Islamiy.com

Situs konsultasi Islam online.

Tidak shalat ashar amal terhapus?

Tidak shalat ashar amal terhapus?

Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya beberapa pertanyaan :
1. Apa maksud batal/terhapusnya amal pada hadits meninggalkan shalat ashar ?
2. Apakah benar jika iseng/sekedar membaca zodiak padahal tidak mempercayainya dihukumi sama mendatangi dukun sehingga shalatnya tidak diterima 40 hari ?
3. Apakah melakukan syirik itu bearti keluar/murtad dari islam ?

Mohon dijawab ustadz, terima kasih.

JAWABAN

1. Yang anda maksud adalah hadits berikut:
Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dari Buraidah al-Aslami bahwa Rasûlullâh bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Artinya: Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar maka gugurlah amalannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnadnya

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ

Artinya: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja maka gugurlah amalannya.

Maksud hadits di atas hendaknya tidak dimaknai secara zhahir. Ibnu Battal dalam Syarah Sahih Al-Bukhari, hlm. 2/176, menyatakan:

باب من ترك العصر ، وفيه : بُرَيْدَةَ : أنه قَالَ فِي يَوْمٍ ذِي غَيْمٍ : ( بَكِّرُوا بِصَلاةِ الْعَصْرِ ، فَإِنَّ نَّبِيَّ الله قَالَ : مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ ) . قال المهلب : معناه من تركها مضيعًا لها ، متهاونًا بفضل وقتها مع قدرته على أدائها ، فحبط عمله فى الصلاة خاصة ، أى لا يحصل على أجر المصلى فى وقتها ، ولا يكون له عمل ترفعه الملائكة ” انتهى ” (2/176) .

Artinya: Menurut Al-Mihlab, maksudnya adalah siapa yang meninggalkan shalat Ashar berarti dia telah menyia-nyiakannya. Meremehakna keutamaan waktu Ashar padahal dia mampu untuk melaksanakan shalat Ashar. Maka, terhapuslah amalnya dalam shalat itu secara khusus. Yakni, ia tidak mendapat pahalanya orang yang shalat pada waktunya dan tidak memiliki amal yang diangkat oleh para malaikat.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, hlm. 2/31, menyatakan:

، : ” وَتَمَسَّكَ بِظَاهِرِ الْحَدِيثِ أَيْضًا الْحَنَابِلَةُ ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِمْ مِنْ أَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ يَكْفُرُ ، وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ , فَافْتَرَقُوا فِي تَأْوِيلِهِ فِرَقًا .

فَمِنْهُمْ مَنْ أَوَّلَ سَبَبَ التَّرْكِ , وَمِنْهُمْ مَنْ أَوَّلَ الْحَبَطَ , وَمِنْهُمْ مَنْ أَوَّلَ الْعَمَلَ فَقِيلَ : الْمُرَادُ مَنْ تَرَكَهَا جَاحِدًا لِوُجُوبِهَا , وَقِيلَ الْمُرَادُ مَنْ تَرَكَهَا مُتَكَاسِلًا ، لَكِنْ خَرَجَ الْوَعِيدُ مَخْرَجَ الزَّجْرِ الشَّدِيدِ وَظَاهِرُهُ غَيْرُ مُرَادٍ ، كَقَوْلِهِ “لَا يَزْنِي الزَّانِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ” ، وَقِيلَ الْمُرَادُ بِالْحَبَطِ نُقْصَانُ الْعَمَلِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ الَّذِي تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى اللَّهِ , فَكَأَنَّ الْمُرَادَ بِالْعَمَلِ الصَّلَاةُ خَاصَّةً , أَيْ لَا يَحْصُلُ عَلَى أَجْرِ مَنْ صَلَّى الْعَصْرَ وَلَا يَرْتَفِعُ لَهُ عَمَلُهَا حِينَئِذٍ , وَقِيلَ الْمُرَادُ بِالْعَمَلِ فِي الْحَدِيثِ عَمَلُ الدُّنْيَا الَّذِي يُسَبِّبُ الِاشْتِغَالَ بِهِ تَرْكُ الصَّلَاةِ , بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يَنْتَفِعُ بِهِ وَلَا يَتَمَتَّعُ , وَأَقْرَبُ هَذِهِ التَّأْوِيلَاتِ قَوْلُ مَنْ قَالَ : إِنَّ ذَلِكَ خَرَجَ مَخْرَجَ الزَّجْرِ الشَّدِيدِ وَظَاهِرُهُ غَيْرُ مُرَادٍ , وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Artinya: Mazhab Hanbali berpedoman pada zhahirnya hadits dan ulama yang berpendapat dengan pandangan mereka bahwa peninggal shalat itu kafir. Sedangkan jumhur ulama mentakwil hadis ini (menafsiri dengan makna lain). Isi takwil bermacam-macam. Antara lain, takwil sebab sebab meninggalkan shalat, sebagian mentakwil terhapusnya amal, sebagian mentakwil sebagai amal. Dikatakan, yang dimaksud adalah orang yang tidak shalat dengan menyangkal atas wajibnya. Pendapat lain, tidak shalat karena malas. Akan tetapi ancaman keras ini bukanlah yang dimaksud. Sebagaimana sabda Nabi: “Pezina tidak berzina dalam keadaan mukmin.” Sebagian pendapat menyatakan, yang dimaksud dengan ‘terhapus’ adalah kurangnya pahala amal pada waktu diangkatnya amal pada Allah. Maka, seakan yang dimaksud dengan amal adalah shalat secara khusus. Yakni, orang itu tidak mendapat pahala orang yang shalat Ashar dan amalnya saat itu tidak diangkat (oleh malaikat). Pendapat lain, yang dimaksud amal dalam hadits itu adalah amal duniawi yang menyebabkan dia meninggalkan shalat. Dalam arti, hal duniawi itu tidak bermanfaat baginya dan tidak dapat dinikmati. Penafsiran terdekat adalah pendapat: bahwa ancaman keras itu tidak dapat ditafsiri secara zahirnya. Wallahu a’lam.

Baca juga: Tiga hal penyebab murtad

Kesimpulan: Maksud hadis itu tidak sebagaimana yang tersurat, melainkan dikhususkan bagi mereka yang tidak shalat dan menganggapnya tidak wajib. Adapun bagi yang tidak shalat dan masih menganggapnya wajib, maka dia berdosa dan tidak mendapatkan pahala shalat pada saat itu.

Baca detail:
Shalat 5 Waktu
Hukum Tidak Shalat
Pahala Orang Murtad yang Taubat

 

Tidak shalat ashar amal terhapus?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas