Kirim pertanyaan via email ke: alkhoirot@gmail.com

Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Raja Yordania Terverifikasi Dzuriyah Nabi

NASAB KELUARGA RAJA YORDAN LULUS UJI KITAB NASAB DAN DNA (Meruntuhkan Upaya Klan Baalwi Untuk Meragukan Nasab Keturunan Nabi Muhammad SAW yang Asli)

Penulis: Imaduddin utsman Al-Bantani

Abdullah Alatas seseorang dari keluarga Baalwi, keluarga imigran dari Tarim, mempertanyakan nasab mulia Nabi Muhammad SAW yang dimiliki oleh keluarga Raja Abdullah II yang merupakan raja Kerajaan Yordan. Yang dilakukan oleh Abdullah Alatas ini sudah termasuk dalam kategori su’ul adab terhadap keturunan ahlubait Nabi Muhammad SAW yang suci. Seharusnya Abdullah Alatas bersyukur kepada Allah SWT telah ditakdirkan sebagai seorang muslim dan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Rasa syukur itu seharusnya diterjemahkan oleh Abdullah Alatas dengan mencintai keturunan Nabi Muhammad SAW seperti Raja Abdullah II dari Yordania, bukan malah menyakiti keturunannya dengan meragukan kesahihan nasabnya.

Kesahihan nasab Raja Abdullah II tidak bisa diragukan lagi. Dari generasi ke generasi sejak seribu tahun yang silam keluarganya menjadi penguasa di Kota Makkah dan silsilah nasabnya dicatat oleh para ahli nasab. Raja Abdullah II adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Imam Hasan bin Ali melalui Musa al-Jun. silsilah keluarga ini melalui Qatadah bin Idris leluhur Bani Qatadah dan Bani Aon keluarga para syarif di Makkah.

Setelah diadakan Hasil tes DNA, ternyata DNA mereka positif sebagai keturunan Ibrahim dan Quraisy karena memiliki Haplogroup J1 dan subclade J-L859. Mereka juga terbukti sebagai keturunan Bani Hasyim karena mempunyai tanda genetic subklade FGC8703+, dan terbukti sebagai keturunan Ali bin Abi Talib karena mempunyai subkalde FGC10500+. Dan terbukti sebagai keturunan Hasan bin Ali melalui Musa al-Jun karena memiliki subclade J-FGC8702. Dan terbukti merupakan keturunan Qatadah bin Idris karena mempunyai subklade J-FGC9581. Mutasi selanjutnya adalah J-FGC9583 yang merupakan ciri khas keturunan Syarif Abu Numay I.

Subclade keluarga Al-Hasyimi Yordan berada pada J-FGC9585 yang juga dimiliki oleh keluarga Syarif Aonurrafiq dan keluarga Abu Numai yang merupakan keluarga para syarif di Makkah yang memerintah Kota Makkah selama ribuan tahun yang merupakan keturunan Qatada bin Idris sama dengan Al-Hasyimi Jordan (https://discover.familytreedna.com/y-dna/J-FGC9585/notable). Setelah dilakukan perbandingan antara keluarga Al-Hasyimi Yordan dengan 42 keturunan Qatadah bin Idris Makkah, DNA mereka identik.

Walau pengakuan keluarga Raja Yordan terverifikasi oleh hasil tes DNA, para pendukung kaum Ba’alwi di Indonesia mempertanyakan keabsahan nasab Raja Abdullah II. Sebagaimana diketahui Kaum Baalwi adalah kaum yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, namun pengakuannya tertolak oleh bukti-bukti ilmiyah kitab nasab abad ke-5 Hijriah sampai abad 9 Hijriyah yang tidak mencatat leluhur mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Pengakuan kaum Baalwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW juga tertolak dari hasil tes DNA mereka yang menunjukan bahwa mereka masuk dalam klaster haplogroup G yaitu haplogroup yang merupakan penanda genetic mayoritas orang kaukasia. Mereka tidak termasuk ke dalam klaster haplogroup J1 yang merupakan klaster keturunan Arab.

Pertanyaan yang mungkin muncul dari public adalah kenapa Kaum ba’alwi mempertanyakan keabsahan nasab Raja Abdullah II. Saya akan mambantu menjawab pertanyaan itu. Bahwa Kaum Baalwi mempertanyakan keabsahan nasab Raja Abdullah II karena para ulama dan cendikiawan mengakui keabsahan nasab Raja Abdullah II, sementara mereka tidak mengakui nasab kaum Baalwi. Kaum Ba’alwi merasa para ulama dan ilmuan itu tidak adil kepada mereka, mereka menganggap ada tendensi subjektif dari para ulama dan cendikiawan Ketika mengakui nasab Raja Yordan dan menolak nasab mereka.

Saya akan bantu jelaskan kepada kaum Ba’alwi bahwa para ulama dan cendikiawan mengakui keabsahan nasab Raja Abdullah II dan menolak nasab Baalwi itu bukan karena adanya tendensi subjektif, tetapi karena betul-betul merupakan realitas ilmiyah dilihat dari perspektif ilmu nasab dan hasil tes DNA.

Para ulama dan cendikiawan tidak bisa seperti orang awam yang bisa menerima atau menolak sesuatu hanya berdasarkan tendensi subjektif, perasaan pribadi atau karena suka atau tidak suka. Mereka memerlukan data dan bukti-bukti ilmiyah yang menyertai sikap mereka dalam menerima atau menolak sesuatu.

Mereka menerima kesahihan nasab Raja Yordan karena hasil tes DNA mereka identic dengan DNA yang dimilik orang Arab, orang Quraisy, Bani Hasyim dan keturunan Siti Fatimah RA yang lain. Sementara para ulama dan cendikiawan dengan berat hati dan sangat menyesal tidak bisa menerima nasab Baalwi sebagai bagian dari keturunan Nabi Muhammad SAW karena DNA mereka menunjukan jangankan sebagai keturunan Nabi, sebagai orang Arab saja mereka mustahil.

Setelah melakukan tes DNA kaum baalwi diketahui berhaplogroup G dan tidak mempunyai penanda genetic sebagai orang Arab, orang Quraisy, Bani Hasyim dan penanda genetic keturunan Siti Fatimah RA. Jadi, penolakan sebagai keturunan Nabi bagi kaum Baalwi sebenarnya bukan dilakukan oleh para ulama dan ilmuan, tetapi darah mereka sendiri yang menolak dirinya untuk dikaitkan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kembali kepada Abdullah Alatas yang mempertanyakan kesahihan nasab Raja Yordan karena katanya ada satu kitab yang tidak menerima nasab Raja Yordan. Mari kita uji apakah klaim Abdullah Alatas itu ilmiyah.

Sebelumnya saya akan tampilkan silsilah nasab Raja Abdullah II yang telah ditandatangani oleh Al-Amir Ghazi bin Muhammad, Al-Amir Ali bin Hayif, Syaikh Ahmad Hulayyil (Imam Hadrah Hasyimiyah) dan Syaikh Abdulkarim Al-Hashowanah (Mufti Kerajaan Yordan) sebagai berikut:

Nasab lengkap Raja Abdullah II bin Husein :

  1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
  2. Fatimah Az-Zahra
  3. Hasan Al-Mujtaba
  4. Hasan Al-Mutsanna
  5. ‘Abdullah Al-Mahdi
  6. Musa Al-Jun
  7. ‘Abdullah Ar-Ridha
  8. Musa Ats-Tsani
  9. Muhammad Ats-Tsa’ir
  10. ‘Abdullah
  11. ‘Ali As-Salami
  12. Sulaiman
  13. Husein
  14. ‘Isa
  15. ‘Abdul Karim
  16. Mutha’an
  17. Idris (Amir Makkah)
  18. Qatadah (Amir Makkah)
  19. ‘Ali Al-Akbar
  20. Hasan Abu Sa’ad (Amir Makkah)
  21. Muhammad Abu Numai Al-Awwal (Amir Makkah)
  22. Rumaitsah (Amir Makkah)
  23. ‘Ajlan (Amir Makkah)
  24. Hasan (Amir Makkah)
  25. Barakat Al-Awwal (Amir Makkah)
  26. Muhammad (Amir Makkah)
  27. Barakat Ats-Tsani (Amir Makkah)
  28. Muhammad Abu Numai Ats-Tsani (Amir Makkah)
  29. Hasan (Amir Makkah)
  30. ‘Abdullah (Amir Makkah)
  31. Husein
  32. ‘Abdullah
  33. Muhsin
  34. Syarif ‘Aun Ar-Rafiq (Datuk Asyraf Marga Al-‘Auni)
  35. ‘Abdul Mu’in
  36. Muhammad (Amir Makkah)
  37. ‘Ali (Amir Makkah)
  38. Syarif Husein (Amir Hijaz)
  39. Syarif Abdullah Al-Awwal
  40. Syarif Thalal
  41. Syarif Husein
  42. Raja Abdullah II (Raja Yordania)

Menurut Abdullah Alatas dari Kaum Baalwi, Abdullah bin Muhammad Al-Tsa’ir bin Musa Al-tsani (nomor 10) tidak mempunyai keturunan berdasar kitab Lubabul ansab karya Al-Baihaqi yang wafat tahun 565 Hijriyah. Mari kita uji pernyataan Abdullah Alatas ini dengan kitab-kitab nasab muktabar mulai abad ke-5 Hijriyah sampai ke-9 H.

Pertama silahkan Abdullah Alatas membuka kitab Tahdzibul Ansab karya Al-Ubaidili (w. 435 H) halaman 52 disebutkan sebagai berikut:

والعقب من ولد أبي عبد الله محمد الأصغر وهو الأعرابي من [ابي علي] احمد الأعرج وفيه عدد ومن عبد الله بن محمد [ابي الزوائد].

“Dan keturunan dari anak-anak Abi Abdillah Muhammad Al-Ashgar Al-A’rabiy (bin Musa Al-tsani) adalah dari [Abi Ali] Ahmad Al-A’raj dan di dalamnya banyak orang. Dan dari Abdullah bin Muhammad” Tahdzibul Ansab h. 52)

Perhatikan bahwa pada abad ke-lima telah dinyatakan bahwa Muhammad bin Musa Al-Tsani banyak mempunyai keturunan dari dua anaknya yaitu Ahmad dan Abdullah. Dari situ jelas bahwa silsilah Raja Yordan yang terdapat nama Abdullah bin Muhammad bin Musa Al-tsani mempunyai keturunan. Artinya klaim Abdullah Alatas bahwa Abdullah ini terputus keturunannya tertolak oleh kitab nasab abad ke 5 Hijriyah. Tentunya kitab Tahdzibul Ansab ini lebih tua dari kitab Lubabul Ansab yang menjadi satu-satunya pegangan Abdullah Alatas yang berangka tahun 565.

Selain kitab Tahdzibul Ansab Abdullah Alatas lihat pula dalam kitab Al-Syajarah Al-Mubarakah karya Imam Fakhrurazi (W. 606 H) halaman 25 disebutkan sebagai berikut:

واما محمد الأصغر بن موسى الثاني فله من الاولاد المعقبين عبد الله ابو الزوائد واحمد الأعرج

“Dan Adapun Muhammad Al-Ashgar bin Musa Al-tsani maka baginya dari Sebagian anak-anak yang berketurunan adalah Abdullah Abuzawaid dan Ahmad Al-A’raj” (Al-Syajarah Al-Mubarakah h. 25).

Kitab abad ke-6 dan 7 Hijriah konsisten menyebut bahwa Abdullah bin Muhammad bin Musa Al-tsani berketurunan. Sekali lagi klaim Abdullah Alatas dari kaum Ba’alwi yang mencoba membuat keraguan terhadap nasab Ahlubait Nabi tertolak.

Kemudian, jika masih kurang yakin, Abdullah Al-Atas silahkan membuka kitab al Fakhri karya Ismail Al-Marwazi (W. 614 H.) halaman 91 disebutkan:

ولمحمد الاصغر الاعرابي بن موسى الثاني ابنان معقبان احمد ابو على الاعرج، وعبد الله ابو الزوائد لان اصابعه كانت اربعة وعشرين

“Dan bagi Muhammad Al-Ashgar al-A’rabi bin Musa Al-tsani ada dua anak yang berketurunan: Ahmad Abu Ali Al-A’raj dan Abdullah Abu Zawaid karena jari-jarinya berjumlah 24” (Al-fakhri fi Ansabittalibiin h. 91).

Kitab abad ke-tujuh telah bersaksi bahwa Abdullah bin Muhammad leluhur Raja Yordan berketurunan. Tidak seperti klaim Abdullah Alatas bahwa ia tidak berketurunan. Telah empat kitab mulai abad kelima sampai ketujuh yang telah bersaksi bahwa Abdullah mempunyai keturunan.

Jika Alatas masih kurang yakin silahkan buka kitab Al-Ashili karya Ibnu Thaqtaqi (W. 709 H.) halaman 100 disebutkan:

واما ابو محمد عبد الله الأكبر بن محمد الثائر فعقبه من ثلاثة رجال احمد الاميرو محمد ثعلب وعلي

“Dan Adapun Abu Muhammad Abdullah Al-Akbar bin Muhammad Al-tsair maka keturunannya dari tiga laki-laki Ahmad Al-Amir, Muhammad dan Ali” (Al-Ashili h. 100).

Dari kitab Al-Ashili ini semakin jelas bahwa Abdullah mempunyai anak tiga yaitu Ahmad al-Amir, Muhammad tsa’lab dan Ali. Adapun Ali adalah urutan nomor 11 dari rangkaian nasab keluarga Raja Yordan seperti tersebut di atas.

Kesaksian kitab nasab tentang kesahihan silsilah nasab Raja Yordan juga tidak hanya terbatas kepada Abdullah dan anaknya Ali. Tetapi seluruh nama-nama yang ada dalam urutan nasab itu terverifikasi dalam kitab-kitab nasab. Seperti nama Sulaiman bin Ali (urutan no 11), nama ini telah tercatat pula pada kitab-kitab nasab sebagai contoh silahkan lihat kitab Al-Ashili halaman 100 sebagai berikut:

واما علي أبن السلمية بن عبد الله بن محمد الثائرفاعقب من ثلاثة رجال يحيى والحسين الشديد وسليمان

“Dan Adapun Ali Ibnu Assalmiyah bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir makai a berketurunan dari tiga laki-laki Yahya, Husen Al-Syadid dan Sulaiman” (Al-Ashili h. 101).

Dari redaksi di atas telah nyata bahwa Ali Ibnu Assalmiyah bin Abdullah mempunyai anak bernama Sulaiman. Ali disebut Ibnu Assalmiyah kemungkinan besar karena ibunya berasal dari Bani Salam. Ini adalah sebuah konfirmasi lanjutan dari kesahihan silsilah Raja Yordan di atas. Dan perlu diketahui bahwa Yahya bin Ali di atas (saudara Sulaiman bin Ali) merupakan kakek bersama dari Bani Numai para Asyraf Makkah yang hari ini masih ada di sana.

Lalu anak Sulaiman yang Bernama Husein (urutan no 12) apakah juga tercatat dalam kitab nasab muktabar? Silahkan Abdullah Alatas melihat kitab Al-Ashili halaman 102 sebagai berikut:

واما سليمان بن علي ابن السلمية فأعقب من اربعة رجال محمد الازرق واحمد وابراهيم والحسين

“Dan Adapun Sulaiman Ibnu al-Salmiyah maka ia berketurunan dari empat laki-laki: Muhammad al-Azraq, Ahmad, Ibrahim dan Al-Husain” (Al-Ashili h. 102)

Telah nyata dan terang benderang bahwa rangkaian nasab dari keluarga Raja Yordan ini tercatat rapih oleh para ahli nasab muktabar. Abdullah Alatas bisa membaca sendiri kitab Al-Ashili di mana dalam kitab itu nama-nama dalam rangkaian silsilah Raja Yordan yang hidup sebelum tahun 709 H. tercatat rapih. Ini membuktikan bahwa nama-nama dalam rangkaian silsilah itu merupakan sosok historis dan lebih dari pada itu klaim nasab itu sesuai dengan reportase para ahli nasab yang muktabar.

Dari itu, kesahihan nasab keluarga Raja Yordan memiliki tiga penopang yang sangat kokoh yaitu hasil tes DNA mereka yang identic, nasab yang verifikatif dan nama-nama dalam rangkaian silsilah mereka semuanya terbukti sebagai sosok historis. Bandingkan dengan nasab Ba’alwi yang tidak ditopang oleh satupun tiga unsur tersebut, hasil tes DNA gagal, karena klister DNA Baalwi berhaplogroup G yang bukan merupakan klister orang Arab tetapi orang Kaukasia, nasab Baalwi tertolak kitab-kitab nasab dari mulai abad ke-5 sampai ke 9 Hijriah, dan nama-nama yang terdapat dalam rangkaian silsilah mereka mulai dari Ubed sampai Maula Dawilah terbukti sosok fiktif.

Dalam ilmu Mantiq, ada suatu istilah yang disebut sebagai mustahilah, yaitu hal hal yang mustahil terjadi, pertama adalah daur, kedua tasalsul, ketiga ijtimaunnaqidaen (bersatunya dua hal yang bertentangan dalam satu waktu seperti ia ada dan ia tiada dalam satu waktu), irtifaunnaqidaen (tidak adanya kedua hal yang bertentangan dalam satu waktu, seperti ia tidak ada, ia juga tidak-tidak ada dalam satu waktu) dan Tarjih bila murajjih (penguatan tanpa alat penguat, seperti dua neraca timbangan yang sama berat diharapkan salah satunya lebih berat dari lainnya). Terahir ini adalah kemustahilan nasab Baalwi bagi siapa saja yang mempercayainya. Berdasar apa ia mentarjih nasab Ba’alwi sedangkan ia tidak mempunyai alat apapun untuk mentarjihnya? Dalam ilmu mantiq yang demikian itu adalah suatu kemustahilan. Tidak akan mempercayainya kecuali orang-orang yang percaya kepada suatu hal yang mustahil.[]

Daftar Artikel soal Nasab Habib

  1. Kesalahan KH Fahrur Rozi dalam Membela Nasab Baalawi
  2. Pembelaan Kurtubi Lebak atas Nasab Baalwi
  3. Betulkah al-Sakhawi mengitsbat Nasab Baalwi? Tanggapan Kyai Imaduddin
  4. Tanggapan Kyai Imad atas Itsbat Yusuf an-Nabhani pada Nasab Baalwi
  5. Ini Makalah Kyai Imaduddin yg akan Disampaikan di UIN Jakarta bersama Prof. Dr. Said Agil Al-Munawar
  6. Nasab Ba’Alwi dalam Pandangan Ibnu Hajar al-Haitami
  7. Apakah Kitab Al-Raud al-Jali karya Al-Zabidi Dapat Dipercaya? Respons Kyai Imad pada Kyai Afifuddin
  8. Mengapa Asumsi Walisongo Keturunan Baalwi itu Tidak Benar
  9. Surat Kyai Imaduddin kepada Habib Taufik Segaf (Ketua RA)
  10. Respons KH Imaduddin Utsman pada Gus Najih Maimun
  11. Isbat Baalwi oleh Mahdi Rojai, Tanggapan Kyai Imaduddin
  12. Tanggapan atas Sanggahan Habib dari Oman
  13. Pakar DNA Yaman: Habib bukun cucu Nabi
  14. Tanggapan Kyai Imaduddin atas Habib Muhdor Jember
  15. Pemalsuan sejarah Yaman: kesaksian seorang ulama Yaman
  16. Sejarawan Yaman, Al-Barihi, Di Abad 9 H. Tidak Menyebut Ba’alwi Sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
  17. Kitab 9 Hijrah Tidak Menyebut Ba’alwi Sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
  18. Sanggahan pada Gus Najih: Dalil Perlunya Kitab Sezaman
  19. Menjawab Tuduhan Hanif Dkk Terhadap Tesis Penulis

Buku Kyai Imaduddin soal Nasab

 

Kembali ke Atas