Murtad shalat otomatis Islam

Orang Murtad Shalat Otomatis Islam Lagi dalam arti tidak perlu pembacaan syahadat secara khusus seperti layaknya orang yang baru masuk Islam?

Rasa was-was berasal dari artikel di internet

Mau tanya. Hati saya lagi gak tenang takut murtad.

1. ) Dulu awal awal nya lagi baca di internet ketemu postingan pembahasan hukum bagi penghina nabi SAW dari pembahasan itu menjelaskan tidak ada tobat bagi penghina nabi saw.

Setelah membaca itu saya jadi timbul sangat ketakutan jadi nya ada kebayang lintasan pikiran kalimat menghina nabi saw karena perasaan nya lagi ketakutan jadi otomatis akan terbayang lintasannya.

Setelah itu jadi cemas sangat sangat ketakutan saya jadi kepikiran duh takut terucap gak tenang ..

Terus semakin takut makin menjadi jadi ketakutannya takut nanti nya terucap di mulut..

Lintasan pikiran itu semakin terbayang bayang jadinya semakin ketakutan takut nantinya kedepannya terucap menghina jadinya saya waktu itu terus di bayang bayangi rasa takut trus saya bilang begini “aduh gimana ini saya sudah menghina” padahal itu sebatas lintasan aja tidak di ucapkan.

Akibat ketakutan itu saking takut nya karena selalu ada lintasan pikiran seperti itu jadi nya buat jaga jaga takut ada penghinaan nanti nya takut terucap dan takut gak ada tobat jadinya ketakutan.

Bercerita lintasan hati ke ustadz dan dianggap murtad

kemudian saya datang ke ustad yg ada di daerah saya…

Kurang lebih menyampaikan pertanyaan nya seperti ini

” ustad saya sudah menghina nabi, ada tobat gak ? ”
Kemudian ustad nya menjawab : “Ada.. ada tobat” jawab nya.

Ustad nya bertanya pada saya : menghina di mana ?

Saya jawab : “di rumah lagi ada keluarga. ”

Kemudian
Ustad nya bertanya lagi : Bentuk kalimat penghinaan nya seperti apa ?

Karena ustad nya menilai dari apa yg saya sampaikan jadinya ustad nya menyimpulkan bahwa saya murtad.

Kemudian ustad nya bilang tobat ada selagi nyawa masih ada.. dalam riwayat juga ada kisah pembunuh 100 nyawa yg tobat nya di terima.

Setelah mendengar itu baru saat itu hati merasa tenang gak usah dengerin lintasan pikiran karena ada tobat.. jadinya ketakutan nya sembuh..

Tidak menghina Nabi, hanya takut kalau menghina

Tapi yg jadi masalah *saya sebenarnya tidak menghina* tapi karena saking ketakutannya takut nantinya sudah menghina *karena di bayang bayangi lintasan itu jadinya bertanya nya mengandung pengakuan tapi sebenarnya tidak menghina* itu maksudnya bertanya karena takut ga ada tobat dan takut kalau kalau nanti nya terucap gitu.

Yg jadi Pertanyaan nya apakah bertanya nya seperti itu menjadi murtad beneran ?

2. ) kalau misal nya waktu dulu di tanya oleh ustad kalimat hinaan nya seperti apa ? Kemudian saya mencontohkan ucapan kalimat hinaan nya yg mengandung murtad (tidak berani nulis contohnya), dan waktu bertanya mengakui bilang iya saya mengatakan itu. Kemudian dari hasil keterangan yg saya sampaikan ustad nya menyimpulkan dan menghukumi saya sudah murtad. Tapi sebenarnya tidak melakukan hinaan apakah pengakuan nya di anggap dan menyebabkan murtad beneran ?

Cara Bertanya nya seperti itu karena ketakutan cemas takut kedepannya ada ucapan penghinaan karena selalu di bayangi lintasan pikiran kalimat yg tidak pantas. Jadi ada rasa khawatir takut barangkali ada penghinaan jadi mengaku nya sudah mengatakan hinaan tapi sebenarnya belum itu cuma ketakutan.

3. Bila ada seorang yg murtad ingin kembali islam tapi lupa ucap syahadat kemudian melakukan sholat nah dalam tahiyat sholat kan ada bacaan syahadat nya apakah sudah otomatis islam kembali ?

Baca: Cara konsultasi agama

JAWABAN

Bercerita lintasan hati tidak berakibat murtad

1. Tidak murtad. Kalau konteksnya bertanya tentang suatu ucapan apakah menyebabkan murtad atau tidak, maka itu dianggap bukan penghinaan melainkan bercerita. Sebagaimana ucapan talak sharih tidak berakibat talak apabila pengucapannya dalam konteks bercerita. Baca detail: Cerita Talak

Adapun tentang lintasan hati tentang perkara haram, termasuk penghinaan pada Nabi, maka hukumnya dimaafkan selagi belum diucapkan secara sengaja. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

2. Seperti dijelaskan di no. 1, bercerita dalam konteks bertanya terkait pandangan syariah itu tidak berdampak hukum sebagaimana suami bercerita talak pada istrinya.

Menjadi murtad itu tidak mudah. Menurut Imam Nawawi, seorang muslim baru dianggap murtad apabila dia sengaja melakukan itu. Baca detail: Penyebab Murtad

Orang murtad dan kafir otomatis jadi Islam kalau shalat

3. Ya, otomatis masuk Islam. Sebagaimana orang kafir yang shalat dengan benar maka ia dianggap telah masuk Islam.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk, hlm. 4/252, menjelaskan:

قال أصحابنا: وصورة المسألة إذا صلى، ولم يسمع منه الشهادتان فإن سمعتا منه في التشهد أو غيره فوجهان مشهوران: الصحيح وبه قطع الأكثرون: أنه يحكم بإسلامه. انتهى

Artinya: Ulama mazhab Syafi’i menyatakan: Apabila orang kafir atau orang murtad melaksanakan shalat sedangkan darinya tidak pernah terdengar membaca syahadat, lalu dua kalimat syahadat itu terdengar saat membaca tahiyat atau lainnya tahiyat, maka ada dua pendapat yang masyhur. Pendapat yang sahih yang diikuti oleh kebanyakan ulama adalah ia dihukumi masuk Islam.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 2/34, menyatakan:

ابن قدامة في المغني: وإذا صلى الكافر، حكم بإسلامه، سواء كان في دار الحرب أو دار الإسلام أو صلى جماعة أو فرادى. وقال الشافعي: إن صلى في دار الحرب، حكم بإسلامه، وإن صلى في دار الإسلام، لم يحكم بإسلامه ; لأنه يحتمل أنه صلى رياء وتقية. ولنا: أن ما كان إسلاما في دار الحرب كان إسلاما في دار الإسلام، كالشهادتين، ولأن الصلاة ركن يختص به الإسلام، فحكم بإسلامه به كالشهادتين. واحتمال التقية والرياء، يبطل بالشهادتين. وسواء كان أصليا أو مرتدا.

Artinya: Apabila seorang kafir shalat maka ia dihukumi Islam sama saja di Darul Harbi (negara kafir) atau Darul Islam (negara Islam). Sama saja shalat berjamaah atau sendirian. Imam Syafi’i berkata: “Apabila shalat di Darul Harbi maka dihukumi Islam, apabila shalat di Darul Islam maka tidak dihukumi Islam, karena ada kemungkinan dia shalat karena riya’ atau pura-pura. Pendapat kami (mazhab Hanbali): Yang dianggap Islam di Darul Harbi berarti Islam di Darul Islam. Sebagaimana dua kalimat syahadat. Juga, shalat itu satu rukun yang khusus untuk Islam. Maka dihukumi Islam orang yang shalat sebagaimana (orang yang membaca) dua kalimat syahadat. Bahwa ada kemungkinan riya’ dan taqiyah (pura-pura Islam), maka hal itu batal oleh syahadat dua. Sama saja dia kafir asli atau murtad.

Non-muslim dan orang murtad statusnya sama

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/29, menyatakan:

ولا فرق بين الأصلي والمرتد في هذا ; لأن ما حصل به الإسلام في الأصلي ، حصل به في حق المرتد كالشهادتين . فعلى هذا ، لو مات المرتد فأقام ورثته بينة أنه صلى بعد ردته ، حكم لهم بالميراث

Artinya: Tidak ada bedanya antara kafir asli dan orang murtad. Karena hal yang membuat orang kafir asli menjadi Islam juga berlaku pada orang murtad seperti dua kalimat syahadat. Oleh karena itu, apabila orang murtad meninggal lalu ahli warisnya menunjukkan bukti bahwa dia shalat setelah murtadnya maka mereka berhak mendapat warisan (karena pewaris dianggap sudah Islam kembali).

Baca detail: Cara Orang Murtad kembali ke Islam

Non-muslim melakukan Rukun Islam yang selain shalat tidak otomatis jadi Islam

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/29, menyatakan:

وأما سائر الأركان ، من الزكاة والصيام والحج ، فلا يحكم بإسلامه به ، فإن المشركين كانوا يحجون في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى منعهم النبي صلى الله عليه وسلم فقال : { لا يحج بعد العام مشرك . } والزكاة صدقة ، وهم يتصدقون

Artinya: Adapun (orang kafir yang melakukan) rukun Islam yang lain, seperti zakat, puasa dan haji, maka tidak dihukumi masuk Islam. Karena, orang musyrik dulunya juga beribadah haji pada zaman Rasulullah sehingga dilarang oleh Nabi sambil bersabda: Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh haji. Sedangkan zakat adalah sedekah dan orang kafir juga bersedekah.

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *