلَاةُ (إَذَا اسْتَوَتْ حَتَّى تَزُوْلَ) عَنْ وَسَطِ السَّمَاءِ
Dari semua itu dikecualikan hari Jum’at, maka tidak di makruhkan melaksanakan sholat di hari Jum’at tepat pada waktu istiwa’. وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَلَا تُكْرَهُ الصَّلَاةُ فِيْهِ وَقْتَ الْاِسْتِوَاءِ
Begitu juga daerah Haram Makkah, baik masjid atau yang lainnya, maka tidak dimakruhkan melaksanakan sholat di sana pada semua waktu-waktu ini, baik sholat sunnah thawaf atau yang lainnya. وَكَذَا حَرَمُ مَكَّةَ الْمَسْجِدُ وَغَيْرُهُ فَلَا تُكْرَهُ الصَّلَاةُ فِيْهِ فِيْ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ كُلِّهَا سَوَاءٌ صَلَّى سُنَّةَ الطَّوَافِ أَوْ غَيْرَهَا
Yang ke empat adalah waktu setelah melaksanakan sholat Ashar hingga terbenamnya matahari. (وَ) الرَّابِعُ (بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرِبَ الشَّمْسُ
Yang ke lima adalah waktu ketika terbenamnya matahari, yaitu ketika mendekati terbenam hingga sempurna terbenam. وَ) الْخَامِسُ (عِنْدَ الْغُرُوْبِ) لِلشَّمْسِ إِذَا دَنَتْ لِلْغُرُوْبِ (حَتَّى يَتَكَامَلَ غُرُوْبُهَا).


BAB SHOLAT JAMA’AH

Hukum Berjama’ah

 

(Fasal) sholat berjama’ah bagi orang-orang laki-laki di dalam sholat-sholat fardlu selain sholat Jum’at hukumnya sunnah muakkad menurut mushannif dan imam ar Rafi’i.

 

 

Namun pendapat al Ashah menurut imam an Nawawi adalah bahwa sesungguhnya sholat berjama’ah hukumnya fardlu kifayah.

(فَصْلٌ وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ) لِلرِّجَالِ فِي الْفَرَائِضِ غَيْرِ الْجُمُعَةِ (سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ) عِنْدَ الْمُصَنِّفِ وَالرَّافِعِيِّ

وَالْأَصَحُّ عِنْدَ النَّوَوِيِّ أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ

Seorang makmum bisa mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam pada selain sholat Jum’at selama sang imam belum melakukan salam yang pertama, walaupun sang makmum belum sempat duduk bersama imam. وَيُدْرِكُ الْمَأْمُوْمُ الْجَمَاعَةَ مَعَ الْإِمَامِ فِيْ غَيْرِ الْجُمُعَةِ مَالَمْ يُسَلِّمِ التَّسْلِيْمَةَ الْأُوْلَى وَإِنْ لَمْ يَقْعُدْ مَعَهُ
Adapun hukum berjama’ah di dalam sholat Juma’at adalah fardlu ‘ain, dan tidak bisa hasil dengan kurang dari satu rakaat. أَمَّا الْجَمَاعَةُ فِي الْجُمُعَةِ فَفَرْضُ عَيْنٍ وَلَا تَحْصُلُ بِأَقَلَّ مِنْ رَكْعَةٍ

 

Kewajiban-Kewajiban di Dalam Berjama’ah

 

Bagi makmum wajib niat menjadi makmum atau niat mengikuti imam. (وَ) يَجِبُ (عَلَى الْمَأْمُوْمِ أَنْ يَنْوِيَ الْاِئْتِمَامَ) أَوِ الْاِقْتِدَاءَ بِالْإِمَامِ
Dan tidak wajib menentukan imam yang diikuti bahkan cukup niat bermakmum dengan imam yang hadir saat itu walaupun dia tidak mengenalnya. وَلَا يَجِبُ تَعْيِيْنُهُ بَلْ يَكْفِي الْاِقْتِدَاءُ بِالْحَاضِرِ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْهُ
Jika ia menentukan sang imam dan ternyata keliru, maka sholatnya batal kecuali jika disertai isyarah dengan ucapannya “saya niat bermakmum pada Zaid, yaitu orang ini”, namun ternyata dia adalah ‘Amr, maka sholatnya tetap sah. فَإِنْ عَيَّنَهُ وَأَخْطَأَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ إِلَّا إِنِ انْضَمَّتْ إِلَيْهِ إِشَارَةٌ بِقَوْلِهِ نَوَيْتُ الْاِقْتِدَاءَ بِزَيْدٍ هَذَا فَبَانَ عَمْرًا فَتَصِحُّ
Tidak bagi imam, maka tidak wajib bagi dia niat menjadi imam untuk mengesahkan bermakmum padanya di dalam selain sholat Jum’at. (دُوْنَ الْإِمَامِ) فَلَا يَجِبُ فِيْ صِحَّةِ الْاِقْتِدَاءِ بِهِ فِيْ غَيْرِ الْجُمُعَةِ نِيَّةُ الْإِمَامَةِ
Bahkan niat menjadi imam hukumnya disunnahkan bagi imam. Jika ia tidak niat menjadi imam, maka sholatnya dihukumi sholat sendirian. بَلْ هِيَ مُسْتَحَبَّةٌ فِيْ حَقِّهِ فَإِنْ لَمْ يَنْوِ فَصَلَاتُهُ فُرَادَى.

 

Yang Sah Menjadi Imam

 

Bagi lelaki merdeka d perkenankan bermakmum pada seorang budak laki-laki. Dan bagi lelaki baligh diperkenankan bermakmum pada anak yang menjelang baligh (murahiq). (وَيَجُوْزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ)
Adapun bocah yang belum tamyiz, maka tidak sah bermakmum padanya. أَمَّا الصَّبِيُّ غَيْرُ الْمُمَيِّزُ فَلَا يَصِحُّ الْاِقْتِدَاءُ بِهِ
Seorang lelaki tidak sah bermakmum pada seorang wanita dan huntsa musykil. Seorang huntsa muskil tidak sah bermakmum pada seorang wanita dan huntsa musykil. (وَلَاتَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ) وَلَا بِخُنْثَى مُشْكِلٍ وَلَا خًنْثَى مُشْكِلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا بِمُشْكِلٍ
Seorang ­qari’, yaitu orang yang benar bacaan Al Fatihahnya, tidak sah bermakmum pada seorag ummi, yaitu orang yang cacat bacaan huruf atau tasydid dari surat Al Fatihah. (وَلَا قَارِئٌ) وَهُوَ مَنْ يُحْسِنُ الْفَاتِحَةَ أَيْ لَا يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ (بِأُمِّيٍّ) وَهُوَ مَنْ يُخِلُّ بِحَرْفٍ أَوْ تَشْدِيْدَةٍ مِنَ الْفَاتِحَةِ

Syarat-Syarat Berjama’ah

 

Kemudian mushannif memberi isyarah pada syarat-syarat bermakmum dengan perkataan beliau, ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِشُرُوْطِ الْقُدْوَةِ بِقَوْلِهِ
Di tempat manapun di dalam masjid seseorang melakukan sholat mengikuti imam yang berada di dalam masjid, dan ia (yaitu makmum) mengetahui sholatnya imam dengan langsung melihatnya atau melihat sebagian shof, maka hal tersebut sudah cukup di dalam sahnya bermakmum pada sang imam, selama posisinya tidak mendahului imam. (وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيْهِ) أَيْ فِي الْمَسْجِدِ (وَهُوَ) أَيِ الْمَأْمُوْمُ (عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيِ الْإِمَامِ بِمُشَاهَدَةِ الْمَأْمُوْمِ لَهُ أَوْ بِمُشَاهَدَةِ بَعْضِ الصَّفِّ (أَجْزَأَهُ) أَيْ كَفَاهُ ذَلِكَ فِيْ صِحَّةِ الْاِقْتِدَاءِ بِهِ (مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ)
Jika tumit sang makmum mendahului tumit imam dalam satu arah, maka sholatnya tidak sah. فَإِنْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ بِعَقِبِهِ فِيْ جِهَّتِهِ لَمْ تَنْعَقِدْ صَلَاتُهُ
Tidak masalah jika tumitnya sejajar dengan tumit sang imam. وَلَا تَضُرُّ مُسَاوَاتُهُ لِإِمَامِهِ
Dan disunnahkan sang makmum mundur sedikit di belakang imam. Dan dengan posisi ini, ia tidak dianggap keluar dari shof sehingga akan menyebabkan ia tidak mendapatkan keutamaan sholat berjama’ah. وَيُنْدَبُ تَخَلُّفُهُ عَنْ إِمَامِهِ قَلِيْلًا وَلَا يَصِيْرُ بِهَذَا التَّخَلُّفِ مُنْفَرِدًا عَنِ الصَّفِّ حَتَّى لَا يَحُوْزَ فَضِيْلَةَ الْجَمَاعَةِ
Jika seorang imam sholat di dalam masjid sedangkan sang makmum sholat di luar masjid, ketika keadaan sang makmum dekat dengan imam dengan artian jarak diantara keduanya tidak lebih kira-kira dari tiga ratus dzira’, dan sang makmum mengetahui sholat sang imam, dan di sana tidak ada penghalang, maksudnya di antara imam dan makmum, maka diperkenankan bermakmum pada imam tersebut. (وَإِنْ صَلَّى) الْإِمَامُ (فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَأْمُوْمٌ خَارِجَ الْمَسْجِدِ) حَالَ كَوْنِهِ (قَرِيْبًا مِنْهُ) أَيِ الْإِمَامِ بِأَنْ لَمْ تَزِدْ مَسَافَةُ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيْبًا (وَهُوَ) أَيِ الْمَأْمُوْمُ (عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيِ الْإِمَامِ (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) أَيْ بَيْنَ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ (جَازَ) الْاِقْتِدَاءُ بِهِ
Jarak tersebut terhitung dari ujung terakhir masjid. وَتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ الْمَذْكُوْرَةُ مِنْ آخِرِ الْمَسْجِدِ
Jika imam dan makmum berada di selain masjid, adakalanya tanah lapang atau bangunan, maka syaratnya adalah jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus dzira’, dan diantara keduanya tidak terdapat penghalang. وَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ وَالْمَأْمُوْمُ فِيْ غَيْرِ الْمَسْجِدِ إِمَّا فَضَاءٍ أَوْ بِنَاءٍ فَالشَّرْطُ أَنْ لَا يَزِيْدَ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَثَمِائِةِ ذِرَاعٍ وَأَنْ لَايَكُوْنَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ .


BAB QASHAR & JAMA’

(Fasal) menjelaskan qashar dan jama’ sholat. (فَصْلٌ فِيْ قَصْرِ الصَّلَاةِ وَجَمْعِهَا
Diperkenankan bagi musafir, yaitu orang yang sedang bepergian untuk mengqashar sholat empat rakaat, bukan yang lainnya yaitu sholat dua rakaat dan tiga rakaat. (وَيَجُوْزُ لِلْمُسَافِرِ) أَيِ الْمُتَلَبِّسِ بِالسَّفَرِ (قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ) لَاغَيْرِهَا مِنْ ثَنَائِيَّةٍ وَثُلَاثِيَّةٍ

 

Syarat Qashar Sholat

 

Diperkenankan mengqashar sholat dengan lima syarat.

 

وَجَوَازُ قَصْرِ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ (بِخَمْسِ شَرَائِطَ)
Yang pertama, perjalanan yang dilakukannya bukan maksiat.

 

اْلأَوَّلُ (أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ) أَيِ الشَّخْصِ (فِيْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ)
Yaitu mencakup perjalanan wajib seperti untuk melunasi hutang, perjalanan sunnah seperti untuk silaturrahmi dan perjalanan mubah seperti perjalanan untuk berdagang. هُوَ شَامِلٌ لِلْوَاجِبِ كَقَضَاءِ دَيْنٍ وَلِلْمَنْدُوْبِ كَصِلَّةِ الرَّحْمِ وَلِلْمُبَاحِ كَسَفَرِ تِجَارَةٍ
Adapun perjalanan maksiat seperti perjalanan untuk membegal jalan, maka saat melakukan perjalanan ini, seseorang tidak diperkenankan melakukan kemurahan qashar sholat dan jama’. أَمَّا سَفَرُ الْمَعْصِيَةِ كَسَفَرٍ لِقَطْعِ الطَّرِيْقِ فَلَا يَتَرَخَّصُ فِيْهِ بِقَصْرٍ وَلَا جَمْعٍ
Kedua, jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh secara pasti menurut pendapat al ashah. Dan jarak yang ditempuh saat pulang tidak dihitung.

 

(وَ) الثَّانِيْ (أَنْ تَكُوْنَ مَسَافَتُهُ) أَيِ السَّفَرِ (سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا) تَحْدِيْدًا فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا تُحْسَبُ مُدَّةُ الرُّجُوْعِ مِنْهَا
Satu farsakh adalah tiga mil. Kalau demikian, maka jumlah seluruh farsakh di atas adalah empat puluh delapan mil. Satu mil adalah empat ribu jangka kaki. Dan satu jangka sama dengan tiga telapak kaki. Yang dikehendaki dengan mil adalah ukuran mil keturuan bani Hasyim. وَالْفَرْسَخُ ثَلَاثَةُ أَمْيَالٍ وَحِيْنَئِذٍ فَمَجْمُوْعُ الْفَرَاسِخِ ثَمَانِيَةٌ وَأَرْبَعُوْنَ مَيْلًا وَالْمَيْلُ أَرْبَعَةُ أَلَافِ خَطْوَةٍ وَالْخَطْوَةُ ثَلَاثَةُ أَقْدَامٍ وَالْمُرَادُ بِالْأَمْيَالِ الْهَاشِمِيَّةِ
Ketiga, orang yang melakukan qashar adalah orang yang melakukan sholat empat rakaat secara ada’. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ) الْقَاصِرُ (مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ)
Adapun sholat yang tertinggal saat di rumah, maka tidak diperkenankan diqadla’ secara qashar saat melakukan perjalanan. Sedangkan sholat yang tertinggal diperjalanan, maka boleh diqadla’ dengan diqashar saat melakukan perjalanan, tidak diqadla’ di rumah. أَمَّا الْفَائِتَةُ حَضَرًا فَلَا تُقْضَى فِيْهِ مَقْصُوْرَةً وَالْفَائِتَةُ فِي السَّفَرِ تُقْضَى فِيْهِ مَقْصُوْرَةً لَا فِي الْحَضَرِ
Ke empat, seorang musafir niat melakukan qashar besertaan takbiratul ihram sholat tersebut.

 

(وَ) الرَّابِعُ (أَنْ يَنْوِيَ) الْمُسَافِرُ (الْقَصْرَ) لِلصَّلاَةِ (مَعَ الْإِحْرَامِ) بِهَا
Ke lima, orang yang qashar sholat tidak bermakmum di dalam sebagian sholatnya pada orang muqim, yaitu orang yang melakukan sholat secara sempurna. Pentafsiran seperti ini (orang yang sholat secara sempurnya) agar mencakup pada seorang musafir yang melakukan sholat dengan sempurna. (وَ) الْخَامِسُ (أَنْ لَا يَأْتَمَّ) فِيْ جُزْءٍ مِنْ صَلاَتِهِ (بِمُقِيْمٍ) أَيْ بِمَنْ يُصَلِّيْ صَلَاةً تَامَّةً لِيَشْمُلَ الْمُسَافِرَ الْمُتِمَّ.

 

Sholat-Sholat Yang Boleh di Jama’

 

Bagi seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh yang mubah, diperkenankan menjama’ antara sholat Dhuhur dan Ashar, dengan jama’ taqdim dan jama’ ta’khir. Dan ini adalah makna perkataan mushannif, “di waktu manapun yang ia kehendaki”. (وَيَجُوْزُ لِلْمُسَافِرِ) سَفَرًا طَوِيْلًا مُبَاحًا (أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ) صَلَاتَيِ (الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ) تَقْدِيْمًا وَتَأْخِيْرًا وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ (فِيْ وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ
Dan diperkenankan menjama’ antara sholat Maghrib dan Isya’ dengan jama’ taqdim dan jama’ ta’khir. Dan ini adalah makna ungkapan mushannif, “di waktu manapun yang ia kehendaki”. وَ) أَنْ يَجْمَعَ (بَيْنَ) صَلَاتَيِ (الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ) تَقْدِيْمًا وَتَأْخِيْرًا وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ (فِيْ وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ)

 

Syarat Jama’ Taqdim

 

Syarat-syarat jama’ taqdim ada tiga. Yang pertama, di mulai dengan melakukan sholat Dhuhur sebelum sholat Ashar, dan dengan sholat Maghrib sebelum sholat Isya’. وَشُرُوْطُ جَمْعِ الْتَقْدِيْمِ ثَلاَثَةٌ الْأَوَّلُ أَنْ يَبْدَأَ بِالظُّهْرِ قَبْلَ الْعَصْرِ وَبِالْمَغْرِبِ قَبْلَ الْعِشَاءِ
Seandainya dia membalik, seperti memulai dengan sholat Ashar sebelum melakukan sholat Dhuhur, maka tidak sah dan dia harus mengulangi sholat Ashar setelah melakukan sholat Dhuhur jika ingin melakukan sholat jama’. فَلَوْ عَكَسَ كَأَنْ بَدَأَ بِالْعَصْرِ قَبْلَ الظُّهْرِ مَثَلًا لَمْ يَصِحَّ وَيُعْيِدُهَا بَعْدَهَا إِنْ أَرَادَ الْجَمْعَ
Kedua, melakukan niat jama’ di permulaan sholat yang pertama, yaitu membarengkan niat jama’ dengan takbiratul ihramnya. وَالثَّانِيْ نِيَةُ الْجَمْعِ أَوَّلَ الصَّلَاةِ الْأُوْلَى بِأَنْ تَقْتَرِنَ نِيَةُ الْجَمْعِ بِتَحَرُّمِهَا
Sehingga tidak cukup jika mendahulukan niat jama’ sebelum takbiratul ihram dan mengakhirkan hingga setelah melakukan salam dari sholat yang pertama. Namun diperkenankan melakukan niat jama’ di pertengahan sholat pertama menurut pendapat al adhhar. فَلَا يَكْفِيْ تَقْدِيْمُهَا عَلَى التَّحْرِيْمِ وَلَا تَأْخِيْرُهَا عَنِ السَّلَامَ مِنَ الْأُوْلَى وَتَجُوْزُ فِيْ أَثْنَائِهَا عَلَى الْأَظْهَرِ
Ke tiga, muwallah (terus menerus) antara pelaksanaan sholat pertama dan sholat yang kedua, dengan arti tidak ada pemisah yang relatif lama di antara keduannya. وَالثَّالِثُ الْمُوَالَاةُ بَيْنَ الْأُوْلَى وَالثَّانِيَةِ بِأَنْ لَا يَطُوْلَ الْفَصْلُ بَيْنَهُمَا
Jika ada pemisah yang relatif panjang/lama, walaupun sebab udzur seperti tidur, maka wajib menunda pelaksanaan sholat ke dua hingga masuk waktunya. فَإِنْ طَالَ عُرْفًا وَلَوْ بِعُذْرٍ كَنَوْمٍ وَجَبَ تَأْخِيْرُ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ إِلَى وَقْتِهَا
Pemisah yang relatif sebentar / pendek tidak berpengaruh di dalam muwallah antara dua sholat tersebut. وَلَا يَضُرُّ فِي الْمُوَالَاةِ بَيْنَهُمَا فَصْلٌ يَسِيْرٌ عُرْفًا

 

Syarat Jama’ Ta’khir

 

Adapun jama’ ta’khir, maka di dalam pelaksanaannya wajib untuk niat jama’ dan niat tersebut harus dilakukan di dalam waktunya sholat yang pertama. وَأَمَّا جَمْعُ التَّأْخِيْرِ فَيَجِبُ فِيْهِ أَنْ يَكُوْنَ بِنِيَّةِ الْجَمْعِ وَتَكُوْنُ النِّيَّةُ هَذِهِ فِيْ وَقْتِ الْأُوْلَى
Boleh mengakhirkan niat hingga waktu sholat yang pertama masih tersisa masa yang seandainya sholat tersebut dilakukan saat itu niscaya akan menjadi sholat ada’. وَيَجُوْزُ تَأْخِيْرُهَا إِلَى أَنْ يَبْقَى مِنْ وَقْتِ الْأُوْلَى زَمَنٌ لَوِ ابْتُدِئَتْ فِيْهِ كَانَتْ أَدَاءً
Di dalam jama’ ta’khir tidak wajib melaksanakan secara tertib, muwallah dan tidak harus niat jama’, menurut pendapat ash shahih di dalam tiga hal ini. وَلَا يَجِبُ فِيْ جَمْعِ التَّأْخِيْرِ تَرْتِيْبٌ وَلَا مُوَالَاةٌ وَلَا نِيَّةُ جَمْعٍ عَلَى الصَّحِيْحِ فِي الثَّلَاثَةِ

 

Sholat Jama’ Sebab Hujan

 

Di waktu hujan, bagi orang yang muqim diperkenankan melakukan sholat jama’ antara keduanya, maksudnya antara sholat Dhuhur dan Ashar, dan antara sholat Maghirb dan Isya’, tidak di waktu sholat yang kedua, bahkan di waktu sholat yang pertama dari keduanya, jika air hujan bisa membasahi pakaian bagian teratas dan bagian sandal yang paling bawah, dan juga memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan di dalam sholat jama’ taqdim. (وَيَجُوْزُ لِلْحَاضِرِ) أَيِ الْمُقِيْمِ (فِيْ) وَقْتِ (الْمَطَرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا) أَيِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَا فِيْ وَقْتِ الثَّانِيَةِ بَلْ (فِيْ وَقْتِ الْأُوْلَى مِنْهُمَا) إِنْ بَلَّ الْمَطَرُ أَعْلَى الثَّوْبِ وَأَسْفَلَ النَّعْلِ وَوُجِدَتِ الشُّرُوْطُ السَّابِقَةُ فِيْ جَمْعِ التَّقْدِيْمِ
Juga disyaratkan harus turun hujan saat permulaan melakukan dua sholat tersebut. وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا وُجُوْدُ الْمَطَرِ فِيْ أَوَّلِ الصَّلَاتَيْنِ
Tidak cukup hanya turun hujan di pertengahan sholat pertama dari keduanya. وَلَا يَكْفِيْ وُجُوْدُهُ فِيْ أَثْنَاءِ الْأُوْلَى مِنْهُمَا
Juga disyaratkan harus turun hujan saat melakukan salam dari sholat yang pertama, baik setelah itu hujan terus turun ataupun tidak. وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا وُجُوْدُهُ عِنْدَ السَّلَامِ مِنَ الْأُوْلَى سَوَاءٌ اسْتَمَرَّ الْمَطَرُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْ لاَ
Kemurahan melakukan jama’ sebab hujan hanya tertentu bagi orang yang sholat berjama’ah di masjid atau tempat-tempat sholat berjama’ah lainnya yang jaraknya jauh menurut ukuran ‘urf, dan ia merasa berat / kesulitan untuk berangkat ke masjid atau tempat-tempat sholat berjamaah lainnya sebab kehujanan di perjalanannya. وَتَخْتَصُّ رُخْصَةُ الْجَمْعِ بِالْمَطَرِ بِالْمُصَلِّيْ فِيْ جَمَاعَةٍ بِمَسْجِدٍ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ مَوَاضِعِ الْجَمَاعَةِ بَعِيْدٍ عُرْفًا وَيَتَأَذَّى الذَّاهِبُ لِلْمَسْجِدِ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ مَوَاضِعِ الْجَمَاعَةِ بِالْمَطَرِ فِيْ طَرِيْقِهِ.


BAB SHOLAT JUM’AT

Syarat Wajib Jum’at

 

(Fasal) syarat-syarat wajib melaksanakan sholat Jum’at ada tujuh perkara. (فَصْلٌ وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجُمُعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ
Yaitu Islam, baligh dan berakal. Ini juga syarat-syarat kewajiban melakukan sholat-sholat selain sholat Jum’at. الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ) وَهَذَهِ شُرُوْطٌ أَيْضًا لِغَيْرِ الْجُمُعَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ
Merdeka, laki-laki, sehat dan bertempat tinggal tetap. (وَالْحُرِيَّةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ وَالصِّحَةُ وَالْاِسْتِيْطَانُ)
Maka sholat Jum’at tidak wajib bagi orang kafir asli, anak kecil, orang gila, budak, wanita, orang sakit dan sesamanya, dan seorang musafir. فَلَا تَجِبُ الْجُمُعَةُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ وَرَقِيْقٍ وَأُنْثًى وَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ وَمُسَافِرٍ

 

 

Syarat Sah Jum’at

 

Dan syarat-syarat sah pelaksanaan sholat Jum’at ada tiga. (وَشَرَائِطُ) صِحَّةِ (فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ)
Pertama, tempat tinggal yang dihuni oleh sejumlah orang yang melakukan sholat Jum’at, baik berupa kota ataupun pedesaan yang dijadikan tempat tinggal tetap. الْأَوَّلُ دَارُ الْإِقَامَةِ الَّتِيْ يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الْمُجْمِعُوْنَ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ الْمُدُنُ وَالْقُرَى الَّتِيْ تُتَّخَذُ وَطَنًا
Hal itu diungkapkan oleh mushannif dengan perkataan beliau, “daerah tersebut adalah kota ataupun desa.” وَعَبَّرَ الْمُصَنِّفُ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْرًا) كَانَتِ الْبَلَدُ (أَوْ قَرْيَةً
Kedua, jumlah jamaah sholat Jum’at mencapai empat puluh orang laki-laki dari golongan ahli Jum’at.

 

وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ) فِيْ جَمَاعَةِ الْجُمُعَةِ (أَرْبَعِيْنَ) رَجُلًا (مِنْ أَهْلِ الْجُمُعَةِ)
Mereka adalah orang-orang mukallaf laki-laki yang merdeka dan bertempat tinggal tetap, sekira tidak berpindah dari tempat tinggalnya baik di musim dingin atau kemarau kecuali karena hajat. وَهُمُ الْمُكَلَّفُوْنَ الذُّكُوْرُ الْأَحْرَارُ الْمُسْتَوْطِنُوْنَ بِحَيْثُ لَا يَظْعَنُوْنَ عَمَّا اسْتَوْطَنُوْهُ شِتَّاءً وَلَا صَيْفًا إِلَّا لِحَاجَةٍ
Ke tiga, waktu pelaksanaannya masih tersisa, yaitu waktu sholat Dhuhur. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِيًا) وَهُوَ الظُّهْرُ
Maka seluruh bagian sholat Jum’at harus terlaksana di dalam waktu. فَيُشْتَرَطُ أَنْ تَقَعَ الْجُمُعَةُ كُلُّهَا فِي الْوَقْتِ
Sehingga, seandainya waktu sholat Dhuhur mepet, yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakan bagian-bagian wajib di dalam sholat Jum’at yaitu dua khutbah dan dua rakaatnya, maka yang harus dilaksanakan adalah sholat Dhuhur sebagai ganti dari sholat Jum’at tersebut. فَلَوْ ضَاقَ وَقْتُ الظُّهْرِ عَنْهَا بِأَنْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُ مَا لَا يَسَعُ الَّذِيْ لَا بُدَّ مِنْهُ فِيْهَا مِنْ خُطْبَتَيْهَا وَرَكْعَتَيْهَا صُلِّيَتْ ظُهْرًا
Jika waktu sholat Dhuhur telah habis, atau syarat-syarat sholat Jum’at tidak terpenuhi, maksudnya selama waktu Dhuhur baik secara yaqin atau dugaan saja, dan para jama’ah dalam keadaan melaksanakan sholat Jum’at, maka yang dilakukan adalah sholat Dhuhur dengan meneruskan apa yang telah dilaksanakan dari sholat Jum’at, dan sholat Jum’at tersebut dianggap keluar baik telah melakukan satu rakaat darinya ataupu tidak. (فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عُدِمَتِ الشُّرُوْطُ) أَيْ جَمِيْعَ وَقْتِ الظُّهْرِ يَقِيْنًا أَوْ ظَنًّا وَهُمْ فِيْهَا (صُلِّيَتْ ظُهْرًا) بِنَاًء عَلَى مَا فُعِلَ مِنْهَا وَفَاتَتِ الْجُمُعَةُ سَوَاءٌ أَدْرَكُوْا مِنْهَا رَكْعَةً أَمْ لاَ
Seandainya para jama’ah ragu terhadap habisnya waktu dan mereka berada di dalam sholat, maka mereka menyempurnakan sholat tersebut sebagai sholat Jum’at menurut pendapat al Ashah. وَلَوْ شَكُّوْا فِيْ خُرُوْجِ وَقْتِهَا وَهُمْ فِيْهَا أَتَمُّوْهَا جُمُعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ

 

Fardlu-Fardlu Sholat Jum’at

 

Fardlu-fardlunya sholat Jum’at ada tiga. Sebagian ulama’ mengungkap-kan dengan bahasa “syarat-syarat”. (وَفَرَائِضُهَا) وَمِنْهُمْ مَنْ عَبَّرَ عَنْهَا بِالشُّرُوْطِ (ثَلَاثَةٌ)
Pertama dan kedua adalah dua khutbah yang dilakukan seorang khatib dengan berdiri dan duduk di antara keduanya. Imam al Mutawalli berkata, “yaitu dengan ukuran thuma’ninah di antara dua sujud.” أَحَدُهَا وَثَانِيْهَا (خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ) الْخَطِيْبُ (فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا) قَالَ الْمُتَوَلِّيْ بِقَدْرِ الطُّمَأْنِيْنَةِ بَيْنَ السَّجَدَتَيْنِ
Seandainya khatib tidak mampu berdiri dan ia melakukan sholat dengan duduk atau tidur miring, maka hukumnya sah dan diperkenankan mengikutinya walaupun tidak tahu dengan keadaan sang khatib yang sebenarnya. وَلَوْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ وَخَطَبَ قَاعِدًا أَوْ مُضْطَجِعًا صَحَّ وَجَازَ الْاِقْتِدَاءُ بِهِ وَلَوْ مَعَ الْجَهْلِ بَحَالِهِ
Ketika seorang khatib melaksanakan khutbah dengan cara duduk, maka ia memisah antara kedua khutbah dengan diam sejenak tidak dengan tidur miring. وَحَيْثُ خَطَبَ قَاعِدًا فَصَلَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِسَكْتَةٍ لَا بِاضْطِجَاعٍ

 

Rukun-Rukun Khutbah

 

Rukun-rukun khutbah ada lima, yaitu memuji kepada Allah ta’ala kemudian membaca sholawat untuk baginda Nabi Saw, dan lafadz keduanya telah tertentu. وَأَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ حَمْدُ اللهِ تَعَالَى ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَفْظُهُمَا مُتَعَيِّنٌ
Kemudian wasiat taqwa dan lafadznya tidak tertentu menurut qaul al ashah, membaca ayat Al Qur’an di salah satu khutbah dua dan berdo’a untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan di dalam khotbah yang kedua. ثُمَّ الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى وَلَا يَتَعَيَّنُ لَفْظُهَا عَلَى الصَّحِيْحِ وَقِرَاءَةُ آيَةٍ فِيْ إِحْدَاهُمَا وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِيْ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ

 

Syarat-Syarat Khutbah

 

Seorang khatib disyaratkan harus bisa memberikan pendengaran rukun-rukun khutbah kepada empat puluh jama’ah yang bisa meng-esahkan sholat Jum’at. وَيُشْتَرَطُ أَنْ يُسْمِعَ الْخَطِيْبُ أَرْكَانُ الْخُطْبَةِ لِأَرْبَعِيْنَ تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمُعَةُ
Disyaratkan harus muwallah di antara kalimat-kalimat khutbah dan di antara dua khutbah. وَيُشْتَرَطُ الْمُوَالَاةُ بَيْنَ كَلِمَاتِ الْخُطْبَةِ وَبيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ
Seandainya khatib memisah antara kalimat-kalimat khutbah walaupun sebab udzur, maka khutbah yang dilakukan menjadi batal. فَلَوْ فَرَقَ بَيْنَ كَلِمَاتِهَا وَلَوْ بِعُذْرٍ بَطَلَتْ
Di dalam pelaksanaan kedua khutbah disyaratkan harus menutup aurat, suci dari hadats dan najis pada pakaian, badan dan tempat. وَيُشْتَرَطُ فِيْهِمَا سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَطَهَارَةُ الْحَدَثِ وَالْخُبْثِ فِيْ ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَانٍ
Yang ke tiga dari fardlu-fardlunya sholat Jum’at adalah sholat Jum’at dilaksanakan dua rakaat oleh sekelompok orang yang bisa meng-esahkan sholat Jum’at. Lafadz “thushalla” dengan dibaca dhammah huruf awalnya. (وَ) الثَّالِثُ مِنْ فَرَائِضِ الْجُمُعَةِ (أَنْ تُصَلَّى) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَمَاعَةٍ) تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمُعَةُ
Sholat ini disyaratkan terlaksana setelah dua khutbah, berbeda dengan sholat hari raya, karena sesungguhnya sholat hari raya dilaksanakan sebelum dua khutbah. وَيُشْتَرَطُ وُقُوْعُ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْخُطْبَتَيْنِ بِخِلَافِ صَلَاةِ الْعِيْدِ فَإِنَّهَا قَبْلَ الْخُطْبَتَيْنِ.

 

Kesunahan-KesunahanSholat Jum’atnya

 

Sunnah-sunnah haiat sholat Jum’at ada empat perkara. Makna haiat telah dijelaskan di depan. (وَهَيْئَآتُهَا) وَسَبَقَ مَعْنَى الْهَيْئَةِ (أَرْبَعُ خِصَالٍ)
Salah satunya adalah mandi bagi orang yang hendak menghadiri sholat Jum’at, baik laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, orang muqim atau musafir. أَحَدُهَا (الْغُسْلُ) لِمَنْ يُرِيْدُ حُضُوْرَهَا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثًى حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ مُقِيْمٍ أَوْ مُسَافِرٍ
Waktu pelaksanaan mandi adalah mulai dari terbitnya fajar kedua (fajar shadiq). Dan melakukan mandi saat mendekati berangkat itu lebih afdlal. وَوَقْتُ غُسْلِهَا مِنَ الْفَجْرِ الثَّانِيْ وَتَقْرِيْبُهُ مِنْ ذِهَابِهِ أفْضَلُ
Jika tidak mampu untuk mandi, maka sunnah melakukan tayammum dengan niat mandi untuk sholat Jum’at. فَإِنْ عَجَزَ عَنْ غُسْلِهَا تَيَمَّمَ بِنِيَّةِ الْغُسْلِ لَهَا
Yang kedua adalah membersihkan badan dengan menghilangkan bau tak sedap dari badan seperti bau badan, maka sunnah menggunakan barang-barang yang bisa menghilangkannya yaitu tawas dan sesamanya. (وَ) الثَّانِيْ (تَنْظِيْفُ الْجَسَدِ) بِإِزَالَةِ الرِّيْحِ الْكَرِيْهِ مِنْهُ كَصَنَانٍ فَيَتَعَاطَى مَا يُزِيْلُهُ مِنْ مَرْتَكٍ وَنَحْوِهِ
Yang ke tiga adalah mengenakan pakaian berwarna putih, karena sesungguhnya pakaian berwarna putih adalah pakaian yang paling utama. (وَ) الثَّالِثُ (لَبْسُ الثِّيَابِ الْبِيْضِ) فَإِنَّهَا أَفْضَلُ الثِّيَابِ
Yang ke empat adalah memotong kuku jika panjang, dan memotong rambut begitu juga ketika panjang. Maka sunnah mencabut bulu ketiak, memotong kumis dan mencukur bulu kemaluan. (وَ) الرَّابِعُ (أَخْذُ الظُّفْرِ) إِنْ طَالَ وَالشَّعْرُ كَذَلِكَ فَيَنْتِفُ إبْطَهُ وَيَقُصُّ شَارِبَهُ وَيَحْلِقُ عَانَتَهُ
Dan memakai wangi-wangian dengan wangi-wangian terbaik yang ia temukan. (وَالطِّيْبُ) بِأَحْسَنِ مَا وَجَدَ مِنْهُ
Disunnahkan al inshat, yaitu diam seraya mendengarkan, saat khutbah. (وَيُسْتَحَبُّ الْإِنْصَاتُ) وَهُوَ السُّكُوْتُ مَعَ الْإِصْغَاءِ (فِيْ وَقْتِ الْخُطْبَةِ)
Ada beberapa perkara yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang luas penjelasannya yang dikecualikan dari kesunnahan inshat. Di antaranya adalah memperingatkan orang buta yang akan jatuh ke sumur, dan memperingatkan orang yang hendak disakiti oleh kalajengking semisal. وَيُسْتَثْنَى مِنَ الْإِنْصَاتِ أُمُوْرٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ مِنْهَا إِنْذَارُ أَعْمَى أَنْ يَقَعَ فِيْ بِئْرٍ وَمَنْ دَبَّ إِلَيْهِ عَقْرَبٌ مَثَلًا

 

Sholat Sunnah Saat Khutbah

 

Barang siapa masuk masjid saat imam melaksanakan khutbah, maka sunnah baginya untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat secara cepat kemudian duduk. (وَمَنْ دَخَلَ) الْمَسْجِدَ (وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ ثُمَّ يَجْلِسُ)
Ungkapan mushannif, “orang yang masuk” memberi pemahaman bahwa sesungguhnya orang yang sudah hadir sejak tadi, maka tidak sunnah melaksanakan sholat dua rakaat, baik sholat sunnah Jum’at atau bukan. وَتَعْبِيْرُ الْمُصَنِّفِ بِدَخَلَ يُفْهِمُ أَنَّ الْحَاضِرَ لَا يُنْشِئُ صَلَاةَ رَكْعَتَيْنِ سَوَاءٌ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ أَمْ لاَ
Dari pemahaman ini tidak nampak jelas bahwa sesungguhnya sholat tersebut hukumnya haram ataukah makruh. وَلَا يَظْهَرُ مِنْ هَذَا الْمَفْهُوْمِ أَنَّ فِعْلَهَا حَرَامٌ أَوْ مَكْرُوْهٌ
Akan tetapi di dalam kitab Syarh al Muhadzdzab, imam an Nawawi secara tegas memberi hukum haram, dan beliau mengutip ijma’ atas hal tersebut dari imam al Mawardi. لَكِنِ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ صَرَّحَ بِالْحُرْمَةِ وَنَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَيْهَا عَنِ الْمَاوَرْدِيِّ


BAB SHOLAT HARI RAYA

Hukum Sholat Hari Raya

(Fasal) sholat dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha hukumnya adalah sunnah muakkad. (فَصْلٌ وَصَلَاةُ الْعِيْدَيْنِ) أَيِ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى (سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ)
Sholat hari raya disunnahkan untuk berjama’ah bagi orang sendirian, musafir, orang merdeka, budak, huntsa dan wanita yang tidak cantik dan tidak dzatul haiat[1][1]. وَتُشْرَعُ جَمَاعَةً لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ وَحُرٍّ وَعَبْدٍ وَخُنْثًى وَامْرَأَةٍ لَا جَمِيْلَةٍ وَلَا ذَاتِ هَيْئَةٍ
Sedangkan untuk wanita lanjut usia, maka sunnah menghadiri sholat hari raya dengan mengenakan pakaian keseharian tanpa memakai wewangian. أَمَّا الْعَجُوْزُ فَتَحْضُرُ الْعِيْدَ فِيْ ثِيَابِ بَيْتِهَا بِلَا طِيْبٍ
Waktu pelaksanaan sholat Ied adalah di antara terbitnya matahari dan tergelincirnya. وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِيْدِ مَا بَيْنَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَزَوَالِهَا

 

Cara Pelaksanaan Sholat Ied

 

Sholat ied adalah sholat dua rakaat, yaitu melakukan takbiratul ihram dua rakaat tersebut dengan niat sholat idul Fitri atau idul Adha dan membaca do’a iftitah. (وَهِيَ) أَيْ صَلَاةُ الْعِيْدِ (رَكْعَتَانِ) يُحْرِمُ بِهِمَا بِنِيَّةِ عِيْدِ الفِطْرِ أَوِ الْأَضْحَى وَيَأْتِيْ بِدُعَاءِ الْاِفْتِتَاحِ
Di dalam rakaat pertama membaca takbir tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, membaca surat Al Fatihah, dan membaca surat setelah Al Fatihah dengan mengeraskan suara. (وَ) يُكَبِّرُ (فِي) الرَّكْعَةِ (الْأُوْلَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ) ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَ يَقْرَأُ بَعْدَهَا سُوْرَةً جَهْرًا
Di dalam rakaat kedua membaca takbir lima kali selain takbir untuk berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surat Al Fatihah dan surat Iqtarabat dengan mengeraskan suara. (وَ) يُكَبِّرُ (فِيْ) الرَّكْعَةِ (الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ الْقِيَامِ) ثُمَّ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَسُوْرَةَ اقْتَرَبَتْ جَهْرًا

 

Khutbah Ied

 

Setelah melaksanakan sholat dua rakaat, sunnah melakukan dua khutbah dengan membaca takbir sembilan kali secara terus menerus di permulaan khutbah pertama, dan membaca takbir tujuh kali secara terus menerus di permulaan khutbah kedua. (وَيَخْطُبُ) نَدْبًا (بَعْدَهُمَا) أَيِ الرَّكْعَتَيْنِ (خُطْبَتَيْنِ يُكَبِّرُ فِيْ) ابْتِدَاءِ (الْأُوْلَى تِسْعًا) وِلَاءً (وَ) يُكَبِّرُ (فِيْ) ابْتِدَاءِ (الثَّانِيَةِ سَبْعًا) وِلَاءً
Seandainya kedua khutbah dipisah dengan bacaan tahmid, tahlil dan puji-pujian, maka hal itu adalah baik. وَلَوْ فَصَلَ بَيْنَهُمَا بِتَحْمِيْدٍ وَ تَهْلِيْلٍ وَثَنَاءٍ كَانَ حَسَنًا

 

Pembagian Takbir Hari Raya

 

Takbir terbagi menjadi dua, takbir mursal, yaitu takbir yang tidak dilaksanakan setelah sholat. Dan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dilakukan setelah pelaksanaan sholat. وَالتَّكْبِيْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ مُرْسَلٍ وَهُوَ مَا لَا يَكُوْنُ عَقِبَ صَلَاةٍ وَمُقَيَّدٍ وَهُوَ مَا يَكُوْنُ عَقِبَهَا
Mushannif memulai dengan menjelaskan takbir yang pertama. Beliau berkata, “bagi setiap orang laki-laki, wanita, orang yang berada di rumah, dan musafir, sunnah membaca takbir di rumah-rumah, jalan-jalan, masjid-masjid dan pasar-pasar, mulai dari terbenamnya matahari malam hari raya, maksudnya hari raya Idul Fitri.” وَبَدَأَ الْمُصَنِّفُ بِالْأَوَّلِ فَقَالَ (وَيُكَبِّرُ) نَدْبًا كُلٌّ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثًى وَحَاضِرٍ وَمُسَافِرٍ فِي الْمَنَازِلِ وَالطُّرُقِ وَالْمَسَاجِدِ وَالْأَسْوَاقِ (مِنْ غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ الْفِطْرِ
Kesunnahan takbir ini tetap berlangsung hingga imam mulai melaksanakan sholat ied. وَيَسْتَمِرُّ هَذَا التَّكْبِيْرُ (إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ) لِلْعِيْدِ
Tidak disunnahkan membaca takbir setelah pelaksanaan sholat di malam hari raya Idul Fitri. Akan tetapi di dalam kitab al Adzkar, imam an Nawawi lebih memilih bahwa takbir tersebut hukumnya sunnah. وَلَا يُسَنُّ التَّكْبِيْرُ لَيْلَةَ عِيْدِ الْفِطْرِ عَقِبَ الصَّلَاةِ وَلَكِنِ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ اخْتَارَ أَنَّهُ سُنَّةٌ .
Kemudian mushannif beranjak menjelaskan takbir muqayyad. Beliau berkata, “sunnah membaca takbir saat hari raya Idul Adha setelah melaksanakan sholat-sholat fardlu”, ada’ dan qadla’. ثُمَّ شَرَعَ فِي التَّكْبِيْرِ الْمُقَيَّدِ فَقَالَ (وَ) يُكَبِّرُ (فِيْ) عِيْدِ (الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوْضَاتِ) مِنْ مُؤَدَّاةٍ وَفَائِتَةٍ
Begitu juga setelah sholat rawatib, sholat sunnah mutlak dan sholat jenazah, mulai waktu Subuh hari Arafah hingga Ashar di akhir hari Tasyrik. وَكَذَا خَلْفَ رَاتِبَةٍ وَنَفْلٍ مُطْلَقٍ وَصَلاَةِ جَنَازَةٍ (مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ)
Bentuk bacaan takbir adalah,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَّقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ”

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji hanya milik Allah. Allah Maha Besar dengan sesungguhnya. Dan segala puji yang banyak hanyak untuk Allah. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Tidak ada tuhan selain Allah, hanya Allah. Yang Telah membenarkan janji-Nya, Menolong hamba-Nya, memenangkan pasukan-Nya dan mengalahkan musuh-musuhnya hanya dengan sendirian ”

وَصِيْغَةُ التَّكْبِيْرِ “اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ , اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَّقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ”.

[1] Wanita yang gerak-geriknya mengundang perhatian.


BAB SHOLAT GERHANA

(Fasal) sholat gerhana matahari dan sholat gerhana rembulan, masing-masing dari keduanya hukumnya adalah sunnah muakkad. (فَصْلٌ وَصَلَاةُ الْكُسُوْفِ) لِلشَّمْسِ وَصَلَاةُ الْخُسُوْفِ لِلْقَمَرِ كُلٌّ مِنْهُمَا (سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ
Jika sholat ini telah ditinggalkan, maka tidak diqadla’, maksudnya tidak disyareatkan untuk mengqadla’nya. فَإِنْ فَاتَتْ) هَذِهِ الصَّلَاةُ (لَمْ تُقْضَ) أَيْ لَمْ يُشْرَعْ قَضَاؤُهَا
Sunnah melakukan sholat dua rakaat karena gerhana matahari dan gerhana rembulan. (وَيُصَلِّيْ لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ)
Yaitu melakukan takbiratul ihram dengan niat sholat gerhana. Kemudian setelah membaca doa iftitah dan ta’awudz, membaca surat Al Fatihah, ruku’, kemudian mengangkat kepala dari ruku’, lalu i’tidal, membaca surat Al Fatihah yang kedua, kemudian ruku’ kedua yang lebih cepat daripada ruku’ sebelumnya, lalu i’tidal kedua kemudian sujud dua kali dengan melakukan thuma’ninah di masing-masing dari keduanya. Kemudian melakukan rakaat yang kedua dengan dua kali berdiri, dua kali bacaan Al Fatihah, dua ruku’, dua i’tidal dan dua kali sujud. يُحْرِمُ بِنِيَّةِ صَلَاةِ الْكُسُوْفِ ثُمَّ بَعْدَ الْاِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيَرْكَعُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثُمَّ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثَانِيًا ثُمَّ يَرْكَعُ ثَانِيًا أَخَفَّ مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثَانِيًا ثُمَّ يَسْجُدُ السَّجْدَتَيْنِ بِطُمَأْنِيْنَةٍ فِي الْكُلِّ ثُمَّ يُصَلِّيْ رَكْعَةً ثَانِيَةً بِقِيَامَيْنِ وَقِرَاءَتَيْنِ وَرُكُوْعَيْنِ وَاعْتِدَالَيْنِ وَسُجُوْدَيْنِ
Dan ini adalah makna dari perkataan mushannif, “di masing-masing rakaat dari kedua rakaat tersebut terdapat dua kali berdiri dengan memanjangkan bacaan di keduanya seperti keterangan yang akan datang. وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ (فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ) مِنْهُمَا (قِيَامَانِ يُطِيْلُ الْقِرَاءَةَ فِيْهِمَا) كَمَا سَيَأْتِيْ
Dan di masing-masing rakaat terdapat dua kali ruku’ dengan memanjangkan bacaan tasbihnya tidak saat melakukan sujud, maka ia tidak memanjangkan bacaan tasbih sujudnya. Ini adalah salah satu dari dua pendapat. Akan tetapi menurut pendapat yang shahih, bahwa sesungguhnya ia dianjurkan memanjangkan bacaan tasbih sujudnya seukuran panjangnya bacaan tasbih ruku’ sebelumnya. (وَ) فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ (رُكُوْعَانِ يُطِيْلُ التَّسْبِيْحَ فِيْهِمَا دُوْنَ السُّجُوْدِ) فَلَا يُطَوِّلُهُ وَهُوَ أَحَدُ وَجْهَيْنِ لَكِنِ الصَّحِيْحُ أَنَّهُ يُطَوِّلُهُ نَحْوَ الرُّكُوْعِ الَّذِي قَبْلَهُ

 

 

Khutbah Gerhana

 

Setelah sholat gerhana matahari dan rembulan, seorang imam dianjurkan melakukan khutbah dua kali seperti dua khutbah sholat Jum’at di dalam rukun-rukun dan syarat-syaratnya. (وَيَخْطُبُ) الْإِمَامُ (بَعْدَهُمَا) صَلَاةِ الْكُسُوْفِ وَالْخُسُوْفِ (خُطْبَتَيْنِ) كَخُطْبَتَيِ الْجُمُعَةِ فِيْ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوْطِ
Di dalam kedua khutbahnya, ia mendorong manusia agar bertaubat dari segala dosa-dosa dan melakukan kebaikan berupa sedekah, memerdekakan budak dan sesamanya. وَيُحِثُّ النَّاسَ فَي الْخُطْبَتَيْنِ عَلَى التَّوْبَةِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَعَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ وَعِتْقٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ
Seorang imam sunnah memelankan bacaannya saat sholat gerhana matahari dan mengeraskan bacaan saat sholat gerhana bulan. (وَيُسِرُّ) بِالْقِرَاءَةِ (فِيْ كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَيَجْهَرُ) باِلْقِرَاءَةِ (فِيْ خُسُوْفِ الْقَمَرِ)
Waktu pelaksanaan sholat gerhana matahari telah habis sebab gerhana telah selesai (matahari kembali seperti semula) dan sebab matahari terbenam dalam keadaan gerhana. وَتَفُوْتُ صَلَاةُ كُسُوْفِ الشَّمْسِ بِالْاِنْجِلَاءِ لِلْمُنْكَسِفِ وِبِغُرُوْبِهَا كَاسِفَةً
Dan waktu pelaksanaan sholat gerhana rembulan telah habis sebab rembulan telah kembali normal dan sebab terbitnya matahari, tidak sebab terbitnya fajar dan tidak sebab rembulan terbenam dalam keadaan gerhana, maka waktu pelaksanaannya belum habis. وَتَفُوْتُ صَلَاةُ خُسُوْفِ الْقَمَرِ بِالْاِنْجِلَاءِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ لَا بِطُلُوْعِ الْفَجْرِ وَلَا بِغُرُوْبِهِ خَاسِفًا فَلَا تَفُوْتُ الصَّلَاةُ


BAB SHOLAT ISTISQA’

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum sholat istisqa’, yaitu meminta hujan dari Allah Swt. (فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ صَلَاةِ الْاِسْتِسْقَاءِ أَيْ طَلَبِ السُّقْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى
Sholat istisqa’ disunnahkan bagi orang mukim dan musafir ketika ada hajat sebab tidak turun hujan atau sumber air mengering dan sesamanya. (وَصَلاَةُ الْاِسْتِسْقَاءِ مَسْنُوْنَةٌ) لِمُقِيْمٍ وَمُسَافِرٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ مِنِ انْقِطَاعِ غَيْثٍ أَوْ عَيْنِ مَاءٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ
Sholat istisqa’ sunnah diulangi dua kali atau lebih jika belum diberi hujan hingga Allah Swt memberi hujan pada mereka. وَتُعَادُ صَلَاةُ الْاِسْتِسْقَاءِ ثَانِيًا وَأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ لَمْ يُسْقَوْا حَتَّى يَسْقِيَهُمُ اللهُ
Maka seorang imam dan orang sesamanya hendaknya memerintah masyarakat untuk bertaubat. Dan bagi mereka wajib menuruti perintah imam sebagaimana yang telah difatwakan oleh imam an Nawawi. (فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ) وَنَحْوُهُ (بِالتَّوْبَةِ) وَيَلْزَمُهُمُ امْتِثَالُ أَمْرِهِ كَمَا أَفْتَى بِهِ النَّوَوِيُّ
Taubat dari dosa hukumnya wajib, baik diperintah oleh imam ataupun tidak. وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ وَاجِبَةٌ أَمَرَ الْإِمَامُ بِهَا أَوْ لَا
Dan diperintahkan agar melakukan sedekah, keluar dari bentuk-bentuk kedhaliman terhadap hamba manusia, berdamai dengan musuh dan melakukan puasa tiga hari sebelum keluar untuk melakukan sholat istisqa’, sehingga dengan hari keluar ini puasa yang dilakukan menjadi empat hari. (وَالصَّدَقَةِ وَالْخُرُوْجِ مِنَ الْمَظَالِمِ) لِلْعِبَادِ (وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ) قَبْلَ مِيْعَادِ الْخُرُوْجِ فَيَكُوْنُ بِهِ أَرْبَعَةً.
Kemudian imam keluar bersama masyarakat pada hari yang ke empat dalam keadaan berpuasa tanpa memakai wangi-wangian dan tidak berhias, bahkan berangkat dengan mengenakan pakaian sehari-hari. (ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِيْ الْيَوْمِ الرَّابِعِ) صِيَامًا غَيْرَ مُتَطَيِّبِيْنَ وَلَا مُتَزَيِّنِيْنَ بَلْ يَخْرُجُوْنَ (فِيْ ثِيَابِ بِذْلَةِ)
Lafadz “bidzlah” dengan menggunakan huruf ba’ yang diberi titik satu di bawah serta dikasrah dan dzal yang diberi titik satu di atas dan terbaca sukun. “Tsiyab bidzlatin” adalah pakaian keseharian yang biasa dikenakan saat bekerja. بِمُوَحَّدَةٍ مَكْسُوْرَةٍ وَذَالٍ مُعْجَمَةٍ سَاكِنَةٍ وَهِيَ مَا يُلْبَسُ مِنْ ثِيَابِ الْمِهْنَةِ وَقْتَ الْعَمَلِ
Dan berangkat dengan tenang, maksudnya khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah. (وَاسْتِكَانَةٍ) أَيْ خُشُوْعٍ (وَتَضَرُّعٍ) أَيْ خُضُوْعٍ وَتَذَلُّلٍ
Mereka berangkat juga disertai oleh anak-anak kecil, orang-orang lansia, dan binatang-binatang ternak. وَيَخْرُجُوْنَ مَعَهُمُ الصِّبْيَانُ وَالشُّيُوْخُ وَالْعَجَائِزُ وَالْبَهَائِمُ
Imam atau penggantinya melakukan sholat dua rakaat bersama mereka seperti pelaksanaan sholat dua hari raya di dalam tata caranya, mulai dari bacaan iftitah, ta’awudz, bacaan takbir tujuh kali di rakaat pertama, dan bacaan takbir lima kali di rakaat kedua seraya mengangkat kedua tangannya. (وَيُصَلِّيْ بِهِمُ) الْإِمَامُ أَوْ نَائِبُهُ (رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ) فِيْ كَيْفِيَّتِهِمَا مِنَ الْاِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَالتَّكْبِيْرِ سَبْعًا فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى وَخَمْسًا فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَرْفَعُ يَدَّيْهِ
Kemudian seorang imam disunnahkan melaksanakan dua khutbah seperti dua khutbah sholat dua hari raya di dalam rukun-rukunnya dan yang lainnya. (ثُمَّ يَخْطُبُ) نَدْبًا خُطْبَتَيْنِ كَخُطْبَتَيِ الْعِيْدَيْنِ فِي الْأَرْكَانِ وَغَيْرِهَا
Akan tetapi ia membaca istighfar kepada Allah Swt di dalam kedua khutbah sebagai ganti dari bacaan takbir di awal keduanya di dalam khutbah dua hari raya. Maka seorang imam memulai khutbah pertama dengan bacaan istghfar sembilan kali dan memulai khutbah kedua dengan istighfar tujuh kali. لَكِنْ يَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى فِي الْخُطْبَتَيْنِ بَدَلَ التَّكْبِيْرِ أَوَّلَهُمَا فِيْ خُطْبَةِ الْعِيْدَيْنِ فَيَفْتَتِحُ الْخُطْبَةَ الْأُوْلَى بِالْاِسْتِغْفَارِ تِسْعً وَالْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ سَبْعًا
Bentuk istighfarnya adalah,

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ”

“Aku meminta ampun kepada Allah yang Mahaagung, tidak ada tuhan selain Ia, yang Mahahidup dan Mengatur, dan aku bertaubah pada-Nya.”

وَصِيْغَةُ الْاِسْتِغْفَارِ “أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ”
Dua khutbah dilaksanakan setelah pelaksanaan sholat dua rakaat. وَتَكُوْنُ الْخُطْبَتَانِ (بَعْدَهُمَا) أَيِ الرَّكْعَتَيْنِ
Seorang imam hendaknya membalik selendangnya. Maka ia memindah bagian kanan ke bagian kiri dan bagian atas ke bagian bawah. Dan seluruh jama’ah juga membalik selendangnya seperti cara membalik yang dilakukan oleh khatib. (وَيُحَوِّلُ) الْخَطِيْبُ (رِدَاءَهُ) فَيَجْعَلُ يَمِيْنَهُ يَسَارَهُ وَأَعْلَاهُ أَسْفَلَهُ وَيُحَوِّلُ النَّاسُ أَرْدِيَتَهُمْ مِثْلَ تَحْوِيْلِ الْخَطِيْبِ
Seorang khatib hendaknya memperbanyak doa baik dengan suara pelan ataupun keras. Ketika khatib memelankan suara, maka para jama’ah juga berdoa dengan memelankan suara. Dan ketika khatib mengeraskan suara, maka para jama’ah mengamini doa sang khatib. (وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ) سِرًا وَجَهْرًا فَحَيْثُ أَسَرَّ الْخَطِيْبُ أَسَرَّ الْقَوْمُ بِالدُّعَاءِ وَحَيْثُ جَهَّرَ أَمَّنُوْا عَلَى دُعَائِهِ
Seorang khatib hendaknya juga memperbanyak bacaan istighfar. (وَ) يُكَثِّرُ الْخَطِيْبُ مِنَ (الْاِسْتِغْفَارِ)
Dan hendaknya ia membaca firman Allah Swt,

“اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ أَنَّهُ كَانَ غَفَّارًا وَيُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا الآيَةَ”

وَيَقْرَأُ قَوْلَهُ تَعَالَى “اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ أَنَّهُ كَانَ غَفَّارًا وَيُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا الآيَةَ”
Di dalam sebagian redaksi matan terdapat tambahan keterangan, yaitu -di bawah ini- وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ زِيَادَةٌ وَهِيَ.
Seorang khatib juga dianjurkan berdoa dengan doa yang dibaca Rosulullah Swt,

“ya Allah jadikanlah hujan -yang akan Engkau turunkan- sebagai hujan rahmah, dan janganlah Engkau jadikan hujan adzab, hujan yang menghilangkan berkah, hujan bala’, merobohkan dan menenggelamkan. Ya Allah, berikanlah hujan di atas gunung-gunung besar, gunung-gunung kecil, tempat-tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, dan ke dalam jurang-jurang. Ya Allah, semoga Engkau memberikan hujan di sekitar kita yang tidak berbahaya pada kita. Ya Allah, berikanlah pada kami hujan yang menyelamatkan, enak, berdampak baik, lebat, merata, yang banyak, yang merata ke seluruh bumi, yang merata selama-lamanya hingga hari kiamat. Ya Allah, berikanlah hujan pada kami, dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk dari orang-orang yang putus asa. Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu dan daerah-daerah sedang mengalami kesulitan, kelaparan dan keterpurukan yang tidak kita adukan kecuali pada Engkau. Ya Allah, tumbuhkanlah pertanian untuk kami, limpahkanlah air susu pada kami, turunkanlah berkah-berkah langit pada kami, munculkanlah berkah-berkah bumi pada kami, dan hilangkanlah bala’ dari kami yang tidak bisa dihilangkan oleh selaian Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami meminta ampun pada-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Mahapengampun. Maka turunkanlah hujan yang lebat pada kami.” Dan ketika air hujan di jurang-jurang sudah mengalir, maka sunnah mandi di sana dan sunnah membaca tasbih ketika ada guntur dan petir.

 (وَيَدْعُوْا بِدُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اللهم اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرْقٍ اللهم عَلَى الظِّرَابِ وَالْآكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ الْأَوْدِيَةِ اللهم حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللهم اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا سَحًّا عَامًّا غَدَقًا طَبَقًا مُجَلَّلًا دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهم اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ اللهم إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ وَالْجُوْعِ وَالْضَنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ اللهم أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرْ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشُفُهُ غَيْرُكَ اللهم إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا” وَيَغْتَسِلُ فِيْ الْوَادِي إِذَا سَالَ وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ) انْتَهَتِ الزِّيَادَةُ
Karena terlalu panjang, maka tambahan ini tidak pas dengan keadaan kitab matan yang ringkas. Wallahu a’lam. وَهِيْ لِطُوْلِهَا لَا تُنَاسِبُ حَالَ الْمَتْنَ مِنَ الْاِخْتِصَارِ وَاللهُ أَعْلَمُ


BAB SHOLAT KHAUF (KEADAAN GENTING)

(Fasal) menjelaskan tata cara sholat khauf. (فَصْلٌ) فِيْ كَيْفِيَةِ صَلاَةِ الْخَوْفِ
Mushannif menyendirikan penjelasan sholat ini tidak beserta dengan sholat-sholat yang lain, karena sesungguhnya ada hal-hal yang ditolelir di dalam pelaksanaan sholat fardlu saat khauf yang tidak ditolelir saat tidak khauf. وَإِنَّمَا أَفْرَدَهَا الْمُصَنِّفُ عَنْ غَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ بِتَرْجَمَةٍ لِأَنَّهُ يُحْتَمَلُ فِيْ إِقَامَة ِالْفَرْضِ فِيْ الْخَوْفِ مَا لَا يُحْتَمَلُ فِيْ غَيْرِهِ

 

 

Macam-Macam Sholat Khauf

 

Sholat khauf ada beberapa macam yang cukup banyak hingga mencapai enam macam sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim. (وَصَلَاةُ الْخَوْفِ) أَنْوَاعٌ كَثِيْرَةٌ تَبْلُغُ سِتَّةَ أَضْرُبٍ كَمَا فِيْ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ
Dari semuanya, mushannif hanya menjelaskan tiga macam saja. اقْتَصَرَ الْمُصَنِّفُ مِنْهَا (عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

 

Sholat Dzatirriqa’

 

Salah satunya adalah posisi musuh berada di selain arah kiblat, dan jumlah mereka terhitung sedikit sedangkan jumlah orang muslim relatif banyak, sekira setiap kelompok dari pihak muslim bisa sebanding dengan musuh. أَحَدُهَا أَنْ يَكُوْنَ الْعَدُوُّ فِيْ غَيْرِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ) وَهُوَ قَلِيْلٌ وَفِيْ الْمُسْلِمِيْنَ كَثْرَةٌ بِحَيْثُ تُقَاوِمُ كُلُّ فِرْقَةٍ مِنْهُمُ الْعَدُوَّ
Maka seorang imam membagi pasukan muslim menjadi dua kelompok, satu kelompok berada di arah musuh untuk memantau mereka, dan satu kelompok berdiri di belakang imam. (فَيُفَرِّقُهُمُ الْإِمَامُ فِرْقَتَيْنِ فِرْقَةً تَقِفُ فِيْ وَجْهِ الْعَدُوِّ) تَحْرِسُهُ (وَفِرْقَةً تَقِفُ خَلْفَهُ) أَيِ الْإِمَامِ
Maka imam melaksanakan sholat satu rakaat bersama kelompok yang berada di belakangnya. Kemudian setelah selesai rakaat pertama, kelompok tersebut menyempurnakan sisa sholatnya sendiri, dan setelah selesai langsung berangkat keposisi arah musuh untuk memantaunya. (فَيُصَلِّيْ بِالْفِرْقَةِ الَّتِيْ خَلْفَهُ رَكْعَةً ثُمَّ) بَعْدَ قِيَامِهِ لِلرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ (تُتِمُّ لِنَفْسِهَا) بَقِيَّةَ صَلَاتِهَا (وَتَمْضِيْ) بَعْدَ فَرَاغِ صَلَاتِهَا (إِلَى وَجْهِ الْعَدُوِّ) تَحْرِسُهُ
Kemudian kelompok yang satunya datang, yaitu kelompok yang memantau musuh saat pelaksanaan rakaat pertama. (وَتَأْتِيْ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى) الَّتِيْ كَانَتْ حَارِسَةً فِيْ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى
Kemudian imam melaksanakan satu rakaat bersama dengan kelompok tersebut. Ketika imam sedang melaksanakan duduk tasyahud, maka kelompok tersebut memisahkan diri dan menyempurnakan sholatnya sendiri, kemudian imam menanti mereka dan melakukan salam bersama mereka. (فَيُصَلِّي) الْإِمَامُ (بِهَا رَكْعَةً) فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ لِلتَّشَهُّدِ تُفَارِقُهُ (وَتُتِمُّ لِنَفْسِهَا) ثُمَّ يَنْتَظِرُهَا الْإِمَامُ (وَيُسَلِّمُ بِهَا)
Ini adalah bentuk sholat yang dilaksanakan Rosulullah Saw di daerah Dzatirriqa’. Disebut dengan nama ini, karena sesungguhnya para sahabat menambal bendera mereka di sana. Namun ada yang mengatakan alasan yang lain. وَهَذِهِ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَاتِ الرِّقَاعِ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ رَقَّعُوْا فِيْهَا رَايَاتِهِمْ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ

 

Sholat al ‘Asfan

 

Bentuk sholat khauf kedua adalah posisi musuh berada di arah kiblat, di tempat yang bisa terlihat oleh pandangan orang muslim. Jumlah pasukan muslim cukup banyak yang mungkin untuk dibagi. (وَالثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ جِهَةِ الْقِبْلَةِ) فِيْ مَكَانٍ لَايَسْتُرُهُمْ عَنْ أَعْيُنِ الْمُسْلِمِيْنَ شَيْئٌ وَفِي الْمُسْلِمِيْنَ كَثْرَةٌ تَحْتَمِلُ تَفَرُّقَهُمْ
Maka imam membagi mereka menjadi dua shof misalnya. Imam melakukan takbiratul ihram bersama mereka semuanya. (فَيَصِفُّهُمُ الْإِمَامُ صَفَّيْنِ) مَثَلًا (وَيُحْرِمُ بِهِمْ) جَمِيْعًا
Ketika imam sujud di rakaat pertama, maka salah satuh shof melakukan sujud dua kali bersamanya, sedangkan shof yang lain tetap berdiri mengawasi musuh. (فَإِذَا سَجَدَ) الْإِمَامُ فِيْ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى (سَجَدَ مَعَهُ أَحَدُ الصَّفَّيْنِ) سَجْدَتَيْنِ (وَوَقَفَ الصَّفُّ الْآخَرُ يَحْرِسُهُمْ
Ketika imam mengangkat kepala, maka shof yang lain ini melakukan sujud dan menyusul imam. فَإِذَا رَفَعَ) الْإِمَامُ رَأْسَهُ (سَجَدُوْا وَلَحِقُوْهُ)
Imam melakukan tasyahud dan salam bersama kedua shof tersebut. وَيَتَشَهَّدُ بِالصَّفَّيْنِ وَيُسَلِّمُ بِهِمْ
Dan ini adalah sholat ang dilakukan oleh Rosulullah Saw di daerah ‘Asfan, yaitu suatu desa yang berada di jalur jama’ah haji yang datang dari dari Mesir, dan berjarak dua marhalah dari Makkah. وَهَذِهِ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَسْفَانَ وَهِيَ قَرْيَةٌ فِيْ طَرِيْقِ الْحَاجِ الْمِصْرِيِّ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَانِ
Daerah tersebut diberi nama demikian karena di sana terlalu sering terjadi banjir yang besar. سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِعَسْفِ السُّيُوْلِ فِيْهَا

 

Sholat Syiddah Al Khauf

 

Bentuk sholat khauf ke tiga adalah saat berada dalam keadaan sangat genting dan berkecamuknya peperangan. (وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَالْتِحَامِ الْحَرْبِ)
“iltihamul harbi” adalah bentuk kiasan dari sangat bercampurnya antara kaum sekira badan sebagian dari mereka bertemu dengan badan sebagian yang lain, sehingga mereka tidak bisa menghindar dari peperangan dan tidak mampu untuk turun dari kendaraan jika naik kendaraan dan tidak mampu berpaling jika mereka berjalan kaki. هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ شِدَّةِ الْاِحْتِلَاطِ بَيْنَ الْقَوْمِ بِحَيْثُ يَلْتَصِقُ لَحْمُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ فَلَا يَتَمَكَّنُوْنَ مِنْ تَرْكِ الْقِتَالِ وَلَا يَقْدِرُوْنَ عَلَى النُّزُوْلِ إِنْ كَانُوْا رُكْبَانًا وَلَا عَلَى الْاِنْحِرَافِ إِنْ كَانُوْا مُشَّاةً
Sehingga masing-masing pasukan melakukan sholat semampunya, berjalan atau naik kendaraan, menghadap kiblat ataupun tidak menghadap kiblat. (فَيُصَلِّيْ) كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ (كَيْفَ أَمْكَنَهُ رَاجِلًا) أَيْ مَاشِيًا (أَوْ رَاكِبًا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَغَيْرَ مُسْتَقْبِلٍ لَهَا)
Mereka dimaafkan di dalam melakukan gerakan-gerakan yang cukup banyak saat sholat seperti beberapa pukulan secara terus menerus. وَيُعْذَرُوْنَ فِي الْأَعْمَالِ الْكَثِيْرَةِ فِي الصَّلَاةِ كَضَرَبَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ.


BAB PAKAIAN

(Fasal) menjelaskan pakaian. (فَصْلٌ) فِي اللِّبَاسِ
Bagi kaum laki-laki haram mengenakan pakaian sutra dan mengenakan cincin emas saat keadaan normal. (وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لَبْسُ الْحَرِيْرِ وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ) وَالْقُزِّ فِيْ حَالِ الْاِخْتِيَارِ
Begitu juga haram menggunakan barang-barang yang telah disebutkan sebagai alas dan bentuk-bentuk pemakaian yang lain. وَكَذَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الْاِفْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْاِسْتِعْمَالَاتِ
Bagi orang-orang laki-laki halal menggunakan barang-barang yang telah dijelaskan sebab darurat seperti panas dan dingin yang membahayakan. وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لَبْسُهُ لِلضَّرُوْرَةِ كَحَرٍّ وَبَرْدٍ مُهْلِكَيْنِ
Bagi kaum wanita halal mengenakan sutra dan menggunakannya sebagai alas. (وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ) لَبْسُ الْحَرِيْرِ وَافْتِرَاشُهُ
Bagi seorang wali halal mengenakan sutra pada anak laki-laki kecil sebelum dan setelah usia tujuh tahun. وَيَحِلُّ لِلْوَلِيْ إِلْبَاسُ الصَّبِيِّ الْحَرِيْرَ قَبْلَ سَبْعِ سِنِيْنَ وَبَعْدَهَا
Emas sedikit dan banyak, maksudnya menggunakannya, sama di dalam hukum haramnya. (وَقَلِيْلُ الذَّهَبِ وَكَثِيْرُهُ) أَيِ اسْتِعْمَالُهُمَا (فِي التَّحْرِيْمِ سَوَاءٌ
Ketika sebagian bahan pakaian terbuat dari sutra dan sebagian lagi dari kapas atau kattun semisal, maka bagi orang laki-laki diperkenankan mengenakannya selama kadar sutranya tidak lebih banyak daripada bahan yang lainnya. وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسِمًا) أَيْ حَرِيْرًا (وَبَعْضُهُ) الآخَرِ (قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا) مَثَلًا (جَازَ) لِلرَّجُلِ (لَبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيِسِمُ غَالِبًا) عَلَى غَيْرِهِ
Sehingga, jika bahan selain sutra lebih banyak, maka hukumnya halal. Begitu juga halal jika ukurannya sama -antara sutra dan yang lainnya- menurut pendapat al ashah. فَإِنْ كَانَ غَيْرُ الْإِبْرَيْسِمِ غَالِبًا حَلَّ وَكَذَا إِنِ اسْتَوَيَا فِي الْأَصَحِّ.


BAB JENAZAH

(Fasal) menjelaskan hal-hal yang terkait dengan orang yang meninggal dunia, dari memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya. (فَصْلٌ) فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَيِّت مِنْ غُسْلِهِ وَتَكْفِيْنِهِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ
Di dalam mayat orang Islam yang tidak melaksanakan ihram dan bukan yang mati syahid, Wajib fardlu kifayah untuk melakukan empat perkara, yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya. (وَيَلْزَمُ) عَلَى طَرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ) الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ)
Jika mayat tidak diketahui kecuali oleh satu orang, maka semua hal yang telah disebutkan di atas menjadi fardlu ‘ain padanya. وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِالْمَيِّتِ إِلاَّ وَاحِدٌ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ مَا ذُكِرَ
Adapun mayat orang kafir, maka hukumnya haram untuk mensholatinya, baik kafir harbi atau dzimmi. Namun kedua macam orang kafir ini boleh dimandikan وَأَمَّا الْمَيِّتُ الْكَافِرُ فَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ حَرْبِيًا كَانَ أَوْ ذِمِّيًا. وَيَجُوْزُ غُسْلُهُ فِيْ الْحَالَيْنِ
Wajib mengkafani dan mengubur mayat kafir dzimmi, tidak kafir harbi dan orang murtad. وَيَجِبُ تَكْفِيْنُ الذِّمِيِّ وَدَفْنُهُ دُوْنَ الْحَرْبِيِّ وَالْمُرْتَدِ
Adapun mayat orang yang sedang melaksanakan ihram, ketika di kafani, maka kepalanya tidak ditutup, begitu juga wajah mayat wanita yang melaksanakan ihram. وَأَمَّا الْمُحْرِمُ إِذَا كُفِّنَ فَلَا يَسْتُرُ رَأْسَهُ وَلَا وَجْهَ الْمُحْرِمَةِ

 

 

Orang Mati Syahid

 

Adapun mayat orang yang mati syahid, maka tidak disholati sebagaimana yang dijelaskan oleh mushannif dengan perkataannya, وَأَمَّا الشَّهِيْدُ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ كَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ
Ada dua mayat yang tidak dimandikan dan tidak disholati. (وَاثْنَانِ لَا يُغْسَلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا)
Salah satunya orang mati syahid di dalam pertempuran melawan kaum musyrik. أَحَدُهُمَا (الشَّهِيْدُ فِيْ مَعْرِكَةِ الْمُشْرِكِيْنَ)
Dia adalah orang yang gugur di dalam pertempuran melawan orang-orang kafir sebab pertempuran tersebut. وَهُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْكُفَّارِ بِسَبَبِهِ
Baik ia dibunuh oleh orang kafir secara mutlak, oleh orang Islam karena keliru, senjatanya mengenai pada dirinya sendiri, jatuh dari kendaraan, atau sesamanya. سَوَاءٌ قَتَلَهُ كَافِرٌ مُطْلَقًا أَوْ مُسْلِمٌ خَطَأً أَوْ عَادَ سِلَاحُهُ إِلَيْهِ أَوْ سَقَطَ عَنْ دَابَتِهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
Jika ada seseorang meninggal dunia setelah pertempuran selesai sebab luka-luka saat bertempur yang di pastikan akan menyebabkan ia meninggal dunia, maka ia bukan orang mati syahid menurut pendapat al adhhar. فَإِنْ مَاتَ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْقِتَالِ بِجِرَاحَةٍ فِيْهِ يُقْطَعُ بِمَوْتِهِ مِنْهَا فَغَيْرُ شَهِيْدٍ فِي الْأَظْهَرِ
Begitu juga -bukan orang mati syahid- seandainya seseorang meninggal dunia saat bertempur melawan bughah (pemberontak), atau meninggal di pertempuran melawan orang kafir namun bukan disebabkan pertempuran tersebut. وَكَذَا لَوْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْبُغَاةِ أَوْ مَاتَ فِي الْقِتَالِ لَا بِسَبَبِ الْقِتَالِ

 

Bayi Keguguran

 

Yang kedua adalah siqth (bayi keguguran) yang tidak mengeluarkan suara keras saat dilahirkan. (وَ) الثَّانِيْ (السِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلْ) أَيْ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ (صَارِخًا)
Jika bayi tersebut sempat mengeluarkan suara atau menangis, maka hukumnya seperti mayat dewasa. فَإِنِ اسْتَهَلَ صَارِخًا أَوْ بَكَى فَحُكْمُهُ كَالْكَبِيْرِ
Siqth dengan huruf sin yang bisa dibaca tiga wajah, adalah bayi yang terlahir sebelum sempurna bentuknya. Lafadz “siqth” di ambil dari lafadz “as suquth” yang berarti gugur. وَالسِّقْطُ بِتَثْلِيْثِ السِّيْنِ الْوَلَدُ النَّازِلُ قَبْلَ تَمَامِهِ مَأْخُوْذٌ مِنَ السُّقُوْطِ

 

Memandikan Mayat

 

Seorang mayat dimandikan sebanyak hitungan ganjil, tiga, lima atau lebih dari itu. (وَيُغْسَلُ الْمَيِّتُ وِتْرًا) ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
Di awal basuhannya diberi daun bidara, maksudnya disunnahkan bagi orang yang memandikan untuk menggunakan daun bidara atau daun pohon asam dibasuhan pertama dari basuhan-basuhan pada mayat. (وَيَكُوْنُ فِيْ أَوَّلِ غُسْلِهْ سِدْرٌ) أَيْ يُسَنُّ أَنْ يَسْتَعِيْنَ الْغَاسِلُ فِي الْغَسْلَةِ الْأُوْلَى مِنْ غَسَلَاتِ الْمَيِّتِ بِسِدْرٍ أَوْ خَطَمِيٍّ
Dan di akhir basuhan mayat selain mayat yang sedang melaksanakan ihram, sunnah diberi sedikit kapur barus sekira tidak sampai merubah sifat-sifat air. (وَ) يَكُوْنُ (فِيْ آخِرِهِ) أَيْ آخِرِ غُسْلِ الْمَيِّتِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ (شَيْئٌ) قَلِيْلٌ (مِنْ كَافُوْرٍ) بِحَيْثُ لَايُغَيِّرُ الْمَاءَ
Ketahuilah sesungguhnya minimal memandikan mayat adalah meratakan seluruh badannya dengan air sebanyak satu kali. وَاعْلَمْ أَنَّ أَقَلَّ غُسْلِ الْمَيِّتِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ مَرَّةً وَاحِدَةً
Adapun memandikan yang paling sempurna, maka dijelaskan di kitab-kitab yang diperluas penjelasannya. وَأَمَّا أَكْمَلُهُ فَمَذْكُوْرٌ فِي الْمَبْسُوْطَاتِ.

 

Mengkafani

 

Mayat laki atau perempuan, baligh ataupun belum, dikafani di dalam tiga lembar kain putih.

 

(وَيُكَفَّنُ) الْمَيِّتُ ذَكَراً كَانَ أَوْ أُنْثًى بَالِغاً كَانَ أَوْ لَا (فِيْ ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيْضٍ)
Dan semuanya adalah lembaran-lembaran kain yang sama panjang dan lebarnya, masing-masing bisa menutup semua bagian badan. وَتَكُوْنُ كُلُّهَا لَفَائِفَ مُتَسَاوِيَةً طُوْلاً وَعَرْضاً تَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا جَمِيْعَ الْبَدَنِ
Dan pada kafan-kafan tersebut tidak disertakan baju kurung dan surban. (لَيْسَ فِيْهَا قَمِيْصٌ وَلَا عِمَامَةٌ)
Jika mayat laki-laki akan dikafani di dalam lima lembar, maka dengan menggunakan tiga lembar kain tersebut, baju kurung dan surban. وَإِنْ كُفِّنَ الذَّكَرُ فِيْ خَمْسَةٍ فَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمَذْكُوْرَةُ وَقَمِيْصٌ وَعِمَامَةٌ،
Atau mayat perempuan dikafani dengan lima lembar, maka dengan menggunakan jarik, kerudung, baju kurung dan dua lembar kain. أَوِ الْمَرْأَةُ فِيْ خَمْسَةٍ فَهِيَ إِزَارٌ وَخِمَارٌ وَقَمِيْصٌ وَلَفَافَتَانِ
Minimal kafan adalah satu lembar kain yang bisa menutup aurat mayat menurut pendapat al ashah di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab. Dan ukurannya berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan si mayat. وَأَقَلُّ الْكَفْنِ ثَوْبٌ وَاحِدٌ يَسْتُرُ عَوْرَةَ الْمَيِّتِ عَلَى الْأَصَحِّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ، وَيَخْتَلِفُ بِذُكُوْرَةِ الْمَيِّتِ وَأُنُوْثَتِهِ،
Dan kafan diambilkan dari jenis kain yang biasa digunakan seseorang saat ia masih hidup. وَيَكُوْنُ الْكَفْنُ مِنْ جِنْسِ مَا يَلْبَسُهُ الشَّخْصُ فِيْ حَيَاتِهِ

 

Mensholati Mayat

 

Dan seseorang membaca takbir empat kali beserta takbiratul ihram saat mensholati mayat.

 

(وَيُكَبِّرُ عَلَيْهِ) أَيِ الْمَيِّتِ إِذَا صَلَّى عَلَيْهِ (أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ) بِتَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ
Dan seandainya ia melakukan takbir lima kali, maka sholatnya tidak batal. وَلَوْ كَبَّرَ خَمْساً لَمْ تَبْطُلْ
Akan tetapi, seandainya imamnya membaca takbir lima kali, maka ia tidak usah mengikutinya, akan tetapi melakukan salam sendiri atau menanti sang imam dan melakukan salam bersamanya dan ini yang lebih utama. لَكِنْ لَوْ خَمَّسَ إِمَامُهُ لَمْ يُتَابِعْهُ بَلْ يُسَلِّمُ أَوْ يَنْتَظِرُهُ لِيُسَلِّمَ مَعَهُ وَهُوَ أَفْضَلُ
Orang yang sholat jenazah, membaca surat Al Fatihah setelah takbir yang pertama. Dan boleh membaca Al Fatihah setelah takbir selain yang pertama. وَ(يَقْرَأُ) الْمُصَلِّيُ (الْفَاتِحَةَ بَعْدَ) التَّكْبِيْرَةِ (الْأُوْلَى) وَيَجُوْزُ قِرَاءَتُهَا بَعْدَ غَيْرِ الْأُوْلَى
Dan membaca sholawat untuk baginda Nabi saw setelah takbir kedua.

 

(وَيُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ) التَّكْبِيْرَةِ (الثَّانِيَةِ)
Minimal bacaan sholawat untuk baginda Nabi Saw adalah,

“اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ”

وَأَقَلُّ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ”
Dan berdo’a untuk mayat setelah takbir ketiga. Maka ia mengucapkan, minimal doa untuk mayat adalah,

“اللهم اغْفِرْ لَهُ”

“ya Allah ampunilah ia”

Dan doa yang paling sempurna disebutkan di dalam ucapan mushannif di dalam sebagian redaksi matan, yaitu, “ya Allah sesungguhnya mayat ini adalah hamba-Mu dan putra dua hamba-Mu. Ia telah keluar dari kesenangan dan keluasan dunia, dari orang yang ia cintai dan para kekasihnya di dunia menuju gelapnya kubur dan apa yang akan ia temui di sana. Ia bersaksi sesungguhnya tidak ada tuhan selain Engkau, hanya Engkau, tidak ada sekutu bagi Engkau, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu. Engkau lebih tahu terhadapnya daripada kami. Ya Allah, sesungguhnya ia telah singgah pada-Mu dan Engkau adalah Tuhan yang disinggahi. Ia telah menjadi orang yang sangat membutuhkan rahmat-Mu dan Engkau tidak butuh untuk meyiksanya. Sesungguhnya kami datang pada-Mu karena mencintai-Mu dan memohonkan syafaat untuknya. Ya Allah, jika ia adalah orang yang berbuat baik, maka tambahkanlah kebaikannya. Dan jika ia adalah orang yang berbuat jelek, maka temukanlah ia pada keridlaan-Mu sebab rahmat-Mu, lindungilah ia dari fitnah dan siksa kubur, luaskanlah ia di dalam kuburnya, renggangkanlah bumi dari kedua lambungnya, dan sebab rahmat-Mu temukanlah padanya rasa aman dari siksa-Mu hingga engkau bangunkan ia dalam keadaan aman menuju surga-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling pemurah”.

(وَيَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ فَيَقُوْلُ) وَأَقَلُّ الدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ “اللهم اغْفِرْ لَهُ” وَأَكْمَلُهُ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ وَهُوَ (اللهم إِنَّ هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا وَمَحْبُوْبِهِ وَأَحِبَّائِهِ فِيْهَا إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لَاقِيْهِ كَانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا اللهم إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَبِيْرٌ مَنْزُوْلٌ بِهِ وَأَصْبَحَ فَقِيْرًا إِلَى رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ وَقَدْ جِئْنَاكَ رَاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شُفَعَاءَ لَهُ اللهم إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ إِحْسَانِهِ وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ وَ افْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَجَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ الْأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتَّى تَبْعَثَهُ آمِنًا إِلَى جَنَّتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Setelah takbir ke empat ia membaca do’a,

اللهم لَاتَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَاتَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

“ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya pada kami. Dan janganlah Engkau menfitnah kami setelah ia meninggal. Dan ampunilah kami dan dia”

وَيَقُوْلُ فِيْ الرَّابِعَةِ اللهم لَاتَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَاتَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
Dan orang yang mensholati melakukan salam setelah takbir ke empat. وَيُسَلِّمُ) الْمُصَلِّيْ (بَعْدَ) التَّكْبِيْرَةِ (الرّابِعَةِ)
Bacaan salam di dalam sholat ini sama seperti bacaan salam di dalam selain sholat jenazah dalam tata cara dan jumlahnya, akan tetapi di sini disunnahkan untuk menambah lafadz, وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَالسَّلَامُ هُنَّا كَالسَّلَامِ فِيْ صَلَاةِ غَيْرِ الْجَنَازَةِ فِيْ كَيْفِيَتِهِ وَعَدَدِهِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ هُنَّا زِيَادَةُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Pemakaman

 

Seorang mayat dimakamkan di dalam lahd (luang landak) dengan menghadap kiblat. (وَيُدْفَنُ) الْمَيِّتُ (فِيْ لَحْدٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ)
Lahd, dengan huruf lam yang terbaca fathah dan dlammah, dan huruf ha’ yang terbaca sukun, adalah bagian yang digali di sisi liang kubur bagian bawah di arah kiblat kira-kira seukuran yang bisa memuat dan menutupi mayat. وَاللَّحْدُ بِفَتْحِ اللَّامِ وَضَمِّهَا وَسُكُوْنِ الْحَاءِ مَا يُحْفَرُ فِيْ أَسْفَلِ جَانِبِ الْقَبْرِ مِنْ جِهَةِ الْقِبْلَةِ قَدْرَ مَا يَسَعُ الْمَيِّتَ وَيَسْتُرُهُ
Mengubur di dalam lahd itu lebih utama daripada mengubur di dalam syiqq jika postur tanahnya keras. وَالدَّفْنُ فِيْ اللَّحْدِ أَفْضَلُ مِنَ الدَّفْنِ فِي الشَّقِّ إِنْ صَلُبَتِ الْأَرْضُ
Syiqq adalah galian yang berada di bagian tengah liang kubur yang berbentuk seperti selokan air, di bangun kedua sisinya, mayat di letakkan di antara kedua sisi tersebut dan di tutup dengan bata mentah atau sesamanya. وَالشِّقُّ أَنْ يُحْفَرَ فِيْ وَسَطِ الْقَبْرِ كَالنَّهْرِ وَيُبْنَى جَانِبَاهُ وَيُوْضَعُ الْمَيِّتُ بَيْنَهُمَا وَيُسْقَفُ عَلَيْهِ بِلَبِنٍ وَنَحْوِهِ
Sebelum dimasukkan, mayat diletakkan di sisi belakang / bagian kaki kubur. وَيُوْضَعُ الْمَيِّتُ عِنْدَ مُؤَخِّرِ الْقَبْرِ
Di dalam sebagian redaksi, setelah kata-kata “menghadap kiblat”, ada tambahan keterangan. وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ بَعْدَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ زِيَادَةٌ
Yaitu, mayat di turunkan ke liang kubur dimulai dari arah kepalanya, maksudnya dimasukkan dengan cara yang halus tidak kasar. وَهِيَ (وَيُسَلُّ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ) أَيْ سَلًّا (بِرِفْقٍ) لَابِعَنْفٍ .
Orang yang memasukkan mayat ke liang lahd, sunnah mengucapkan,

“بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”

“dengan menyebut Nama Allah. Dan atas agama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Dan mayat diletakkan di dalam kubur dengan posisi tidur miring setelah kubur tersebut digali sedalam ukuran orang berdiri dan melambaikan tangan.

(وَيَقُوْلُ الَّذِيْ يُلْحِدُهُ “بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” وَيُضْطَجَعُ فِيْ الْقَبْرِ بَعْدَ أَنْ يُعَمَّقَ قَامَةً وَبَسْطَةً)
Posisi tidur miring tersebut dengan menghadap kiblat dan bertumpuh pada lambung mayat sebelah kanan. وَيَكُوْنُ الْاِضْطِجَاعُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ
Seandainya mayat dikubur dengan posisi membelakangi kiblat atau terlentang, maka wajib digali lagi dan di hadapkan ke arah kiblat, selama mayat tersebut belum berubah. فَلَوْ دُفِنَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ أَوْ مُسْتَلْقِيًا نُبِشَ وَوُجِّهَ لِلْقِبْلَةِ مَالَمْ يَتَغَيَّرْ
Bentuk kubur tersebut diratakan, tidak dibentuk seperti punuk unta, tidak dibangun dan tidak di tajshish, maksudnya makruh men-tajshish­ kubur dengan gamping. (وَيُسْطَحُ الْقَبْرُ) وَلَا يُسْنَمُ (وَلَا يُبْنَى عَلَيْهِ وَلَا يُجَصَّصُ ) أَيْ يُكْرَهُ تَجْصِيْصُهُ بِالْجَصِّ
Jash adalah kapur yang diberi nama dengan gamping. وَهُوَ النَّوْرَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْجِيْرِ

 

Menangisi Mayat

 

Tidak masalah/tidak apa-apa menangisi mayat, sebelum dan setelah meninggal dunia. Namun tidak menangis itu lebih utama. (وَلَا بَأْسَ بِالْبُكَاءِ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْلَ الْمَوْتِ وَبَعْدَهُ وَتَرْكُهُ أَوْلَى
Namun menangisi orang meninggal harus tidak sampai teriak-teriak disertai mengeluh dan tidak sampai menyobek pakaian. وَيَكُوْنُ الْبُكَاءُ عَلَيْهِ (مِنْ غَيْرِ نَوْحٍ) أَيْ رَفْعِ صَوْتٍ بِالنَّدْبِ (وَلَا شَقِّ ثَوْبٍ)
Dalam sebagian redaksi mengguna-kan bahasa “jaib” sebagai ganti “tsaub”. Jaib adalah kera baju khamis. وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ جَيْبٌ بَدَلَ ثَوْبٍ وَالْجَيْبُ طُوْقُ الْقَمِيْصِ

 

Ta’ziyah

 

Sunnah ta’ziyah kepada keluarga mayat, baik yang kecil, besar, laki-laki, dan yang wanita kecuali wanita yang muda. Maka tidak dianjurkan melakukan ta’ziyah pada wanita yang muda selain orang-orang yang memiliki ikatan mahram dengannya. (وَيُعَزَّى أَهْلُهُ) أَيِ الْمَيِّتِ صَغِيْرُهُمْ وَكَبِيْرُهُمْ وَذَكَرُهُمْ وَأُنْثَاهُمْ إِلَّا الشَّابَةَ فَلَا يُعَزِّيْهَا إِلَّا مَحَارِمُهَا
Ta’ziyah sunnah dilakukan sebelum dan setelah pemakaman hingga tiga hari terhitung sejak setelah pemakaman, jika orang yang ta’ziyah dan yang dita’ziyahi tidak sedang bepergian. وَالتَّعْزِيَةُ سُنَّةٌ قَبْلَ الدَّفْنِ وَبَعْدَهُ (إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ) بَعْدِ (دَفْنِهِ) إِنْ كَانَ الْمُعَزِّيْ وَالْمُعَزَّى حَاضِرَيْنِ
Jika salah satunya sedang tidak ditempat, maka masa kesunnahan ta’ziyah tetap terus berlangsung hingga kedatangannya. فَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا غَائِبًا امْتَدَّتِ التَّعْزِيَةُ إِلَى حُضُوْرِهِ
Secara bahasa ta’ziyah adalah menghibur orang yang terkena musibah sebab orang yang dikasihinya. Dan secara syara’ adalah perintah dan dorongan untuk bersabar dengan menjanjikan pahala dan berdo’a untuk mayat agar mendapat ampunan, dan untuk orang yang terkena musibah agar musibahnya mendapatkan ganti yang baik. وَالتَّعْزِيَةُ لُغَةً التَّسْلِيَةُ لِمَنْ أُصِيْبَ بِمَنْ يَعَزُّ عَلَيْهِ وَشَرْعًا الْأَمْرُ بِالصَّبْرِ وَالْحَثُّ عَلَيْهِ بِوَعْدِ الْأَجْرِ وَالدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالْمُصَابِ بِجَبْرِ الْمُصِيْبَةِ
Tidak diperkenankan memakamkan dua orang di dalam satu kubur kecuali karena hajat seperti sempitnya lahan dan terlalu banyaknya orang yang meninggal dunia. (وَلَا يُدْفَنُ اثْنَانِ فِيْ قَبْرٍ) وَاحِدٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ) كَضَيْقِ الْأَرْضِ وَكَثْرَةِ الْمَوْتَى
Bab Shalat Kitab Fathul Qarib

4 tanggapan pada “Bab Shalat Kitab Fathul Qarib

  1. Ping-balik: Ragu suara adzan saat akan shalat - Islamiy.com
  2. Ping-balik: Terjemah Kitab Fathul Qorib - Islamiy.com
  3. Ping-balik: Bab Jihad Kitab Fathul Qorib - Islamiy.com
  4. Ping-balik: Bab Puasa Kitab Fathul Qorib - Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas