Hukum mengikuti kemauan setan

Saya ingin bertanya tentang rasa was-was

Sebelumnya saya mohoh Maaf yang sebesar-besarnya kalau pertanyaan saya banyak ustadz

1. Sudah kurang lebih 2,5 tahun saya mengalami rasa was-was, rasa was-was yang saya alami itu banyak, entah di dalam shalat, wudhu mandi junub dan kehidupan sehari-hari, saya rasa semakin lama rasa was-was ini semakin berkembang, di dalam kehidupan sehari-hari saya selalu merasa apa yang saya lakukan saya mengikuti apa mau dari syaitan, karena yang saya ketahui rasa was-was itu datangnnya dari syaitan, dan di fikiran saya kalau saya mengikuti apa mau dari syaitan saya musyrik. Jadi dalam melakukan aktivitas sehari-hari saya sangat terganggu.

Contohnya kadang kalau saya mau shalat, di fikiran saya kalau saya shalat di tempat A saya mengikuti apa mau syaitan karena mungkin di tempat A saya kayak merasa takut shalat di situ, karena saya selalu berfikiran macam-macam, tapi kalau saya tidak shalat di tempat A. Saya merasa kalau saya mengikuti apa mau syaitan, misalnya saya shalat di tempat B Di situ saya merasa nyaman shalat.

Kadang saya berfikir kalau saya shalat di tempat A Saya merasa mengikuti apa mau syaitan tapi kalau saya shalat di tempat B Kalau tidak salah kadang saya juga berfikir kalau saya mengikuti apa mau syaitan, tapi kadang juga tidak dan masih banyak lagi di kehidupan saya sehari-hari saya, apa yang saya ingin lakukan saya selalu berfikir saya mengikuti apa mau syaitan, apa yang harus saya lakukan ustadz? Saya tidak tau harus mau apa lagi.

2. Sama halnya pada saat saya shalat, pada saat saya shalat dan melakukan gerakan shalat kadang di fikiran saya, saya mengikuti apa mau syaitan contoh ketika saya mau ruku kalau tidak salah saya ruku karena mengikuti apa mau syaitan pas sudah ruku langsung saya was-was karena saya tidak mau berniat seperti itu, kadang juga saya kayak tidak sadar misalnya pada saat saya rukuk kadang saya tidak sadar kalau saya rukuk karena mengikuti apa mau syaitan, padahal saya tidak mau berniat seperti itu, langsung lagi saya was-was.

Tapi saya tidak pedulikan apa yang muncul di pikiran saya waktu shalat, saya teruskan saja shalat saya sampai selesai karena saya pernah membaca kalau kita mengalami was-was tidak usah di pedulikan. Jadi saya bilang saya yakin ini tidak musyrik tapi niat saya, nanti saya mau bertanya pada konsultasi syariah, kadang juga sering muncul di pikiran saya pada saat sementara shalat apakah ini musyrik atau tidak, tapi pas selesai shalat kayaknya saya yakin kalau ini tidak musyrik. Apa yang harus saya lakukan ustadz?

3. Apakah mengikuti apa mau syaitan dengan sengaja itu musyrik atau murtad? Karena saya sering berfikir kalau saya mungkin sudah mengikuti apa mau syaitan dengan sengaja atau tidak sengaja atau saya pura-pura tidak tau tapi saya mengikuti apa mau syaitan, atau saya tidak sadar kalau saya mengikuti apa mau syaitan. intinya kalau sudah kejadian pasti saya langsung was-was.

4. Di daerah saya dulu pernah ada nabi palsu, tapi saya Cuma mendengar dari teman, entah kenapa setiap saya shalat saya selalu teringat nama nabi tersebut tapi saya berusaha melupakan nama nabi palsu tersebut dan shalat saya jadi terganggu dan tidak khusyu. Dan di pikiran saya, saya selalu was-was sepatau saya sudah menyebut nama nabi tersebut di dalam shalat saya,

contoh kata allahu akbar terganti menjadi nama nabi tersebut, saya selalu berfikiran begitu kalau lagi shalat, tapi saya bilang kalau tidak salah saya tidak punya niat untuk bilang begitu. atau saya telah menyebut nama nabi tersebut tanpa sadar tapi saya tidak punya seperti itu, atau saya telah mennyebut nama tuhan agama lain dalam shalat saya tapi saya tidak punya niat seperti itu. Tapi saya teruskan saja shalat saya sampai selesai karena saya tapi tidak punya niat seperti itu dan kalau tidak salah saya berniat saya yakin saya tidak musyrik tapi nanti saya mau bertanya ke konsultasi syariah. apa yang harus saya lakukan ustadz dengan kejadian ini? Apakah saya telah musyrik atau murtad dengan kejadian seperti ini?

5. Saya juga selalu berfikir macam-macam tentang allah, seperti menjelekkan allah, tapi saya berusaha melawan. Dan saya juga sering berfikiran macam-macam seperti kalau saya lakukan ini saya musyrik Apakah yang harus saya lakukan agar fikiran ini bisa hilang?

JAWABAN

1. Syariah Islam itu sederhana, jangan dibuat repot. Dalam perbuatan ibadah apapun, yang terpenting adalah ibadah anda sudah terpenuhi syarat dan rukunnya secara zhahir. Untuk shalat, misalnya, maka yang diperlukan adalah a) anda sudah suci dari hadas besar dan kecil; b) pakaian dan tubuh anda suci; c) tempat shalat juga suci. Apabila terpenuhi ketiga syarat ini, maka di manapun anda shalat hukumnya sah, lepas dari kewajiban dan mendapat pahala. Artinya, berarti anda mengikuti perintah Allah, bukan perintah setan. Fokuskan fikiran anda pada hal yang sederhana ini. Jangan memikir yang lain yang tidak perlu. Baca detail: Panduan shalat 5 waktu

2. Langkah anda mengabaikan pikiran was-was itu sudah benar. Teruskan fokus pada ibadah shalat anda dengan khusyu’ dan abaikan segala fikiran yang tidak terkait dengan shalat. Usahakan meresapi bacaan yang sedang anda baca dan meresapi maknanya. Misalnya, saat rukuk membaca “Subhana rabbiyal azhimi wa bihamdih” dalam hati meresapi artinya yaitu “Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan Segala Puji bagi-Nya” Baca detail: Khusyuk dalam shalat

3. Untuk mengetahui apakah anda mengikuti kehendak setan atau kehendak syariah itu mudah. Yaitu, selagi perbuatan anda secara lahiriyah sesuai dengan tuntunan syariah Islam, maka berarti anda mengikuti kehendak Allah dan Rasul-Nya. Apapun yang ada di pikiran anda. Sebaliknya, apabila perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan haram yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, maka berarti anda mengikuti kehendak setan. Walaupun dalam hati anda tidak mengatakan demikian. Contoh, ada orang melakukan zina. Maka, dia telah mengikuti mau setan. Contoh lain, ada orang yang shalat dengan baik, maka dia mengikuti kehendak syariah. Baca detail: Dasar Islam

4. Dalam shalat dilarang mengeluarkan ucapan selain yang dibolehkan. Mengucapkan kata-kata yang bukan ucapan yang dibolehkan dalam shalat hukumnya batal shalatnya. Selagi anda tidak mengucapkan kata yang membatalkan shalat, maka shalat anda sah. Tapi kalau anda sampai terucap keluar dari lisan anda ucapan yang membatalkan shalat, maka shalatnya harus diulangi. Intinya, ini kaitannya dengan batal atau tidak batal shalatnya. Bukan soal musyrik atau tidak musyrik. Baca detail: Syarat dan rukun shalat

5. Fikiran yang menjelekkan Allah, apabila itu di luar kehendak anda, maka itu disebut was-was qahriyah atau ucapan yang di luar kehendak hati. Ucapan dosa yang dilakukan di luar kehendak hati tidak menyebabkan murtad. Karna itu penyakit dan di luar kesengajaan. Nabi bersabda: “Allah memaafkan umatku yang melakukan dosa di luar kesengajaan…” (hadits sahih). Baca detail: Penderita OCD dalam Islam

Baca juga: Syarat sahnya murtad

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *