Shalat Wanita yang Tampak Sehelai Rambutnya

Shalat Wanita yang Tampak Sehelai Rambutnya atau terbuka sedikit auratnya

Wanita shalat satu helai rambut keluar sah atau batal?

Assalamualaikum wr wb .

Saya berharap email ini dibalas.

Saya mau bertanya setelah sholat isya dari masjid saya pulang kerumah dan mengqodo sholat lain. Setelah saya selesai sholat saya melihat ada 1 helai rambut keluar bagaimana sholat isya saya tadi ? karena saya baru tau keluarnya rambut setelah saya selesai mengqodo sholat magrib

JAWABAN

Pendapat mazhab Syafi’i: Shalatnya batal

Menurut mazhab Syafi’i, shalatnya orang yang terlihat auratnya walaupun sedikit batal shalatnya dan harus mengulangi.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/166, menjelaskan:

ستر العورة شرط لصحة الصلاة، فإن انكشف شيء من عورة المصلي لم تصح صلاته، سواء أكثر المنكشف أم قل وكان أدنى جزء، وسواء في هذا الرجل والمرأة، وسواء المصلي في حضرة الناس والمصلي في الخلوة، وسواء صلاة النفل والفرض والجنازة والطواف وسجود التلاوة والشكر، ولو صلى في سترة ثم بعد الفراغ علم أنه كان فيها خرق تبين منه العورة وجبت إعادة الصلاة على المذهب، سواء كان علمه ثم نسيه، أم لم يكن علمه” انتهى 

Artinya: “Menutup aurat itu salah satu syarat sahnya shalat. Apabila terbuka sedikit dari aurat orang yang shalat maka tidak sah shalatnya. Sama saja banyak atau sedikit terbukanya. Yang terbuka itu bagian yang paling rendah. Sama saja laki-laki atau perempuan. Sama saja di depan banyak orang atau sendirian. Sama saja shalat sunnah, fardhu, shalat jenazah, tawaf, sujud tilawah atau sujud syukur. Apabila shalat dalam keadaan tertutup auratnya lalu setelah rampung shalat tahu bahwa ada yang sobek pakaiannya sehingga terlihat auratnya maka wajib mengulangi shalat menurut pandangan mazhab. Sama saja dia tahu lalu lupa atau tidak tahu.”

Baca juga: Terlihat aurat saat sujud shalat

Pendapat mazhab Hanbali dan Hanafi: Shalatnya sah (tidak batal)

Menurut mazhab Hanbali dan Hanafi, shalatnya sah alias tidak batal dan tidak perlu mengulang. Walaupun aurat sedikit yang terbuka itu terbuka dalam waktu lama.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan:

فَإِنْ انْكَشَفَ مِنْ الْعَوْرَةِ يَسِيرٌ. لَمْ تَبْطُلْ صَلاتُهُ نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : تَبْطُلُ لأَنَّهُ حُكْمٌ تَعَلَّقَ بِالْعَوْرَةِ , فَاسْتَوَى قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ, كَالنَّظَرِ

Artinya: “Apabila terbuka sedikit auratnya, maka tidak batal shalatnya sebagaimana pendapat Imam Ahmad bin Hanbal (mazhab Hanbali) dan Abu Hanifah (mazhab Hanafi). Imam Syafi’i berkata: Batal shalatnya karena berkaitan dengan aurat yang sama statusnya antara sedikit dan banyak. Sebagaimana melihat (yakni, melihat sedikit atau banyak sama hukumnya).”

Baca juga: Shalat pakai sarung berlubang tanpa sadar, bagaimana hukumnya?

Al-Bahuti dalam Kasyaful Qina ‘an Matnil Iqna’ (mazhab Hanbali), hlm. 1/269, menyatakan:

ولا تبطل الصلاة بكشف يسير من العورة بلا قصد …ولو كان الانكشاف اليسير في زمن طويل ، وكذا لا تبطل الصلاة إن انكشف من العورة شيء كثير في زمن قصير , فلو أطارت الريح سترته عن عورته , فظهر منها ما لم يُعْفَ عنه لو طال زمنه لفُحْشه ولو كان الذي انكشف كل العورة ، فأعادها سريعاً بلا عمل كثير لم تبطل صلاته , لقصر مدته أشبه اليسير في الزمن الطويل ، فإن احتاج في أخذ سترته لعمل كثير بطلت صلاته ” انتهى .

Artinya: “Tidak batal shalat orang yang terbuka auratnya sedikit tanpa sengaja.. walaupun terbuka yang sedikit itu lama. Begitu juga tidak batal shalat orang yang terbuka banyak dari auratnya tapi dalam waktu sebentar. Apabila angit menerbangkan penutup aurat, lalu tampak aurat yang tidak dimakfu apabila lama walaupun yang terbuka seluruh auratnya, lalu ia segera mengembalikan kain penutupnya tanpa gerakan yang banyak, maka tidak batal shalatnya; karena waktu yang sebentar itu serupa dengan terbuka aurat sedikit dalam waktu lama. Apabila ia butuh waktu lama untuk menutup aurat maka batal shalatnya.”

Kesimpulan

  1. Terbukanya aurat waktu shalat membatalkan shalat walaupun yang terbuka hanya sedikit. Ini pendapat mazhab Syafi’i.
  2. Aurat yang terbuka apabila sedikit tidak membatalkan shalat walaupun dalam waktu lama. Ini pendapat mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi.
  3. Muslim penganut mazhab Syafi’i boleh ikut pendapat kedua apabila diperlukan.
  4. Namun, idealnya ke depannya agar lebih berhati-hati dalam menjaga aurat berdasarkan pandangan mazhab Syafi’i.

Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

You may also like
Latest Posts from Islamiy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *