Hukum berobat pada dukun ahli sihir

Hukum berobat pada dukun ahli sihir

Apa hukum mendatangi dukun ahli sihir (orang pintar) dengan tujuan untuk berobat?

JAWABAN

Berobat pada ahli sihir untuk menyembuhkan serangan sihir atau santet hukumnya ada ikhtilaf ulama antara mubah dan makruh.

Terkait sihir Al-Quran berfirman dalam QS Al Baqarah 2:102

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).
Al-Qurtubi[1] dalam Tafsir Al-Qurtubi, hlm. 2/48, dalam menafsiri ayat di atas menyatakan:

واختلفوا هل يسأل الساحر حل السحر عن المسحور ، فأجازه سعيد بن المسيب على ما ذكره البخاري ، وإليه مال المزني وكرهه الحسن البصري . وقال الشعبي : لا بأس بالنشرة . قال ابن بطال : وفي كتاب وهب بن منبه أن يأخذ سبع ورقات من سدر أخضر فيدقه بين حجرين ثم يضربه بالماء ويقرأ عليه آية الكرسي ، ثم يحسو منه ثلاث حسوات ويغتسل به ، فإنه يذهب عنه كل ما به ، إن شاء الله تعالى ، وهو جيد للرجل إذا حبس عن أهله .

Artinya: Ulama berbeda pendapat tentang apakah boleh meminta tukang sihir untuk menyembuhkan orang yang terkena sihir. Said bin Al Musayab membolehkan sebagaimana disebutkan oleh Al Bukhari. Begitu juga pendapat Al Muzani (ulama madzhab Syafi’i – red). Sedangkan Al-Hasan Al Bashri menghukumi makruh. Al-Sya’bi berpendapat tidak apa-apa. Ibnu Battal berkata: dalam kitab Wahab bin Mandah dikatakan hendaknya mengambil tujuh daun sidir hijau lalu ditekan di antara dua batu lalu dicampur air dan dibacakan Ayat Kursi lalu diminumkan tiga kali dan mandi dengan air itu. Maka, serangan sihir itu akan hilang insyaAllah. Ini baik bagi laki-laki apabila dapat melindungi keluarganya.

Pandangan di atas dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Haitami (ulama madzhab Syafi’i) dalam kitab Al-Zawajir dan beliau tidak menentangnya.

KESIMPULAN:

A) Apa yang anda lakukan itu bukan sihir.
B) Belajar ilmu sihir itu sendiri tidak otomatis menyebabkan syirik atau kafir atau murtad. Perlu dilihat dulu metode dan substansi pembelajarannya dan akibat yang ditimbulkannya.

[1] Al Qurtubi ulama madzhab Maliki, lahir/wafat: 1214-1273 M/- 671 H. adalah salah satu ulama pakar tafsir klasik yg sangat berpengaruh.)

Baca juga:

MASALAH TALAK SHARIH DAN KINAYAH

14a. Bisa saja kalau memang ada hubungannya. Yang jelas dan terpenting adalah keadaan suami itu sendiri ketika mengucapkan ucapan sharih tersebut.

14b. Ya, bisa.

14c. Bisa.

14d. Bisa. Apalagi ulama madzhb empat sebagiannya menganggap itu (selain kata talak) adalah ucapan kinayah.

14e. Kami sudah menjelaskan soal ini di pertanyaan anda sebelumnya. Kami kutip lagi:
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 7/294, menjelaskan perbedaan ulama 4 madzhab soal ini sbb:

قال : ( وإذا قال : قد طلقتك , أو قد فارقتك , أو قد سرحتك . لزمها الطلاق ) هذا يقتضي أن صريح الطلاق ثلاثة ألفاظ ; الطلاق , والفراق , والسراح , وما تصرف منهن . وهذا مذهب الشافعي . وذهب أبو عبد الله بن حامد , إلى أن صريح الطلاق لفظ الطلاق وحده , وما تصرف منه لا غير . وهو مذهب أبي حنيفة , ومالك , إلا أن مالكا يوقع الطلاق به بغير نية ; لأن الكنايات الظاهرة لا تفتقر عنده إلى النية . وحجة هذا القول أن لفظ الفراق والسراح يستعملان في غير الطلاق كثيرا , فلم يكونا صريحين فيه كسائر كناياته .

ووجه الأول أن هذه الألفاظ ورد بها الكتاب بمعنى الفرقة بين الزوجين , فكانا صريحين فيه , كلفظ الطلاق , قال الله تعالى : ( فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان )، وقال : ( فأمسكوهن بمعروف )، وقال سبحانه : ( وإن يتفرقا يغن الله كلا من سعته )، وقال سبحانه : ( فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحا جميلا ). وقول ابن حامد أصح ; فإن الصريح في الشيء ما كان نصا فيه لا يحتمل غيره إلا احتمالا بعيدا , ولفظة الفراق والسراح وإن وردا في القرآن بمعنى الفرقة بين الزوجين , فقد وردا لغير ذلك المعنى وفي العرف كثيرا , قال الله تعالى : (واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا)” انتهى .

Artinya: Apa suami berkata pada istrinya: “Aku talak kamu” atau “Aku pisah kamu” atau “Aku lepas kamu”, maka jatuh talak. Ini bermakna bahwa talak sharih itu ada tiga kata yaitu talak, firaq (pisah), lepas (sarah), dan kata yang berakar dari ketiganya. Ini pandangan madzhab Syafi’i. Abu Abdillah bin Hami berpendapat bahwa talak sharih hanyalah kata ‘talak’ saja, tidak yang lain. Ini madzhab Hanafi dan Maliki. Hanya saja, madzhab Maliki menyatakan bahwa talak kinayah itu jatuh talak walupun tanpa niat. Karena, kinayah yang jelas tidak memerlukan niat menurut madzhab Maliki. Alasan kata firaq dan sarah dianggap kinayah adalah karena kedua kata ini sering dipakai di selain urusan talak sehingga tidak dianggap sharih sebagaimana kata kinayah yang lain.

Argumen pendapat pertama (pandangan madzhab Syafi’i) menyatakan bahwa kata firaq dan sarah (lepas) ini terdapat dalam Al-Quran dengan konotasi arti terpisahnya antara suami istri sehingga dianggap kata sharih sebagaimana kata talak. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:229:

فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

(Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan/tasrih dengan cara yang baik)

atau dalam QS An Nisa 4:130

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِ

(Jika keduanya bercerai/firaq, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya).

Juga dalam QS 33:28

فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

(maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan/tasrih kamu dengan cara yang baik).

Ucapan Ibnu Hamid — bahwa kata pisah dan lepas termasuk kinayah — itu lebih sahih. Karena, sharih (jelas, eksplisit) itu adalah apabila diucapkan tidak mengandung arti ambigu kecuali dalam makna yang jauh. Sedangkan kata firaq (pisah) dan sarah (lepas), walaupun disebut dalam Al Quran dengan arti cerai antara suami istri, namun keduanya juga tersebut dalam makna yang lain dalam Al Quran dan juga dalam kebiasaan. Misalnya, Allah berfirman dalam QS Ali Imron 3:103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

(Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai).[end quote]

CATATAN:

– Ibnu Qudamah adalah madzhab Hanbali. Jadi, pandangannya tentang mana pandangan yang sahih dan tidak itu menurut pandangan ulama madzhab Hanbali.

– Penjelasan dari Ibnu Qudamah di atas sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan anda soal ini menurut perspektif empat madzhab karena kitab Al-Mughni adalah kitab perbandingan empat madzhab.

Baca detail: Cerai dalam Islam

Tinggalkan Balasan