Bermuka dua demi etika sosial apakah munafik?

Bermuka dua demi etika sosial apakah munafik?

Assalamualaikum ustad, kali ini saya ingin menceritakan ustad tentang kehidupan saya

Saya adalah orang yang introvert dan pemalu, yang berarti saya terbiasa bermuka dua, saya bersikap sopan saat bertemu dengan orang asing dan bersikap terbuka saat bersama dengan orang dekat, dan ini mengkhawatirkan saya, karena saya khawatir bahwa ini sifat sifat orang munafik, yang menunjukkan kealiman didepan orang lain dan melakukan kemungkaran saat bersendirian, saya mengaku bahwa sebelumnya saya melakukan berbagai perbuatan dosa, baik yang besar maupun yang kecil, dan merasa bangga dengan diriku karena saya merasa telah menemukan sifat diriku, bahwa beginilah diriku.

Baca juga: Taubat dari pikiran kufur

Namun seiring berjalannya waktu saya pun sadar bahwa saya telah dibodohi,dan sekarang saya merasa ingin menyesal dan menangis karena sifat diriku ini,bahkan tak jarang saya menemukan hadits yang saya rasa seperti mengancam eksistensi diri saya ini, seperti “sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang bermuka dua”, atau juga dengan hadits Tsauban yang menjelaskan bahwa akan datang orang-orang yang membawa kebaikan sebesar gunung tihamah,namun Allah meniupnya menjadi debu yang berterbangan. Saya kadang-kadang merasa takut terhadap hadits-hadits ini,karena saya merasa hadits ini seperti mencerminkan sifat saya ini, saya mengakui bahwa saya sering berbuat dosa disaat sendiri, dan sebelumnya kesadaran akan agama saya belum bangkit jadi saya melakukan dosa tersebut dengan merasa biasa saja,tetapi sekarang saya menyesalinya dan akhir-akhir ini mencoba memperbanyak amalan yang sebelumnya tidak saya lakukan.

Saya ingin bertaubat dan menyesali sifat saya yang sebelumnya. Namun terkadang saya ragu dan takut karena saya masih melakukan perbuatan dosa yang biasa saya lakukan, saya takut akan sifat-sifat yang terdapat pada diri saya sendiri, saya adalah orang yang bisa dibilang bermuka dua, gemar memendam perasaan, apabila dipuji saya akan merasa bangga terhadap diri saya dan saya takut akan menjadi sombong, apabila melakukan amalan didepan orang lain saya takut akan riya, saya orang yang mudah terbawa suasana sampai bisa melakukan dosa tanpa disadari, saya orang yang sangat emosional akan hal hal tertentu, dan juga suka berkata bohong demi keselamatan diri sendiri,atau juga mengkhianati sesama tanpa saya sadari, dan saya juga memiliki hawa nafsu yang lumayan besar, pikiran saya kadang memikirkan hal-hal kotor dan sesat,hati saya kadang mengutuk hal-hal lain,dan masih banyak lagi. Ini merupakan sifat saya yang hampir tidak mungkin saya lepaskan.

Di sisi lain,saya masih ingin mendapat kesempatan untuk berbuat kebaikan, saya ingin memperbaiki diri saya untuk menjadi lebih baik, namun saya bukanlah hafizh atau penghafal qur an, saya juga masih shalat dirumah saat melaksanakan shalat fardu, saya belum bisa seperti orang yang gemar ke majelis ilmu, saya belum bisa duduk dan membaca al quran selama berjam jam, saya belum bisa menyedekahkan harta yang banyak, iman yang saya miliki masih tergolong sangat lemah karena betapa mudahnya diriku tergoda syetan. saya juga masih belum bisa menjauhi semua perbuatan yang dilarang oleh agama, ilmu agama yang saya miliki masih sangat sedikit sehingga iman saya mudah sekali untuk tergoyahkan, dan saya juga belum biasa senantiasa ber istiqomah di jalan Allah. yang bisa saya lakukan hanyalah melakukan ibadah atau amalan yang dianjurkan seperti shalat sunnah dan berdzikir dengan mengharap pahala dari amalan tersebut,namun saya merasa terhalangi karena sifat-sifat diri saya ini yang saya sebutkan diatas. Saya takut untuk berbuat kebaikan didepan orang lain,saya takut untuk mengingatkan orang lain untuk berbuat kebaikan sedangkan saya sendiri masih melakukan kemungkaran. Saya kadang juga merasa bahwa amalan saya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa yang saya perbuat sehingga saya memaksakan diri saya sendiri yang dikhawatirkan berujung menjadi tertolak karena tidak ikhlas melakukannya

Baca juga: Ucapan semua agama mengajarkan kebaikan

Faktor lain yang menjadikan diri saya seperti ini adalah lingkungan kehidupan saya,seperti tempat tinggal,keluarga,serta teman-teman saya, ada kalanya mereka mengajak untuk berbuat kebaikan,dan ada kalanya mereka mengajak berbuat keburukan, begitulah mereka, istilahnya seperti setengah sesat setengah benar, dan saya menganggap mereka sebagai orang-orang yang tak bisa digantikan, meskipun mereka berbuat keburukan,mereka masih bisa berbuat kebaikan,baik itu ditunjukkan ataupun tidak. menurut saya mereka juga menjadi alasan terbentuknya diriku, oleh karena itu,saya masih ingin percaya bahwa keburukan dan sifat yang kubawa ini bisa menuntunku kembali, saya bisa menjadi seperti ini karena mereka, mereka mungkin bisa menyesatkan, namun saya tidak ingin berpisah dari mereka dan menjauhi mereka,karena mereka adalah keluarga serta teman-teman saya yang berharga bagi saya dan berperan penting dalam kehidupan saya.

Saya ingin ridho bahwa semua faktor lingkungan, sifat yang saya bawa,dan perbuatan yang saya lakukan adalah takdir dari Allah SWT bagiku, umur saya masih sangat muda namun Allah SWT telah merubah kehidupanku berkali-kali,ia telah membolak-balikkan perasaanku berkali-kali, saya ingin menerima bahwa seperti inilah saya dilahirkan,seperti inilah saya dibesarkan,dan seperti inilah sifat dari diri saya, saya masih ingin meyakini bahwa saya tidak akan dilempar ke neraka dikarenakan takdir ini.karena saya ingin percaya bahwa Tuhanku adalah maha pengampun,maha pemurah,maha pengasih lagi maha penyayang yang tidak akan membebani seorang hamba diluar kemampuannya.

Saya belum bisa bertaubat dengan sempurna dikarenakan saya yakin saya masih akan melakukan hal tersebut kembali,mungkin ada beberapa hal yang bisa saya jauhi secara total dengan mudah, namun masih ada juga hal-hal yang sudah menjadi sulit sekali bahkan hampir tidak mungkin untuk dijauhi bagi saya, jadi saya memutuskan untuk terus beristighfar setiap hari.

1. Apakah saya termasuk orang munafik yang diancam dengan berbagai hadits tersebut?

2. Apa yang sebaiknya kulakukan untuk kedepannya ustad?

3.Adakah amalan mudah yang bisa dilakukan saya yang bisa menghapus bahkan dosa besar sekalipun dan mendapat pahala yang sangat besar selain dengan bertaubat?

terimakasih telah membaca dan mohon jawaban serta sarannya ustad

JAWABAN

1. Tidak termasuk. Orang munafik yang diancam dalam hadis tersebut adalah orang munafik yang menampakkan islam padahal kafir. Gambaran orang munafiq disebut dalam QS Al-Baqarah ayat 8 sampai 20

﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ * يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ * فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ * وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ * أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ * وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ * وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ * مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ * صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ * أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ * يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾

Pada QS 2:8 jelas dinyatakan: Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (2:8)

2. Berusaha maksimal melaksanakan kewajiban dan menjauhi yang haram. Dan selalu berusaha bertaubat atas perbuatan dosa yang dilakukan. Apapun dosa kita, Allah akan mengampuni selagi kita selalu bertaubat. Walaupun setelah bertaubat itu ternyata kita mengulang lagi suatu dosa. Baca detail:

3. Ada. Yaitu dengan selalu melaksanakan kewajiban agama dan menjauhi perkara yang diharamkan agama.

Pada dasarnya tidak ada dosa besar yang tidak diampuni. Selagi anda bertaubat, maka anda diampuni. Bahkan dosa syirik sekalipun. Baca detail: Dosa Murtad dan Syirik Tidak Diampuni?

CATATAN

Karena anda tampaknya sedang memiliki semangat beragama, maka dua hal yang harus diingat:
a) Belajar agama pada kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mainstream. Di Indonesia, belajarlah pada para ustadz, ulama dan kyai dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama). Sering-sering buka situs nu.or.id. Baca detail: Daftar Situs Aswaja

b) Hindari belajar agama dari ulama Salafi/Wahabi atau HTI. Agar was-was anda tidak semakin menjadi-jadi. Baca detail: Beda Wahabi, HTI, Jamaah Tabligh dan Syiah

Tinggalkan Balasan