Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Sejarah Perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia

Sejarah Perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia

Sejarah Perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia

Sejarah Indonesia Madya membahas perkembangan sejarah bangsa Indonesia sejak masuknya pengaruh Islam dan pertemuan para pedagang asing termasuk bangsa-bangsa Barat. Pada zaman ini, pengaruh agama dan peradaban Islam mulai memperlihatkan pada corak, sifat- sifat, dan ciri-ciri tersendiri.13 Sejarah awal perjalanan Pesantren di Indonesia tidak lepas dari penyebaran agama Islam di nusantara oleh para ulama yang terdiri dari para Walisongo. Islamisasi sebagai cikal awal pendirian Pesantren sebagai media dakwah yang banyak diterima masyarakat nusantara. Pesantren yang berdiri sejak zaman dahulu sampai saat ini masih tetap eksis. Pesantren sendiri merupakan corak asli dari bangsa Indonesia atau asli buatan Indonesia. Dalam catatan sejarah, tokoh Walisongo, yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim menjadi sosok pertama yang mengenalkan Pesantren sebagai media dakwah Islamisasi. Sunan Maulana Malik Ibrahim mendirikan Pesantren di daerah Gresik Jawa Timur. Oleh karena saat awal penyebaran agama Islam banyak pengikut yang ada di rumahnya, maka didirikannya bangunan lain yang diorientasikan untuk para murid-muridnya. Hal tersebut yang menjadi cikal bakal pendirian Pesantren sebagai media dakwah agama Islam. Tokoh-tokoh Walisongo lainnya, juga sebagian besar mendirikan Pesantren untuk mempermudah dalam mengajarkan dakwah Islam. Pesantren selain tempat belajar agama, juga dilengkapi asrama dan masjid sebagai perlengkapan belajar agama.14

Menurut Furgan,15 Perkembangan Islam di nusantara tidak lepas dari aset-aset lokal. Hubungan Islam dengan era tradisional di nusantara sangat erat sekali. Aset lokal tersebut menjadi unsur penunjang dalam perkembangan Islam di Indonesia sekaligus sebagai pembangunan peradaban. Pesantren yang awalnya sebagai lembaga masyarakat Islam tradisional kemudian tumbuh dan berkembang di masyarakat Muslim yang berpengaruh sangat pesat. Kemudian Pesantren memiliki peran yang sangat signifikan terhadap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pesantren-pesantren yang ada di Indonesia saat ini banyak mengalami penyesuaian-penyesuaian dan pembenahan sehingga pesantren mampu menciptakan generasi yang berkualitas, memiliki daya saing, dan berintegritas tinggi sesuai dengan sloganya ‘berilmu amaliah, beramal ilmiah, dan sadar akan penciptaannya sebagai khalifah di muka bumi’.16

Pesantren sejak awal berdiri sampai saat ini, memiliki sistem model pendidikan yang karakternya dalam perspektif khusus dalam wacana pendidikan nasional. Sistem pendidikan Pesantren sendiri berusaha membangkitkan spekulasi tentang sejarah di masa silam. Berdirinya Pesantren di Indonesia sendiri telah dipengaruhi oleh jaringan internasional, yaitu Arab dan India yang ditelusuri dalam teori Kemazhaban. Pada awal berdirinya, Pesantren sebagai tempat pendidikan agama, namun juga masuk dalam lingkup dakwah Islamisasi. Pesantren ternyata dalam sejarah, dakwah Islamisasi yang menonjol perannya. Lembaga pendidikan agama yang tertua di Indonesia, Pesantren selalu diterima masyarakat nusantara. Meskipun diawal-awal berdirinya, proses penyaluran dakwah Islamisasi sempat terjadi benturan-benturan antar nilai- nilai Islami dan masyarakat yang telah mengakar didalam masyarakat nusantara. Pada langkah selanjutnya, Pesantren mampu diterima oleh masyarakat nusantara, sehingga selanjutnya pendirian Pesantren menjadi kebanggaan bagi masyarakat nusantara terutama kalangan masyarakat Muslim. Dimasa penjajahan Belanda, Pesantren memiliki hambatan, karena harus berhadapan dengan misi Kristenisasi dimasyarakat Nusantara. Meskipun demikian eksistensi dakwah Islam melalui Pesantren tetap menjadi tujuan umat Islam di Indonesia. 17

Menurut Kesuma18, Kekuatan pesantren dalam membentuk kepribadian santri sebagaimana telah dikemukakan, tidak terlepas dari sistem “boarding school” yang telah lama diterapkan dalam pendidikian pesantren. Prinsip pesantren adalah al muhafadzah ‘ala al qadim al shalih, wa al akhdzu bi al jadid al ashlah’, yaitu tetap memegang tradisi yang positif, dan mengimbangi dengan mengambil hal-hal baru yang positif.

Catatan Akhir

12 Nina Herlina, Metode Sejarah, Edisi Revisi. (Bandung: Historika, 2020).

13 A. Daliman, Islamisasi Dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia (Yogyakarta: Ombak, 2012).

14 Nurhayati, “Literatur Keislaman Dalam Konteks Pesantren,” hal. 106-124.

15 Muhammad Furqan, “Surau Dan Pesantren Sebagai Lembaga Pengembang Masyarakat Islam Di Indonesia (Kajian Perspektif Historis),” Jurnal Al-Ijtimaiyyah Vol. 5, No. 1 (June 2019): hal. 1-34.

16 Sarkowi and Rina Oktafia Putri, “Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Al-Madani Lubuklinggau Tahun 2011-2018,” Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya Vol.13, No. (1) (2019): hal. 54-74.

17 Hasan, “Perkembangan Pendidikan Pesantren di Indonesia,” hal. 55-73.

18 Guntur Cahaya Kesuma, “Refleksi Model Pendidikan Pesantren Dan Tantangannya Masa Kini,” Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah Vol. 02, No. (1) (2017): hal. 67-69.

Sejarah Perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia
Kembali ke Atas